Harga Bitcoin Terancam Crash? Berpeluang Turun ke US$40 Ribu Sebelum Meledak

Harga Bitcoin dinilai masih berpeluang mengalami koreksi tajam sebelum melanjutkan reli jangka panjang.

Analis teknikal Aralez memproyeksikan aset kripto terbesar itu dapat turun hingga kisaran US$40.000 setelah terlebih dahulu menguji area US$71.000, sebelum akhirnya bangkit menuju level yang jauh lebih tinggi pada siklus berikutnya.

Proyeksi tersebut muncul di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap struktur pasar Bitcoin. Selain sinyal teknikal, sejumlah indikator on-chain juga mulai menunjukkan adanya peningkatan aktivitas distribusi oleh investor besar atau whale, sehingga memunculkan risiko koreksi apabila tekanan jual terus bertambah.

Harga Bitcoin Diprediksi Turun ke US$40 Ribu Sebelum Cetak Rekor Baru

Dalam peta jalan pasar yang dibagikan untuk periode 2026–2027, Aralez memperkirakan harga Bitcoin akan bergerak dari sekitar US$64.000 menuju US$71.000 sebagai target kenaikan jangka pendek.

Area tersebut dipandang sebagai resistance penting sekaligus potensi titik pembalikan apabila tekanan jual mulai meningkat.

BTC Analisis 8 jul

Setelah mencapai zona tersebut, Aralez memperkirakan Bitcoin berpotensi mengalami flash crash yang membawa harga turun menuju kisaran US$40.000. Pada grafik yang dibagikannya, area US$39.000 hingga US$49.000 ditandai sebagai zona support utama yang berpotensi menjadi titik dasar pergerakan atau bottom.

Ia juga menyoroti keberadaan area Fair Value Gap (FVG) di sekitar US$80.000 hingga US$83.000 sebagai level teknikal yang masih relevan dalam struktur pasar. Namun, dalam skenario utamanya, Bitcoin diperkirakan belum langsung menuju area tersebut sebelum mengalami koreksi besar terlebih dahulu.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  Bitcoin Crash! Ternyata Ada Sinyal Besar yang Sudah Muncul Jauh Sebelumnya

Apabila skenario tersebut terjadi dan Bitcoin berhasil membentuk dasar di sekitar US$40.000, Aralez memperkirakan tren naik berikutnya dapat membawa harga Bitcoin menuju US$93.000.

Setelah itu, aset ini diproyeksikan kembali menguji rekor tertinggi sebelumnya di sekitar US$126.000, sebelum berpeluang melanjutkan kenaikan ke target jangka panjang di kisaran US$140.000.

Pada saat artikel disusun, BTC diperdagangkan di sekitar US$62.955, setara Rp1,12 miliar. Dalam 24 jam terakhir, nilainya terkoreksi sekitar 1,23 persen, namun masih mencatat kenaikan sekitar 7,09 persen dalam sepekan terakhir.

Whale Mulai Melepas Bitcoin Saat Reli

Sementara itu, analis Crazzyblockk di CryptoQuant menilai reli Bitcoin saat ini lebih banyak didorong oleh aktivitas pasar derivatif dibandingkan pembelian di pasar spot. Menurutnya, kondisi tersebut membuat struktur kenaikan menjadi lebih rapuh apabila terjadi tekanan jual dalam waktu dekat.

BACA JUGA:  XRP Siap Kalahkan Ethereum, Analis Prediksi Lonjakan Harga Menuju US$10

BTC FRRS

Ia menjelaskan bahwa Funding Rate Regime Score (FRRS) menunjukkan biaya pendanaan kontrak perpetual telah berbalik ke fase yang didominasi posisi beli (long).

Kondisi tersebut mengindikasikan banyak trader ritel membuka posisi long dengan biaya yang semakin mahal, sementara dorongan pembelian di pasar spot justru belum menunjukkan penguatan yang sepadan.

BTC LIR

Di sisi lain, indikator Leverage Intensity Ratio (LIR) memperlihatkan Open Interest terus meningkat ketika volume perdagangan spot justru melemah. Menurut Crazzyblockk, situasi ini menunjukkan kenaikan harga lebih banyak ditopang oleh penggunaan leverage dibandingkan permintaan riil terhadap Bitcoin.

BTC NFI

Aktivitas pasokan ke bursa juga disebut mulai meningkat. Berdasarkan indikator Net Flow Indicator (NFI), lebih banyak Bitcoin dipindahkan ke Binance sehingga tekanan jual dinilai semakin tinggi.

Perpindahan aset ke dompet bursa dianggap berbeda dengan pola akumulasi yang biasanya ditandai dengan perpindahan Bitcoin ke cold storage.

Bitcoin IWCR Whale

Selain itu, Inflow Whale Concentration Ratio (IWCR) menunjukkan konsentrasi setoran Bitcoin dari alamat-alamat whale ke bursa ikut meningkat. Kondisi tersebut mengindikasikan investor besar memanfaatkan reli yang didorong leverage untuk mendistribusikan kepemilikannya kepada pelaku pasar yang agresif membuka posisi beli.

BACA JUGA:  Kripto Hari Ini 12 Juni 2026: PEPE dan DOGS Dalam Pantauan, Siap Meledak?

“Para smart money secara aktif memanfaatkan lonjakan harga derivatif ini untuk mendistribusikan dana spot kepada pembeli ritel yang memiliki utang berlebih,” ungkap Crazzyblockk.

Menurutnya, kombinasi posisi long yang terlalu padat, melemahnya volume spot, serta meningkatnya distribusi oleh whale sering kali menjadi sinyal terbentuknya puncak harga dalam jangka pendek sebelum pasar mengalami koreksi yang lebih dalam.

Apabila pola tersebut kembali berulang, maka potensi penurunan harga Bitcoin dalam waktu dekat dinilai masih perlu diwaspadai, meskipun prospek jangka panjang tetap terbuka apabila fase koreksi berhasil membentuk fondasi bagi tren kenaikan berikutnya.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait