Harga Bitcoin Terpental dari US$80 Ribu, Siap Jatuh Lagi?

Harga Bitcoin kembali kehilangan pijakan setelah sempat menembus area US$80.000, memperpanjang ketidakpastian mengenai kekuatan pemulihan aset kripto terbesar tersebut.

Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di sekitar US$79.116, setara Rp1,39 miliar, dengan pelemahan 2,06 persen dalam 24 jam terakhir. Pergerakan ini membuat area US$80.000 kembali menjadi batas penting yang harus dipertahankan apabila pasar ingin melanjutkan pemulihan.

Aktivitas perdagangan juga menunjukkan penurunan. Volume transaksi Bitcoin dalam 24 jam tercatat sekitar US$41,26 miliar, turun 31,17 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Kombinasi koreksi harga dan menyusutnya volume membuat kemampuan pembeli mempertahankan momentum di atas US$80.000 menjadi sorotan, terutama setelah BTC sebelumnya berhasil mendorong harga melewati US$81.000 sebelum kembali berada di bawah level psikologis tersebut.

Bull Trap Mengintai di Balik Reli Harga Bitcoin

Analis kripto Aralez menilai kenaikan terbaru belum menghapus risiko koreksi yang lebih dalam. Setelah Bitcoin menembus US$81.000, ia justru melihat pergerakan tersebut mendekati tahap akhir pembentukan bull trap.

BTC analisis 26 ags

Dalam skenario ini, kenaikan sementara dapat menarik pembeli baru sebelum momentum berbalik dan membawa harga Bitcoin kembali menuju level yang lebih rendah.

Roadmap yang disusun Aralez menempatkan US$81.000 sebagai titik awal dari skenario koreksi bertahap. Target penurunan pertama berada di sekitar US$60.000, kemudian US$55.000, sebelum berpotensi mencapai US$42.000.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  Harga Bitcoin Sudah Dekati Bottom? Data Ini Justru Beri Peringatan Keras

Proyeksi tersebut berarti BTC masih menghadapi risiko kehilangan sebagian besar kenaikan terbaru apabila tekanan jual kembali mendominasi pasar.

Grafik mingguan yang dibagikannya turut menempatkan area sekitar US$49.000 sebagai support high-time-frame (HTF) penting.

Namun, jalur proyeksi Aralez memperlihatkan kemungkinan harga Bitcoin bergerak sementara di bawah support tersebut dan membentuk dasar sekitar US$42.000. Area itu diproyeksikan sebagai bottom sebelum terjadi pemulihan yang lebih besar.

Skenario Aralez tidak berhenti pada koreksi. Setelah pembentukan dasar, BTC diperkirakan memasuki fase pemulihan dan akumulasi, termasuk di sekitar US$80.000-US$90.000 dan kemudian US$115.000-US$125.000.

Jika fase tersebut berhasil dilewati, harga Bitcoin berpeluang kembali menguji rekor tertinggi sekitar US$126.000 dan, dalam proyeksi jangka panjangnya, bergerak menuju US$170.000.

Aralez juga merujuk pada proyeksi sebelumnya ketika ia memperkirakan puncak siklus BTC di sekitar US$126.000. Ia turut menyoroti penurunan dari sekitar US$98.000 menuju US$60.000 serta pergerakan dari US$83.000 ke US$57.000 sebagai bagian dari pembacaan pasar terdahulunya.

Meski demikian, roadmap terbaru tetap merupakan skenario teknikal dan realisasinya bergantung pada respons BTC terhadap level-level utama tersebut.

BACA JUGA:  Apakah XRP Akan Naik Lagi di 2026? Ini Faktor yang Bisa Menentukan Harganya

Gelombang Ambil Untung Mulai Membesar

Sementara itu, analis XWIN Japan di CryptoQuant menyoroti faktor berbeda di balik kegagalan Bitcoin bertahan di atas US$80.000.

Menurutnya, arus masuk exchange-traded fund (ETF) dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS telah menopang permintaan. Namun, aksi ambil untung dari pemegang Bitcoin yang sudah berada dalam posisi profit masih membatasi kenaikan harga Bitcoin.

BTC PnL 26 AGS

Data on-chain menunjukkan hampir seluruh kelompok investor kembali berada dalam kondisi untung. Indikator unrealized profit and loss (PnL) tercatat 21,1 untuk pemegang jangka panjang (LTH), 13,4 untuk pemegang jangka pendek (STH), 13,9 pada modal berusia satu hari hingga satu bulan, serta 5,3 untuk kelompok investor terbaru.

Kondisi tersebut mengindikasikan struktur pasar yang lebih sehat, tetapi sekaligus memperbesar jumlah BTC yang dapat dijual untuk merealisasikan keuntungan.

“Pasar membaik, tetapi semakin banyak pemegang kini memiliki keuntungan yang bisa direalisasikan segera,” ungkap XWIN Japan.

Tekanan tersebut juga terlihat melalui SOPR Ratio, yang dihitung dengan membagi LTH-SOPR terhadap STH-SOPR.

BTC SOPR 26 AGS

Rasio ini sempat naik ke sekitar 1,4 ketika Bitcoin mendekati US$80.000, mengindikasikan LTH merealisasikan keuntungan pada tingkat relatif lebih tinggi dibandingkan STH. Rasio tersebut kemudian turun menjadi 0,93, menunjukkan kinerja keuntungan terealisasi kelompok jangka pendek kini relatif lebih kuat.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Bisa Ambruk ke US$40.000 Sebelum Cetak ATH Baru? Ini Skenarionya

Ke depan, kemampuan permintaan baru menyerap penjualan dari holder yang sedang untung menjadi penentu arah berikutnya.

Apabila harga Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas US$80.000 dengan dukungan permintaan ETF serta pasar spot, area US$88.000-US$90.000 dapat menjadi sasaran berikutnya. Sebaliknya, kehilangan zona support US$75.000-US$76.000 berpotensi mengurangi profitabilitas STH dan mempercepat koreksi.

Dengan demikian, pertempuran utama pasar saat ini berada di sekitar US$80.000. Bukan sekadar kemampuan BTC menyentuh level tersebut, melainkan apakah permintaan baru cukup kuat menyerap aksi jual dari investor yang telah memperoleh keuntungan.

Selama keseimbangan itu belum terbentuk, harga Bitcoin masih menghadapi risiko volatilitas tinggi dan pengujian kembali support di bawah harga pasar saat ini.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait