Harga Bitcoin Turun ke US$76.800, Analis Ungkap Penyebab Rebound Gagal

Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan setelah upaya pemulihan pada awal pekan gagal bertahan. Aset kripto terbesar itu bahkan sempat turun ke area US$76.600, di tengah melemahnya permintaan on-chain dan gelombang likuidasi posisi long di pasar derivatif.

Berdasarkan analisis terbaru XWIN Japan di CryptoQuant, harga Bitcoin berada di sekitar US$76.800 pada Selasa (3/11/2026) pukul 06.30 waktu Jepang, turun sekitar 1,4 persen dalam 24 jam.

Pelemahan tersebut terjadi meskipun pasar sebelumnya memperoleh sejumlah sentimen positif, mulai dari pemulihan layanan penarikan dana Binance hingga meredanya tekanan harga minyak.

XWIN Japan mencatat bahwa Bitcoin sempat menguat mendekati US$78.700. Kembalinya layanan penarikan dana Binance membantu meredakan kekhawatiran investor setelah insiden keamanan yang melanda bursa tersebut.

Pada saat bersamaan, harapan terhadap pembicaraan AS dan Iran, penurunan harga minyak, serta penguatan kontrak berjangka saham AS ikut mendukung sentimen pasar.

Namun, momentum kenaikan itu tidak berlangsung lama. Bitcoin gagal menembus US$79.000 dan kembali melemah menuju kisaran US$77.600–US$77.800 pada sore hingga malam hari.

Menurut XWIN Japan, tekanan jual sudah terlihat sebelum pembukaan perdagangan Wall Street, mengindikasikan bahwa pelemahan tidak semata-mata dipicu oleh pergerakan pasar saham AS, tetapi juga berasal dari kondisi internal pasar kripto.

Situasi semakin memburuk ketika upaya pemulihan berikutnya menuju US$78.000 kembali gagal. Saham-saham teknologi AS berbalik melemah, sementara indeks Nasdaq Composite ditutup turun 1,1 persen. Tekanan jual di pasar futures dan penutupan paksa posisi long diduga turut mempercepat penurunan Bitcoin.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Data yang dihimpun dari 13 bursa menunjukkan sekitar 70 persen dari total likuidasi Bitcoin senilai kurang lebih US$100 juta dalam periode 24 jam berasal dari posisi long.

Angka tersebut tercatat hingga pukul 06.16 waktu Jepang pada 3 November, memperlihatkan bagaimana posisi trader yang bertaruh pada kenaikan harga justru menjadi salah satu sumber tekanan ketika pasar bergerak turun.

BACA JUGA:  Dana Kasus Ledger Terendus Masuk Binance, Jejak 195 Transaksi Terungkap

Permintaan Bitcoin Melemah, Investor Jangka Pendek Terancam Rugi

Selain tekanan dari pasar derivatif, XWIN Japan menemukan sinyal yang kurang menggembirakan dari data on-chain Bitcoin.

Grafik CryptoQuant memperlihatkan indikator Apparent Demand mengalami penurunan tajam hingga memasuki wilayah negatif dan berada di bawah rata-rata 30 harinya. Indikator ini digunakan sebagai proksi untuk membaca kondisi permintaan Bitcoin, sehingga pembacaan negatif menunjukkan bahwa kekuatan permintaan di pasar masih lemah.

Bitcoin xwin 3 nov

Meski begitu, XWIN Japan mengingatkan bahwa Apparent Demand bukanlah ukuran langsung arus keluar uang tunai dari Bitcoin. Indikator tersebut lebih tepat dibaca sebagai gambaran perubahan permintaan berdasarkan aktivitas dan dinamika pasokan on-chain.

Tekanan semakin terasa ketika Bitcoin menembus US$77.000 dan menguji area pertengahan US$76.600 pada pagi hari. Penurunan itu sekaligus membawa harga BTC ke bawah cost basis investor yang telah memegang aset selama satu hingga tiga bulan, yakni US$77.140 berdasarkan data per 1 November.

Kondisi ini meningkatkan risiko munculnya penjualan ketika harga kembali menguat. Sebagian investor yang berada dalam posisi rugi berpotensi memanfaatkan rebound untuk mengurangi kerugian atau keluar mendekati harga pembelian mereka.

Menurut XWIN Japan, pembelian Bitcoin di pasar spot sebenarnya masih berlangsung. Namun, aktivitas tersebut belum mampu menyerap tekanan jual dari kontrak futures dan likuidasi posisi leverage.

Kondisi ini juga menjelaskan mengapa Bitcoin gagal mempertahankan rebound meskipun harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami penurunan, dua perkembangan yang dalam kondisi tertentu dapat membantu memperbaiki selera risiko investor.

Binance Pulihkan 95 Persen Aset Terdampak, tetapi Pemulihan Belum Selesai

Di tengah tekanan harga Bitcoin, perkembangan fundamental lain datang dari Binance yang terus berupaya memulihkan operasionalnya setelah insiden keamanan pada akhir Oktober.

Dalam pengumuman resmi pada Senin (2/11/2026), Binance mengonfirmasi bahwa sekitar 95 persen dari total aset terdampak telah diganti menggunakan sumber daya perusahaan. Adapun 5 persen sisanya merupakan token dengan likuiditas lebih rendah, sehingga proses pengadaan aset pengganti membutuhkan waktu tambahan.

BACA JUGA:  Harga MemeCore Melejit, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bursa tersebut juga menyelesaikan pembuatan bukti kriptografis berbasis zero-knowledge proof untuk snapshot Proof of Reserves (PoR) tertanggal 31 Oktober 2026.

Melalui mekanisme tersebut, pengguna dapat memverifikasi bahwa saldo mereka pada sepuluh aset, termasuk Bitcoin, Ethereum, USDT, BNB, dan XRP, memiliki dukungan cadangan setidaknya 1:1 dalam snapshot tersebut.

Sebelumnya, Binance telah mengumumkan dimulainya pemulihan layanan penarikan dana secara bertahap sejak 1 November. Jaringan Bitcoin termasuk dalam tahap awal pemulihan, sementara jaringan dan aset lainnya dibuka secara progresif setelah melalui pemeriksaan keamanan.

Perkembangan ini memberikan kepastian tambahan mengenai langkah pemulihan Binance. Namun, pemenuhan cadangan untuk aset tertentu tidak serta-merta berarti seluruh dampak insiden keamanan telah teratasi, terlebih karena proses penggantian aset dan pemulihan layanan masih berlangsung.

Bagi Bitcoin, situasinya memperlihatkan bahwa kabar positif dari salah satu bursa kripto terbesar di dunia belum cukup untuk membalikkan tekanan pasar. Hal ini sejalan dengan pengamatan XWIN Japan mengenai lemahnya permintaan yang masih membayangi pergerakan BTC.

Kebijakan The Fed Masih Menjadi Tantangan bagi Bitcoin

Selain dinamika internal industri kripto, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi faktor fundamental yang perlu diperhatikan investor Bitcoin.

Dalam keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28 Oktober, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,75–4,00 persen melalui pemungutan suara 10 berbanding 2.

Menariknya, dua pejabat The Fed, Lisa D. Cook dan Beth M. Hammack, justru menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa kekhawatiran terhadap inflasi masih memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan bank sentral.

The Fed juga menyatakan aktivitas ekonomi AS terus berkembang dengan kuat, didukung ketahanan belanja domestik, pertumbuhan produktivitas, dan investasi modal. Sementara itu, inflasi masih berada pada tingkat yang tinggi dibandingkan target bank sentral sebesar 2 persen.

BACA JUGA:  Gawat! Bitcoin Bisa Ambruk ke US$68.000 usai Binance Diretas

Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. Bagi Bitcoin, prospek suku bunga yang bertahan tinggi dapat menjadi tantangan karena investor cenderung lebih selektif dalam mengambil risiko ketika biaya pendanaan masih relatif mahal.

Dengan demikian, tekanan terhadap BTC saat ini tidak hanya berasal dari likuidasi posisi leverage dan melemahnya permintaan on-chain. Ketidakpastian mengenai arah suku bunga AS juga menjadi latar belakang penting yang dapat memengaruhi kemampuan pasar untuk membangun pemulihan lebih kuat.

Harga Bitcoin Harus Rebut Kembali US$77.200

Melihat kondisi pasar saat ini, XWIN Japan menyoroti area US$76.600–US$76.700 sebagai support penting yang perlu diperhatikan dalam pergerakan harga Bitcoin berikutnya.

Jika area tersebut mampu bertahan, BTC masih memiliki peluang untuk kembali menguji resistance terdekat pada kisaran US$77.100–US$77.200. Namun, untuk memperlihatkan pemulihan yang lebih meyakinkan, harga perlu melanjutkan penguatan menuju area US$77.400–US$77.600.

Sebaliknya, kegagalan mempertahankan support US$76.600–US$76.700 dapat memperbesar risiko berlanjutnya tekanan jual, terutama apabila permintaan spot tetap lemah dan likuidasi posisi leverage kembali meningkat.

XWIN Japan menekankan bahwa pemulihan yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar kenaikan harga sesaat. Intensitas likuidasi perlu mereda, sementara pembelian di pasar spot harus berlangsung secara konsisten agar mampu mengimbangi tekanan dari pasar derivatif.

Untuk sementara, kombinasi permintaan on-chain yang negatif, posisi investor jangka pendek yang mulai tertekan, serta ketidakpastian kebijakan moneter AS menunjukkan bahwa Bitcoin masih menghadapi sejumlah hambatan sebelum mampu membangun rebound yang lebih solid.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait