Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. Di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi koreksi yang lebih dalam, sejumlah analis menilai pelemahan saat ini belum tentu menandai dimulainya bear market baru.
Pada saat artikel ini disusun, harga Bitcoin berada di kisaran US$61.181, setara Rp1,11 miliar. Dalam 24 jam terakhir, aset kripto terbesar di dunia tersebut tercatat turun sekitar 4,13 persen, memperpanjang tren pelemahan yang terjadi sepanjang pekan ini.
Koreksi Harga Bitcoin Hanya Liquidation Show
Analis kripto Ninedex berpendapat bahwa penurunan harga Bitcoin saat ini lebih tepat disebut sebagai “liquidation show” dibandingkan penurunan yang benar-benar didorong oleh aksi jual besar-besaran investor.

Menurutnya, salah satu indikator yang dapat digunakan untuk membedakan keduanya adalah pergerakan kapitalisasi pasar Tether (USDT). Dalam kondisi bear market yang sesungguhnya, investor menjual Bitcoin dan berpindah ke stablecoin, sehingga pasokan dan kapitalisasi USDT di pasar cenderung meningkat.
Sebaliknya, Ninedex menilai kondisi yang terjadi saat ini menunjukkan karakteristik berbeda. Ia menjelaskan bahwa ketika banyak posisi leverage mengalami likuidasi, USDT yang digunakan sebagai jaminan atau collateral ikut keluar dari sistem.
“Ketika Bitcoin benar-benar turun karena investor menjual asetnya, maka Tether akan menumpuk di pasar. Pada bear market yang nyata, kapitalisasi USDT biasanya naik,” jelas Ninedex.
Ia menambahkan bahwa dalam peristiwa likuidasi massal, USDT yang tersimpan sebagai collateral dapat dikembalikan kepada penerbitnya dan ditukar menjadi dolar AS, sehingga sebagian pasokan USDT berkurang melalui proses burn.
Ninedex mencontohkan penurunan pada Oktober hingga November 2025 sebagai bear market yang lebih nyata. Sementara itu, koreksi yang terjadi pada Januari hingga Februari 2026 dan periode saat ini dinilai lebih menyerupai perburuan likuiditas di pasar derivatif.
Menurutnya, pergerakan semacam ini biasanya hanya bersifat sementara karena membutuhkan modal yang besar untuk mempertahankan harga di luar jalur tren utama dalam waktu lama. Setelah proses likuidasi selesai, harga cenderung kembali mengikuti arah tren yang lebih dominan.
Setelah Crash Tajam, Bitcoin Kini Bertaruh di Zona Support Utama
Pandangan berbeda datang dari analis GainMuse yang menyoroti kondisi teknikal harga Bitcoin setelah penolakan kuat dari area resistance pada pola wedge yang lebih besar.
Dalam analisisnya, GainMuse menyebut Bitcoin saat ini bergerak di kisaran US$61.500 hingga US$62.000 dan sedang meluncur menuju area support utama di sekitar US$58.000 hingga US$56.000. Zona tersebut dinilai sebagai area yang berpotensi menentukan arah pergerakan berikutnya.

Menurutnya, apabila pembeli mulai merespons dari area support tersebut, peluang terbentuknya relief rebound masih terbuka. Dalam skenario tersebut, harga Bitcoin berpotensi bergerak kembali menuju area resistance US$70.000 hingga US$72.000 sebelum menguji kisaran US$88.000 hingga US$90.000.
GainMuse menjelaskan bahwa struktur pasar saat ini masih menunjukkan pola broad wedge dengan harga bergerak menuju batas bawah support. Selama area tersebut mampu dipertahankan, peluang pemulihan tetap tersedia meskipun tekanan pasar masih cukup tinggi.
Ia juga menyoroti kondisi eksternal yang masih membebani sentimen risiko global. Pelemahan pasar saham, ketegangan geopolitik, serta arus keluar dana dari Bitcoin ETF spot dalam beberapa pekan terakhir dinilai ikut menambah tekanan terhadap harga Bitcoin saat ini.
140.000 BTC Berpotensi Diserap, Jepang Muncul Sebagai Harapan Baru
Di tengah tekanan jangka pendek, analis XWIN Japan di CryptoQuant menyoroti potensi perkembangan besar yang dapat memengaruhi pasar Bitcoin dalam jangka menengah hingga panjang.
Menurutnya, perhatian pasar mulai beralih ke Jepang sebagai kandidat kuat negara berikutnya yang berpotensi menyetujui Bitcoin ETF spot setelah AS. Otoritas Jepang saat ini diketahui sedang mengkaji reformasi regulasi yang dapat mengklasifikasikan aset kripto sebagai instrumen investasi di bawah kerangka hukum pasar keuangan.

XWIN Japan memperkirakan Bitcoin ETF spot di Jepang berpotensi menarik aliran dana sekitar ¥900 miliar dalam skenario konservatif. Dalam skenario dasar, nilainya dapat mencapai sekitar ¥1,4 triliun pada tahun pertama peluncuran.
Berdasarkan perhitungannya, aliran dana sebesar itu setara dengan permintaan sekitar 140.000 BTC pada harga saat ini. Namun, ia menilai dampak terbesarnya bukan hanya terhadap harga Bitcoin.
Menurut WXIN Japan, keberadaan ETF akan mempermudah investor mengakses Bitcoin melalui akun pialang tradisional tanpa harus berurusan langsung dengan bursa kripto, dompet digital, maupun proses penyimpanan mandiri aset. Kondisi tersebut dinilai dapat memperluas partisipasi investor ritel, manajer kekayaan, hingga institusi keuangan.
Ia juga menilai reformasi perpajakan yang sedang dibahas di Jepang berpotensi semakin memperkuat integrasi aset digital ke dalam sistem keuangan negara tersebut.
Jika terealisasi, Bitcoin ETF spot Jepang dapat menjadi salah satu tonggak penting yang mempercepat adopsi Bitcoin di kalangan investor arus utama sekaligus memberikan dukungan baru bagi harga Bitcoin di masa mendatang.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


