Harga Bitcoin Terlihat Lemah, Tapi Short Bisa Kena Jebakan Besar

Harga Bitcoin hari ini, Jumat (10/4/2026), menunjukkan sinyal pelemahan di tengah konsolidasi pasar, namun sejumlah analis on-chain menilai kondisi ini justru berpotensi menjadi jebakan bagi pelaku pasar yang membuka posisi short.

Analis GugaOnChain di CryptoQuant mengungkapkan bahwa di balik reli bervolume rendah, terdapat ketidakseimbangan struktur pasar yang dapat memicu lonjakan harga mendadak.

Data terbaru menunjukkan harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran Rp1,22 miliar, setara US$71.886, dengan kenaikan sekitar 1,57 persen dalam 24 jam terakhir.

Volume perdagangan harian tercatat sebesar US$39,1 miliar, mengalami penurunan sekitar 4,29 persen. Secara umum, harga Bitcoin masih bergerak dalam fase konsolidasi, tanpa dorongan kuat dari sisi permintaan spot.

IKLAN
Chat via WhatsApp

GugaOnChain menjelaskan bahwa indikator Binance USDT Refresh Rate Z-Score masih berada di wilayah negatif, yang mencerminkan lemahnya aliran dana baru ke pasar spot. Kondisi ini membuat reli harga Bitcoin terlihat rapuh karena tidak didukung oleh likuiditas organik.

“Pasar global tidak kehabisan bahan bakar, hanya menunggu kepanikan dari posisi short untuk memicu gelombang likuidasi,” ungkap GugaOnChain.

Tekanan Short Meningkat di Tengah Lemahnya Permintaan

Kondisi lemahnya aliran dana tersebut telah menarik banyak trader untuk membuka posisi short secara agresif. Hal ini tercermin dari funding rate yang berada di zona negatif baik di Binance maupun secara global di berbagai bursa.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Hari Ini 27 Maret 2026, Rp 1,165 Miliar per BTC

Pada saat yang sama, Estimated Leverage Ratio juga meningkat, menandakan penggunaan leverage yang lebih tinggi dalam posisi short.

Funding Rate Bitcoin

Situasi ini memperlihatkan bahwa pelaku pasar mulai bertaruh pada potensi penurunan harga Bitcoin, terutama karena dianggap tidak memiliki momentum kuat untuk menembus resistance. Namun, pendekatan ini dinilai berisiko karena mengabaikan faktor likuiditas yang lebih luas.

likuidasi BTC 10 apr

Di sisi lain, analis CryptoZ mengungkapkan bahwa terdapat klaster likuiditas besar di kisaran US$65.000 hingga US$68.000 yang masih berpotensi diuji.

Meski demikian, likuiditas di atas harga saat ini, yakni di area US$72.000 hingga US$73.500, juga cukup signifikan. Dalam kondisi harga yang masih bergerak sideways, pasar berpotensi menyapu kedua sisi likuiditas tersebut sebelum menentukan arah berikutnya.

Likuiditas Besar Mengintai, Risiko Short Squeeze Meningkat

Berbeda dengan sentimen jangka pendek, data on-chain menunjukkan bahwa likuiditas makro masih sangat kuat.

Menurut analisis GugaOnChain, Stablecoin Supply Ratio (SSR) berada di level 10,51, jauh dari kondisi kehabisan likuiditas seperti pada puncak siklus sebelumnya. Selain itu, cadangan stablecoin di bursa juga meningkat pesat, menandakan adanya dana besar yang belum masuk ke pasar.

Kondisi ini menciptakan asimetri risiko, di mana posisi short yang berlebihan bertemu dengan potensi likuiditas besar yang belum terpakai. Jika harga Bitcoin bergerak naik secara tiba-tiba, maka potensi terjadinya short squeeze dalam skala besar menjadi sangat tinggi.

BACA JUGA:  Data Terbaru XRP: Risiko Mulai Terkendali, Cuan Perlahan Naik

re-sweep bitcoin

Analis Aralez juga melihat skenario serupa, di mana harga berpotensi kembali menyapu likuiditas di atas US$72.000 sebelum bergerak turun ke area US$69.000. Namun, ia mengingatkan bahwa pergerakan besar dapat terjadi dalam waktu dekat, terutama menjelang rilis data ekonomi penting seperti CPI pada malam nanti.

Struktur Teknikal Tunjukkan Fase Shakeout

Dari sisi teknikal, analis GainMuse melihat bahwa harga Bitcoin saat ini bergerak dalam pola broadening wedge pada time frame 8 jam sejak Februari. Di dalam struktur tersebut, harga juga membentuk pola wedge yang lebih kecil, yang mencerminkan fase kompresi.

analisis Bitcoin 10 april

Penolakan harga di sekitar US$73.000 dinilai sebagai bagian dari proses “shakeout,” yakni pembersihan posisi leverage berlebih sebelum pergerakan besar berikutnya. Area support utama saat ini berada di kisaran US$68.500 hingga US$69.500, yang selama ini menjadi zona pertahanan bagi pembeli.

Sementara itu, data dari Santiment menunjukkan bahwa pemulihan harga Bitcoin di atas US$72.500 masih tergolong terbatas jika dibandingkan dengan tekanan yang terjadi sepanjang 2026.

BTC Santiment

Secara keseluruhan, harga Bitcoin tercatat masih mengalami penurunan sekitar 20 persen sejak awal tahun, jauh tertinggal dibandingkan indeks S&P 500 yang hanya turun sekitar 2 persen, serta emas yang justru mencatat kenaikan sekitar 9 persen.

BACA JUGA:  4 Analisis BTC Terbaru, Sinyal Bullish atau Awal Jebakan Besar

Dalam analisis tersebut, Santiment secara tidak langsung menyoroti bahwa pergerakan harga Bitcoin saat ini masih sangat bergantung pada perkembangan faktor eksternal, termasuk dinamika geopolitik serta kepastian kebijakan seperti pengesahan Clarity Act.

Kondisi ini membuat pasar kripto berada dalam fase menunggu arah yang lebih jelas sebelum mengambil momentum lanjutan.

Lebih lanjut, berdasarkan metrik MVRV, mayoritas aset kripto saat ini masih berada dalam kondisi return negatif, yang secara historis mencerminkan fase pasar yang belum sepenuhnya pulih.

Dalam konteks ini, Bitcoin kerap menunjukkan pola “catch-up,” yakni bergerak lebih cepat mengejar kinerja aset lain ketika sentimen pasar mulai berbalik positif.

Dengan demikian, meskipun harga Bitcoin terlihat stabil dalam jangka pendek, data Santiment mengindikasikan bahwa potensi kenaikan masih terbuka, terutama jika didukung oleh perubahan sentimen global dan aliran likuiditas yang kembali masuk ke pasar.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait