Harga Bitcoin Tiba-tiba Meledak, Tapi Sinyal Ini Justru Bikin Curiga

Pergerakan harga Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah aset kripto terbesar di dunia itu sempat melonjak tajam ke level US$79.000. Namun, di balik lonjakan tersebut, data on-chain dan derivatif justru menunjukkan sinyal yang memicu kewaspadaan pelaku pasar.

Analisis terbaru dari analis Carmelo Aleman di CryptoQuant mengungkap bahwa reli tersebut bukan didorong oleh permintaan spot yang kuat, melainkan oleh tekanan short squeeze di pasar futures.

Lonjakan itu terjadi bersamaan dengan kenaikan open interest (OI) hampir US$3 miliar dalam satu hari. Di saat yang sama, Bitcoin ETF spot justru mencatat arus keluar bersih sebesar US$1,84 miliar, yang menjadi anomali di tengah kenaikan harga.

“Reli ini dipimpin oleh futures, bukan oleh permintaan spot. Itu sebabnya momentumnya cepat melemah,” ungkap Carmelo Aleman.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Bitcoin ETF 26 apr

Data tersebut memperlihatkan bahwa ketika harga Bitcoin menyentuh puncak harian, dukungan dari pembelian institusional melalui ETF justru tidak ada. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa kenaikan lebih banyak dipicu oleh likuidasi posisi short daripada akumulasi baru.

Setelah menyentuh puncak, harga BTC turun ke sekitar US$78.200 atau terkoreksi sekitar 1,57 persen. Dalam dua hari berikutnya, OI juga turun tajam dari US$27,56 miliar menjadi US$25,26 miliar, menandakan banyak posisi leverage yang mulai ditutup.

BACA JUGA:  Waspada! Hardware Wallet Ledger Palsu Mulai Beredar di Pasaran

Reli Cepat, Tapi Struktur Masih Rentan

Carmelo menjelaskan bahwa pelemahan setelah reli bukan hanya akibat arus keluar ETF, tetapi juga karena futures mulai mengalami unwind besar-besaran. Pada 23 April, OI turun US$1,46 miliar, lalu kembali turun US$839 juta sehari berikutnya saat harga Bitcoin melemah ke area US$77.400.

Menurutnya, pola ini menunjukkan bahwa reli yang dibangun dari leverage cenderung lebih rapuh dibanding reli yang didukung permintaan spot nyata.

Sementara itu, analis kripto Ali Martinez menyoroti level penting berdasarkan indikator MVRV. Ia melihat Bitcoin berhasil merebut kembali area pricing band -0,5 MVRV yang kini berada di US$73.700. Level itu dinilai sebagai titik pivot utama untuk arah tren saat ini.

BTC MVRV 26 apr

Dalam analisis kripto yang ia bagikan, selama area US$73.700 bertahan sebagai support, peluang pemulihan menuju mean value di sekitar US$96.000 masih terbuka. Namun jika level tersebut jebol, skenario bullish bottom dinilai gagal dan dapat membuka jalan penurunan menuju realized price di sekitar US$55.000.

Bitcoin analisis by Ted 26 april

Analis lain, Ted Pillows, juga melihat zona US$76.000 hingga US$77.000 menjadi area pertahanan penting. Selama area itu bertahan, potensi dorongan menuju US$80.000 masih relevan. Sebaliknya, kehilangan support itu bisa memicu koreksi lebih dalam pada harga Bitcoin.

BACA JUGA:  Harga XRP Melejit 3 Persen, Sinyal Rebound Mulai Terlihat

Siklus Historis Harga Bitcoin Dinilai Masih Konsisten

Di tengah volatilitas jangka pendek, analis kripto Crypto Zeno melihat struktur siklus Bitcoin saat ini masih bergerak sesuai pola historis pasca-halving.

Dalam analisis terbarunya, ia membandingkan beberapa siklus besar sebelumnya dan menemukan pola yang relatif konsisten, yakni fase ekspansi agresif, koreksi tajam, pembentukan bottom, lalu reli menuju rekor baru.

BTC Zeno

Zeno mencatat bahwa pada siklus pertama, Bitcoin sempat mengalami koreksi hingga 86,60 persen dengan fase bottom selama 413 hari sebelum melonjak lebih dari 1.493 persen. Siklus berikutnya menunjukkan koreksi 84,20 persen selama 364 hari, lalu kembali pulih menuju rekor baru.

Pada siklus yang lebih baru, kedalaman koreksi mulai menyusut menjadi 77,39 persen dan kemudian 59,13 persen. Menurut Zeno, ini menunjukkan volatilitas Bitcoin mulai matang, di mana setiap siklus cenderung memiliki drawdown yang lebih dangkal.

Ia juga menemukan pola menarik dari jarak antar-bottom yang konsisten di kisaran 1.428 hari. Sementara itu, fase dari ATH ke ATH berikutnya juga berada dalam rentang 1.428 hingga 1.477 hari.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Hari Ini Naik 1 Persen, Melesat ke Rp1,16 Miliar

Berdasarkan pola historis tersebut, Zeno memperkirakan fase bottom akan terbentuk pada musim panas tahun ini dapat menjadi titik akumulasi penting sebelum reli berikutnya dimulai. Jika pola ini kembali berulang, harga Bitcoin berpotensi mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) baru sekitar 6 Desember 2027.

Secara keseluruhan, lonjakan harga Bitcoin saat ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara optimisme pemulihan dan risiko koreksi lanjutan. Data derivatif mengindikasikan reli terbaru lebih banyak didorong short squeeze, sementara level support utama kini menjadi penentu arah berikutnya.

Meski begitu, pola siklus historis masih memberi sinyal bahwa struktur jangka panjang Bitcoin tetap terjaga dan peluang mencetak rekor harga baru masih terbuka jika fase akumulasi kembali terbentuk.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait