Harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah sejumlah analis mengamati munculnya sinyal teknikal yang mulai mengarah pada potensi penguatan.
Meski demikian, mereka menilai kenaikan yang lebih besar belum dapat dipastikan sebelum BTC berhasil menembus level resistance penting yang selama ini membatasi pergerakan harga. Selama hambatan tersebut belum dilewati, risiko tekanan jual masih tetap membayangi.
Sejumlah indikator teknikal dan data on-chain juga menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase yang penuh kehati-hatian.
Di satu sisi, struktur harga mulai membaik dan berhasil keluar dari pola konsolidasi jangka pendek. Namun di sisi lain, minimnya arus modal baru dan dominasi tekanan jual di pasar derivatif membuat peluang reli besar masih membutuhkan konfirmasi tambahan.
Level US$66.000 Dinilai Jadi Penentu Lanjutan Reli Harga Bitcoin
Analis Don menilai struktur teknikal harga Bitcoin pada grafik empat jam mulai menunjukkan perkembangan yang positif setelah mampu mempertahankan area support dan kembali mendekati resistance penting.
Menurutnya, peluang kenaikan akan semakin terbuka apabila BTC berhasil menembus level US$66.000, yang menjadi batas utama untuk mengonfirmasi kelanjutan tren naik.

Pada grafik yang dibagikannya, Don menyoroti area US$63.964 sebagai resistance awal yang sedang diuji. Jika level tersebut berhasil ditembus, target berikutnya berada di kisaran US$65.335, sebelum akhirnya menguji area psikologis US$66.000.
Di sisi bawah, support penting berada di sekitar US$62.038, yang dinilai perlu dipertahankan agar struktur higher low tetap terjaga.
Selain resistance horizontal, Bitcoin juga masih bergerak di bawah garis tren turun jangka menengah. Karena itu, keberhasilan menembus US$66.000 tidak hanya akan menghapus hambatan resistance, tetapi juga berpotensi mematahkan tren turun yang telah membatasi pergerakan harga selama beberapa waktu terakhir.
Sebaliknya, jika kembali gagal menembus area tersebut dan kehilangan support US$62.038, tekanan jual berpotensi meningkat sehingga membuka peluang koreksi menuju area support yang lebih rendah.
Kenaikan Bitcoin Dinilai Baru Relief Rally, Bukan Awal Tren Baru
Pandangan yang lebih berhati-hati datang dari analis Niels. Ia mengamati bahwa harga Bitcoin memang telah berhasil mencatatkan breakout jangka pendek dari pola konsolidasi kecil yang terbentuk dalam beberapa pekan terakhir. Namun, menurutnya, pergerakan tersebut belum cukup kuat untuk disebut sebagai awal bull run baru.

Niels menilai kenaikan yang terjadi saat ini lebih tepat dikategorikan sebagai relief rally, yaitu penguatan sementara setelah tekanan jual mulai mereda. Ia masih melihat area US$66.000–67.000 sebagai resistance utama yang harus ditembus agar struktur teknikal berubah menjadi lebih positif.
Di sisi lain, area US$60.061 masih berfungsi sebagai support penting yang sejauh ini mampu menahan penurunan harga. Meski demikian, BTC juga masih diperdagangkan di bawah EMA 200 yang berada di sekitar US$70.555 dan SMA 200 di kisaran US$72.539.
Kondisi tersebut membuat Niels berpendapat bahwa tren jangka panjang belum sepenuhnya berbalik menjadi bullish.
Bahkan, ia masih mempertahankan proyeksi bearish dalam beberapa waktu ke depan. Menurutnya, pasar masih berpotensi mengalami kapitulasi terakhir berupa aksi jual besar-besaran sebelum membentuk dasar siklus baru.
Dalam skenario tersebut, harga Bitcoin dinilai masih memiliki peluang turun hingga mendekati US$55.000 sebelum memulai fase pemulihan yang lebih berkelanjutan.
Data On-Chain Ungkap Alasan Reli Bitcoin Masih Tertahan
Sementara itu, analis PelinayPA di CryptoQuant melihat kondisi on-chain Bitcoin masih mencerminkan pasar yang belum memiliki dorongan kuat untuk melanjutkan kenaikan.
Ia mengamati bahwa indikator Taker Buy Sell Ratio menunjukkan pesanan jual di pasar futures Binance masih sedikit lebih dominan dibandingkan pesanan beli, sehingga setiap kenaikan harga berpotensi menghadapi tekanan jual.

Selain itu, Stablecoin Supply Ratio (SSR) yang meningkat ke level 11,58 mengindikasikan likuiditas stablecoin di pasar masih relatif terbatas dibandingkan dengan pasokan Bitcoin. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya beli baru belum cukup kuat untuk mendorong reli yang lebih besar.
Di sisi lain, indikator Short Term Holder SOPR memperlihatkan investor jangka pendek saat ini berada di sekitar harga modal rata-ratanya. Situasi tersebut menandakan belum adanya aksi ambil untung maupun jual rugi dalam skala besar, sehingga pelaku pasar masih cenderung menunggu arah pergerakan berikutnya.
“Harga Bitcoin bergantung pada modal baru dan rasio beli kembali di atas satu,” ungkapnya.
Juga, selama aliran modal segar belum masuk dan Taker Buy Sell Ratio belum kembali berada di atas level 1, akan sulit bagi harga Bitcoin membangun momentum kenaikan yang kuat. Oleh sebab itu, struktur pasar saat ini masih mencerminkan sikap hati-hati dengan arah pergerakan yang belum benar-benar pasti.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


