Harga Bitcoin tetap bertahan di sekitar US$64.000 setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga dalam rapat FOMC. Kini, perhatian pasar beralih pada satu pertanyaan, apakah reli menuju US$70.000 masih berpeluang berlanjutÂ
FOMC Berlalu, Bitcoin Tenang Saat The Fed HawkishÂ
Sehari sebelum hasil FOMC diumumkan, analis Michaël van de Poppe menilai Bitcoin mencatat pantulan yang solid setelah tertekan. Menurutnya, kepanikan pasar menjelang rapat The Fed kemungkinan sudah tercermin dalam pergerakan harga.
Ia juga menyoroti munculnya long wick pada pasar saham Korea Selatan yang dianggap sebagai indikasi bahwa area terendah mulai terbentuk. Dari sudut pandangnya, Nasdaq dan Bitcoin berpotensi kembali bergerak menguat secara bersamaan.
“Bitcoin mencatat pantulan yang sangat solid. Saya memperkirakan reli akan berlanjut dari titik ini, mengingat Bitcoin masih menunjukkan performa yang cukup kuat,” tulis Van de Poppe di X, Rabu (29/07/2026).

Prediksi tersebut kemudian diuji ketika The Fed mengumumkan hasil rapat FOMC pada hari yang sama. Bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan di 3,5 hingga 3,75 persen, sesuai ekspektasi pasar, meski tiga anggota FOMC menginginkan kenaikan sebesar 25 bps.
The Fed juga menegaskan bahwa aktivitas ekonomi AS masih solid, sementara inflasi berada di atas target dua persen. Meski hawkish, keputusan tersebut tidak memicu gejolak besar. Bitcoin pun tetap bergerak stabil di kisaran US$63.000 hingga US$64.000.
Secara teknikal, BTC bergerak di dekat area US$64.500 yang menjadi resistance level jangka pendek. Sementara itu, zona US$60.876 hingga US$58.115 menjadi support utama yang perlu dipertahankan agar struktur tren kenaikan tetap terjaga.
Data On-Chain Perkuat Optimisme Meski BTC Terkonsolidasi
Tak hanya Van de Poppe, analis Axel Adler Jr juga melihat kondisi pasar yang relatif sehat. Menurutnya, data arus Bitcoin ke exchange tidak menunjukkan tanda-tanda distribusi besar yang biasanya muncul menjelang penurunan tajam.
“Bitcoin diperdagangkan di US$64.000 dan terlihat lemah. Namun, data arus ke bursa tidak menunjukkan aksi jual besar ataupun kekurangan pasokan. Arus masuk ke exchange berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir, sementara netflow berada di sekitar titik nol,” tulisnya di X, Rabu (29/07/2026).

Kondisi tersebut menunjukkan investor belum berbondong-bondong mengirim Bitcoin ke bursa untuk dijual. Di sisi lain, belum terjadi kelangkaan pasokan yang cukup besar untuk mendorong harga melonjak dalam waktu singkat.
Pandangan itu sejalan dengan analisis Woo Minkyu yang dibagikan CryptoQuant. Berdasarkan data yang dirilis pada Rabu (29/07/2026), pola koreksi kali ini berbeda dari fase kapitulasi pada umumnya dan justru mengindikasikan akumulasi oleh investor jangka panjang.
“Pada kapitulasi, aset kripto umumnya mengalir deras ke bursa untuk dijual. Sebaliknya, selama koreksi ini, mayoritas investor justru menarik Bitcoin ke dompet pribadi , yang menjadi sinyal niat menyimpan dalam jangka panjang, bukan mendistribusikannya,” tutur Minkyu.
Grafik juga menunjukkan cadangan Bitcoin di seluruh crypto exchange cenderung menurun dalam enam bulan terakhir. Sementara itu, exchange netflow terus bergerak di sekitar titik keseimbangan, menandakan tekanan jual belum menjadi tema utama pasar saat ini.

Bisakah Bitcoin Melanjutkan Reli Menuju US$70.000?
Jika ketiga analisis digabungkan, muncul satu benang merah yang cukup jelas. Para analis tidak melihat adanya kepanikan besar maupun distribusi masif yang biasanya menjadi pertanda awal tren turun berkepanjangan.
Hasil FOMC yang sesuai ekspektasi juga menghilangkan sumber ketidakpastian terbesar di pasar. Respons harga Bitcoin yang tetap stabil setelah pengumuman tersebut menunjukkan bahwa skenario terburuk sejauh ini belum terjadi.
Meski demikian, peluang menuju US$70.000 belum sepenuhnya terbuka. Dari analisis teknikal, Bitcoin perlu merebut area US$65.000 hingga US$66.000 sebelum berpeluang melanjutkan kenaikan menuju US$68.000.
Jika area tersebut ditembus dengan dukungan volume yang kuat, target psikologis US$70.000 akan semakin realistis. Sebaliknya, apabila harga BTC kembali kehilangan support di US$60.876, tekanan jual berpotensi membawanya menguji area US$58.115.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


