Harga Bitcoin kembali menghadapi ancaman koreksi lebih dalam, di mana analis kripto Aralez melihat struktur pergerakan BTC saat ini hampir mengulangi pola penurunan pada siklus 2022.
Berdasarkan grafik bulanan pair BTC/USDT, tekanan bearish berpotensi membawa aset kripto terbesar itu menuju zona US$35.000-US$45.000 apabila pelemahan berlanjut dan struktur kanal jangka panjang kembali menjadi tujuan harga.
Aralez menyampaikan pandangan tersebut ketika BTC diperdagangkan di sekitar US$64.000. Menurutnya, pasar masih berada dalam skenario bearish meski sebagian pelaku pasar mulai menganggap kawasan US$57.000 sebagai kandidat dasar atau bottom baru.
Ia menilai tekanan jual dari pemegang besar masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan, sementara struktur pergerakan sejak puncak siklus 2025 menunjukkan kemiripan dengan fase setelah Bitcoin mencapai puncak pada 2021.
Harga Bitcoin Akan Mengulang Sejarah? Akhir Ceritanya Bisa di US$35 Ribu
Grafik yang dibagikan Aralez memperlihatkan Bitcoin bergerak dalam ascending channel makro yang terbentuk sejak beberapa tahun terakhir. Pada siklus sebelumnya, BTC mencapai puncak 2021 sebelum kehilangan momentum, menembus bagian tengah channel dan akhirnya menemukan dasar pada 2022 di kisaran US$15.000-US$16.000.

Struktur serupa kini menjadi perhatian setelah BTC membentuk puncak siklus 2025 di atas US$120.000 dan kemudian berbalik turun. Setelah pelemahan tersebut, harga sempat bergerak di sekitar US$70.000 sebelum kembali tertekan menuju kawasan US$60.000-an.
Dalam skenario Aralez, US$57.000 menjadi salah satu level penting karena kawasan tersebut mulai dipandang sebagian pasar sebagai kandidat bottom. Namun, kegagalan mempertahankan area itu dapat membuka ruang koreksi menuju batas bawah channel.
Zona US$35.000-US$45.000 kemudian menjadi sasaran bearish utama sekaligus area yang diproyeksikan Aralez sebagai kandidat bottom pada 2026. Dengan demikian, proyeksi tersebut mengindikasikan risiko penurunan yang masih besar apabila harga Bitcoin gagal membangun pemulihan dan tekanan jual terus mendominasi.
Saat Pasar Takut Jatuh Lebih Dalam, Sinyal Langka Ini Muncul
Di tengah skenario bearish tersebut, analis CW di CryptoQuant menemukan sinyal berbeda dari indikator siklus Bitcoin. Ia melaporkan kemunculan early bull signal kedua, sebuah kondisi yang dalam pola sebelumnya muncul ketika BTC mulai membentuk dasar sebelum memasuki tren kenaikan.

CW menjelaskan bahwa setelah early bull signal pertama muncul, Bitcoin secara historis masih mengalami penurunan lanjutan. Namun, kemunculan sinyal kedua justru berkaitan dengan fase pembentukan bottom dan menjadi titik awal perubahan menuju tren naik.
“Sangat mungkin Bitcoin saat ini sedang berada dalam proses membentuk dasar,” ujar CW.
Menurutnya, kondisi pasar saat ini juga didukung oleh karakter pergerakan pada reli dan koreksi sebelumnya.
Reli terakhir tidak memasuki fase bullish yang terlalu panas, sedangkan kondisi bearish ekstrem selama penurunan hanya berlangsung singkat. Kombinasi tersebut dinilainya sebagai bagian dari persiapan menuju potensi reli berikutnya.
Temuan itu menghadirkan skenario berbeda terhadap harga Bitcoin. Di satu sisi, struktur teknikal makro Aralez masih membuka risiko koreksi menuju US$45.000 bahkan US$35.000. Di sisi lain, indikator yang dipantau CW menunjukkan kemungkinan BTC justru sedang menyelesaikan proses pembentukan dasar sebelum memulai fase pemulihan.
BTC Makin Banyak Masuk Binance, Apa yang Sedang Disiapkan Pasar?
Sinyal lain datang dari data on-chain yang dianalisis Arab Chain di CryptoQuant. Cadangan Bitcoin di Binance dilaporkan melonjak menjadi sekitar 667.500 BTC, level tertinggi dalam enam bulan atau sejak Februari. Peningkatan tersebut terjadi ketika Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$64.000.

Data yang dipaparkan Arab Chain menunjukkan cadangan Binance sebelumnya berada di kisaran 616.000 BTC pada April, sebelum meningkat lebih dari 51.000 BTC menjadi 667.500 BTC. Perubahan tersebut menunjukkan semakin banyak Bitcoin yang tersimpan di platform perdagangan tersebut setelah cadangan sempat mengalami fluktuasi hebat.
“Kenaikan cadangan Bitcoin di bursa umumnya menunjukkan bertambahnya pasokan untuk diperdagangkan,” ungkap Arab Chain.
Kenaikan cadangan di bursa terpusat dapat meningkatkan jumlah BTC yang tersedia untuk diperdagangkan dan berpotensi menciptakan tekanan jual apabila pemilik aset memutuskan melepas kepemilikannya.
Namun, Arab Chain menekankan bahwa peningkatan cadangan tidak secara otomatis membuktikan terjadinya penjualan besar-besaran karena perpindahan tersebut juga dapat berkaitan dengan redistribusi likuiditas, perubahan kustodian atau aktivitas perdagangan.
Pergerakan cadangan akan menjadi lebih penting apabila kenaikan berlanjut bersamaan dengan pelemahan harga Bitcoin atau meningkatnya arus deposit menuju bursa.
Kondisi tersebut membuat area US$57.000 tetap menjadi salah satu level yang perlu diperhatikan, sementara US$35.000-US$45.000 menjadi skenario bearish Aralez jika tekanan jual berkembang lebih jauh.
Sebaliknya, early bull signal kedua yang disorot CW membuka kemungkinan bahwa fase pelemahan saat ini justru sedang membangun dasar baru bagi BTC.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


