Harga (ETH) turun ke titik terendah sejak Sabtu (8/9) lalu. Dalam sepekan, mengutip data Coinmarketcap, sejak Kamis (6/9), hingga Kamis petang (13/9), ETH sudah terkoreksi sebesar 11,3% dari US$281,12 pada penutupan Kamis lalu menjadi US$193,48 pada Kamis petang (13/9).

Harga ETH pada Kamis (13/9) memang sudah kembali bullish. Tampaknya, kripto yang satu ini sudah mulai mengakhiri masa penurunannya yang terjadi sejak Sabtu pekan lalu. Penurunan harga ETH terjadi menyusul pernyataan Co-Founder Ethereum Vitalik Buterin yang menyebutkan bahwa kripto dan blockchain tidak lagi akan tumbuh spektakuler 1000 kali lipat.

Pernyataan Buterin ini seakan menghembuskan angin pesimisme ke pasar. Aksi jual pada ETH pun terjadi yang menyebabkan harganya anjlok ke titik terendah tahun ini. Buterin kemudian mengklarifikasi pernyataannya itu. Melalui akun Twitternya, ia menegaskan maksudnya pernyataannya.

“Agar jelas, saya tidak pernah mengatakan bahwa ‘tidak ada ruang untuk pertumbuhan’ di ekosistem kripto. Saya mengatakan tidak ada ruang untuk ‘kenaikan harga 1000 kali lipat’,” ujarnya Rabu (12/9).

Menurut Buterin dengan harga saat ini, pertumbuhan 1000 kali lipat berarti US$200 triliun. Itu berarti 70% kekayaan global tersedot ke kripto. Klarifikasi Buterin ini membuat ETH kembali naik. Hingga Kamis petang (13/9), harga ETH di Coinmarketcap, naik sekitar 12% menjadi US$193,48.

Kondisi yang sama juga terjadi di sejumlah bursa kripto lokal di Indonesia. Di Indodax misalnya, pada Kamis petang ETH naik 10,9% menjadi Rp 2,89 juta. Di Rekeningku.com naik sekitar 11,59% menjadi Rp2,89 juta. Hingga berita ini diterbitkan, harga ETH di Indodax naik 13,7% dalam 24 jam terakhir di harga Rp3,2 juta

Namun, dengan harga yang yang berada di bawah Rp4 juta ini, menurut CEO Rekeningku.com, Sumardi, para miner tidak bisa balik modal. Menurutnya, biaya produksi satu koin ETH sekitar Rp3 juta atau kalau efisein sekitar Rp2,6 juta sampai Rp2,7 juta.

“Miner skala rumahan sudah pasti rugi,” ujarnya.

Tetapi untuk miner skala besar, menurutnya masih bisa untung tipis. “Kalau satu bulan skalanya bisa menghasilkan 500 ETH, dia bisa profit Rp200 ribu-Rp300 ribu dikali 500 ETH. Masih bisa menutupi, masih cuan,” ujarnya.

Rekeningku.com sendiri memiliki Ana Coin yang beroperasi di Ethereum. Sumardi mengatakan, harga yang anjlok saat ini membuat margin yang diterima perusahaan berkurang.

Hasil analisis teknikal oleh Christopher Tahir dari Komunitas CryptoWatch kemarin, Kamis (13/9), jika ETH tidak menembus US$300, maka ada potensi harga akan memantul dan turun menembus ke bawah US$160, sekaligus konfirmasi tren turun jangka panjang.

“Saat ini dia ETH baru bergerak dari US$172. Menurut saya posisi ini berpotensi membuat harga ETH naik lebih jauh. Kalau mampu menembus US$305, maka ada potensi harga berlanjut ke US$500, lalu koreksi kembali ke US$300 sebelum berlanjut naik kembali,” tegas Tahir kepada Blockchainmedia.id. [jul/vins]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO