Harga Bitcoin Turun, Tiga Sinyal Ini Disebut Bisa Picu Lonjakan Besar

Harga Bitcoin kembali berada dalam tekanan setelah mengalami koreksi dalam tiga hari terakhir, tetapi sejumlah analis melihat fase ini justru bisa menjadi titik awal pergerakan besar berikutnya.

Analis on-chain GugaOnChain di CryptoQuant menilai area US$70.000 hingga US$65.000 kini menjadi zona akumulasi utama yang dipantau pelaku dana besar. Menurutnya, penurunan harga Bitcoin ke area tersebut bukan sekadar koreksi biasa, melainkan berpotensi menjadi titik masuk institusional sebelum lonjakan baru terjadi.

Dalam analisis terbarunya, GugaOnChain menyebut risiko short squeeze kini meningkat seiring munculnya tiga indikator utama yang selama ini menjadi acuan dana besar untuk masuk pasar.

Tiga indikator itu adalah STH-SOPR, Stablecoin Supply Ratio (SSR) dan Funding Rate. Ketiganya dinilai mampu memberi gambaran apakah tekanan jual saat ini murni kepanikan pasar ritel atau justru fase penyerapan oleh pemain besar.

“Ketika ritel mulai menyerah dan derivatif mulai berdarah, guncangan arah besar biasanya sudah dekat,” ujar GugaOnChain.

Data tersebut muncul di tengah volatilitas harga Bitcoin yang masih tinggi pada perdagangan pekan ini, ketika pelaku pasar global masih mencari arah baru di tengah tekanan makroekonomi dan pergeseran likuiditas.

Likuiditas, Kapitulasi dan Short Squeeze Jadi Kunci Bitcoin

GugaOnChain menjelaskan indikator pertama yang dipantau adalah STH-SOPR (Short-Term Holder Spent Output Profit Ratio). Ketika indikator ini turun di bawah level 1, kondisi itu menunjukkan holder jangka pendek mulai menjual dalam kondisi rugi.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Tiba-tiba Meledak, Tapi Sinyal Ini Justru Bikin Curiga

Dalam siklus pasar sebelumnya, fase kapitulasi seperti ini sering menjadi titik masuk smart money untuk menyerap pasokan murah.

Indikator kedua adalah SSR (Stablecoin Supply Ratio), yang digunakan untuk mengukur masuknya likuiditas baru ke pasar. Menurut GugaOnChain, arus stablecoin ke bursa menjadi tanda bahwa dana besar sedang menyiapkan modal beli.

Dalam konteks ini, pergerakan Binance menjadi perhatian utama, terutama jika terjadi lonjakan setoran USDT ke bursa tersebut.

Selain itu, divergensi pada CVD (Cumulative Volume Delta) juga dinilai penting. Kondisi ini biasanya terjadi ketika investor ritel masih agresif membuka posisi short di pasar derivatif, sementara institusi diam-diam menyerap aset di pasar spot.

BTC funding rate 30 april

Indikator ketiga adalah Funding Rate. GugaOnChain menilai skenario bullish akan semakin kuat jika Funding Rate bergerak negatif secara konsisten di kisaran minus 0,015 persen hingga minus 0,020 persen.

Kondisi itu menandakan posisi short mulai terlalu padat dan membuka peluang short squeeze, yaitu situasi ketika trader short dipaksa menutup posisi dan memicu lonjakan harga Bitcoin.

Harga Bitcoin di Persimpangan, Bertahan atau Turun Lebih Dalam?

Di sisi teknikal, analis pasar GainMuse melihat harga Bitcoin saat ini berada dalam pola descending wedge pada time frame 4 jam, struktur yang menunjukkan kompresi harga semakin ketat dan mendekati titik pelepasan besar.

BACA JUGA:  Harga Kripto Hari Ini 29 April 2026: BNB dan PI Masuk Fase Krusial, Sinyal Besar Muncul

GainMuse menilai pola ini sudah terbentuk sejak awal Februari, dengan harga terus membentuk tekanan di batas bawah pola.

Bitcoin analisis 30 apr

Menurut GainMuse, area US$77.500 kini menjadi resistance utama yang harus ditembus agar struktur bearish batal dan kendali kembali diambil pembeli. Namun selama level itu belum berhasil direbut, tekanan turun dinilai masih lebih dominan dengan target pelemahan menuju US$67.500.

Pandangan itu sejalan dengan analisis teknikal dari Trader Cash yang menilai harga Bitcoin masih bergerak sesuai pola koreksi harian yang telah terbentuk. Dalam pembacaan grafiknya, Bitcoin terus mencetak lower high dan lower low setelah gagal bertahan di resistance US$79.200 hingga US$79.500.

BTC analisis 30 apr

Trader Cash menilai area US$75.400 kini menjadi support paling krusial. Jika zona itu mampu memunculkan reaksi beli kuat, peluang pemulihan harga Bitcoin masih terbuka. Namun jika gagal bertahan, tekanan jual dinilai bisa membawa harga Bitcoin kembali ke area US$68.000, yang sebelumnya menjadi basis akumulasi besar.

Bhutan Diam-diam Lepas Bitcoin, Pasar Mulai Waspada

Di tengah tekanan harga Bitcoin, aktivitas sovereign holder juga ikut menjadi sorotan. Data on-chain dari Arkham Intelligence menunjukkan Pemerintah Bhutan kembali memindahkan 100 BTC senilai sekitar US$7,89 juta dari wallet yang terafiliasi dengan negara.

BACA JUGA:  Dampak Petrodollar 1974 Terasa, Robert Kiyosaki Pilih Bitcoin

BTC Bhutan

Transfer terbaru ini memperpanjang pola distribusi Bitcoin yang sudah berlangsung sepanjang 2026. Sepanjang tahun berjalan, nilai Bitcoin yang telah dilepas Bhutan dilaporkan mencapai lebih dari US$206 juta, dengan sisa kepemilikan yang kini diperkirakan sekitar 3.400 BTC.

Cadangan Bitcoin Bhutan sendiri dibangun melalui aktivitas mining menggunakan energi hidro yang dikelola sovereign fund Druk Holding & Investments. Model akumulasi ini membuat biaya perolehan Bitcoin mereka jauh lebih rendah dibanding pembelian pasar biasa.

Intinya, pelemahan harga Bitcoin saat ini belum sepenuhnya mengubah peluang pemulihan, karena data on-chain menunjukkan fase kapitulasi ritel justru mulai terbentuk di saat dana besar bersiap masuk.

Di saat yang sama, tekanan teknikal di area support utama serta distribusi bertahap dari Bhutan membuat pasar berada di titik yang sangat sensitif. Jika support kunci bertahan dan tiga indikator utama bergerak selaras, harga Bitcoin berpeluang keluar dari tekanan dan memulai pergerakan besar berikutnya.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait