Harga ETH memasuki pekan pertama Uptober dengan katalis baru dari sisi fundamental jaringan, ketika upgrade Glamsterdam bersiap diaktifkan di testnet Sepolia pada 6 Oktober 2026.
Namun, aktivasi yang akan berlangsung bukan peluncuran Glamsterdam di Ethereum mainnet. Berdasarkan pengumuman resmi Ethereum Foundation, upgrade dijadwalkan aktif di Sepolia pada epoch 353.024 dan slot 11.296.768, tepat pada 6 Oktober 2026 pukul 13:53:36 UTC atau sekitar 20:53 WIB.
Jadwal untuk Hoodi dan mainnet masih belum diputuskan. Meski baru berlangsung di testnet, fase ini penting karena Glamsterdam membawa perubahan besar pada cara Ethereum membangun dan memvalidasi blok, sekaligus menyiapkan jaringan untuk peningkatan kapasitas layer-1 yang lebih agresif.
Uptober ETH Dibarengi Ujian Scaling Ethereum
Glamsterdam menggabungkan Amsterdam, nama upgrade pada execution layer, dengan Gloas pada consensus layer.
Berdasarkan roadmap resmi Ethereum, upgrade tersebut dirancang untuk membuka jalan menuju generasi scaling berikutnya dengan fokus pada pemrosesan yang lebih paralel, peningkatan kapasitas jaringan, serta pengendalian pertumbuhan database agar kebutuhan perangkat keras node tidak membengkak secara berlebihan.
Artinya, katalis yang mengiringi harga ETH pada awal Uptober kali ini bukan sekadar perubahan minor pada protokol. Glamsterdam menyentuh struktur produksi blok dan pengelolaan state Ethereum yang selama ini menjadi salah satu hambatan ketika kapasitas layer-1 dinaikkan.
Dua komponen yang menjadi pusat upgrade tersebut adalah Enshrined Proposer-Builder Separation (ePBS) dan Block-Level Access Lists (BALs).
ePBS, atau EIP-7732, membawa pemisahan peran proposer dan builder langsung ke dalam protokol Ethereum. Dalam spesifikasi resmi EIP-7732, perubahan tersebut memisahkan validasi execution dari consensus sehingga validator tidak lagi harus menyelesaikan seluruh pekerjaan kritis dalam jendela waktu yang sama.
Desain tersebut juga bertujuan mengurangi ketergantungan pada middleware tepercaya dalam hubungan antara proposer dan builder.
Pada Glamsterdam, perubahan ini memberi waktu lebih besar untuk penyebaran dan pemrosesan execution payload, sehingga jaringan dapat menangani blok yang lebih berat tanpa langsung meningkatkan beban validator secara tidak proporsional.
BAL Buka Jalan untuk Ethereum Memproses Lebih Banyak Pekerjaan
Komponen besar berikutnya adalah EIP-7928 atau Block-Level Access Lists. Secara sederhana, BAL memberi tahu node lebih awal mengenai akun dan bagian penyimpanan mana yang akan disentuh saat sebuah blok dieksekusi.
Menurut spesifikasi EIP-7928, informasi tersebut memungkinkan parallel disk reads, parallel transaction validation, parallel state-root computation, bahkan pembaruan state tertentu tanpa harus mengeksekusi ulang seluruh transaksi.
Perubahan ini penting karena salah satu kendala Ethereum saat ini adalah banyak pekerjaan eksekusi masih mempunyai dependensi yang membuat proses paralel sulit dilakukan.
Dengan mengetahui dependensi sebelum pekerjaan dimulai, klien dapat memisahkan aktivitas yang tidak saling bertabrakan dan mengerjakannya secara bersamaan.
Glamsterdam karena itu tidak sekadar mencoba membuat Ethereum “lebih cepat,” tetapi mengubah fondasi yang diperlukan agar kapasitas jaringan dapat dinaikkan tanpa membuat node kewalahan.
Bagi pasar, hal tersebut membuat awal Uptober ETH mempunyai katalis yang dapat diuji secara nyata. Keberhasilan Sepolia memang tidak otomatis menjamin kenaikan harga ETH, tetapi dapat mengurangi salah satu lapisan ketidakpastian menuju implementasi Glamsterdam di mainnet.

Target 200 Juta Gas Mulai Terlihat Lebih Serius
Skala ambisi Glamsterdam terlihat dari target gas limit yang sedang disiapkan developer Ethereum.
Dalam Protocol Cluster Update Ethereum Foundation pada Mei 2026, developer menyebut telah terbentuk target pasca-Glamsterdam yang kredibel sebesar 200 juta gas, didorong kombinasi ePBS, optimasi BAL dan repricing melalui EIP-8037.
Angka tersebut jauh di atas baseline sekitar 60 juta gas yang menjadi salah satu acuan jaringan saat ini.
Namun, 200 juta gas tidak berarti Sepolia otomatis berpindah ke level tersebut pada 6 Oktober. Ethereum Foundation menjelaskan bahwa beberapa client validator masih menggunakan 60 juta secara default, sedangkan konfigurasi 200 juta dapat digunakan secara eksplisit untuk pengujian.
Ada alasan mengapa peningkatan kapasitas itu tidak bisa dilakukan dengan sekadar menaikkan gas limit.
Melalui pengujian repricing Glamsterdam, Ethereum Foundation menjelaskan bahwa EIP-8037 dan EIP-8038 mengubah biaya pembuatan serta akses state agar lebih sesuai dengan beban nyata yang ditanggung node.
Jadwal biaya baru tersebut diturunkan dari target performa yang dirancang untuk menopang sekitar tiga kali peningkatan base throughput.
Catatan pentingnya, angka tiga kali tersebut bukan berarti Glamsterdam akan langsung membuat Ethereum tiga kali lebih cepat pada 6 Oktober. Angka itu menggambarkan kapasitas yang ingin dapat ditopang arsitektur baru sebelum peningkatan throughput dilakukan lebih agresif.
Database Ethereum Jadi Alasan Gas Harus Dirombak
Masalah state growth menjelaskan mengapa perubahan tersebut dibutuhkan.
Data dalam EIP-8037 menunjukkan database state pada sebuah node Geth sudah berada di sekitar 390 GiB pada Januari 2026.

Setelah gas limit sebelumnya naik dari 30 juta menjadi 60 juta, rata-rata state baru yang tercipta setiap hari meningkat dari sekitar 105 MiB menjadi 326 MiB.
Jika laju setelah peningkatan tersebut diekstrapolasi secara proporsional menuju gas limit 200 juta tanpa repricing, pertumbuhan state diperkirakan dapat mencapai sekitar 387 GiB per tahun.
Dengan titik awal sekitar 390 GiB, ukuran database berpotensi melewati ambang 650 GiB, tingkat yang menurut proposal tersebut mulai menyebabkan degradasi performa node, dalam waktu kurang dari setahun.
Di sinilah Glamsterdam mencoba menyelesaikan dilema Ethereum. Jaringan ingin memberi ruang lebih besar bagi transaksi, tetapi kenaikan throughput tidak boleh membuat kebutuhan penyimpanan tumbuh sedemikian cepat hingga menjalankan node menjadi semakin mahal.
EIP-8037 karena itu mengusulkan struktur harga baru untuk operasi yang berkaitan dengan state agar pertumbuhannya lebih terkendali ketika gas limit naik.
Glamsterdam Juga Membawa Risiko untuk Smart Contract
Peningkatan kapasitas tersebut bukan tanpa konsekuensi.
Repricing pada Glamsterdam dapat memengaruhi kontrak atau tooling yang masih bergantung pada asumsi biaya gas lama. Dalam pengujian historis yang dilakukan Ethereum Foundation, sebagian besar kontrak tidak menunjukkan masalah, tetapi sejumlah kecil kontrak berpotensi mengalami kegagalan atau perubahan perilaku.
Risikonya terutama muncul pada kontrak yang menggunakan hardcoded gas limit, ketergantungan pada stipend gas tertentu, logika berbasis gasleft(), ataupun transaksi yang sudah ditandatangani dengan nilai gas tetap.
Karena itu, developer Ethereum tidak hanya menguji seberapa jauh throughput dapat dinaikkan, tetapi juga apakah perubahan pricing baru tetap kompatibel dengan ekosistem aplikasi yang sudah berjalan.
Hal ini membuat Sepolia pada 6 Oktober menjadi penting. Jika masalah besar muncul pada testnet, masih ada ruang bagi developer untuk mengubah implementasi sebelum Glamsterdam dibawa ke jaringan produksi.
Sepolia Jadi Tes Serius Sebelum Glamsterdam Menuju Mainnet
Aktivasi pada 6 Oktober juga bukan eksperimen yang dimulai dari nol.
Release pengujian resmi tests@v21.0.0 pada 23 September menjadi fixture release pertama yang memasukkan Amsterdam dengan target Glamsterdam Sepolia. Berdasarkan repositori Ethereum execution-specs, tim telah melakukan review mendalam terhadap 15 EIP execution-layer.
Jumlah pengujian Amsterdam meningkat dari 3.996 menjadi 4.824 unique parameterised test cases, bertambah sekitar 21 persen.
Pengujian tersebut mencakup batas gas, refunds, pembuatan kontrak, SELFDESTRUCT, Block-Level Access Lists, system contracts hingga transisi fork.
Kesiapan klien juga sudah semakin terlihat. Dari sisi consensus, klien yang tercantum kompatibel untuk Sepolia mencakup Grandine, Lighthouse, Lodestar, Nimbus, Prysm dan Teku. Dari sisi execution, dukungan datang dari Besu, Ethrex, Erigon, Geth, Nethermind dan Reth.
Dengan demikian, 6 Oktober menjadi ujian teknis pertama yang cukup besar bagi Ethereum pada fase awal Uptober.
Jika aktivasi Sepolia berlangsung stabil, perhatian berikutnya akan beralih ke Hoodi sebelum Glamsterdam pada akhirnya menuju mainnet.
Untuk sementara, roadmap Ethereum masih menempatkan Glamsterdam pada kuartal ke-4 2026, tetapi tanggal mainnet belum ditetapkan.
Karena itu, katalis tersebut sebaiknya tidak dibaca sebagai jaminan bahwa harga ETH akan langsung melonjak setelah 6 Oktober.
Yang sedang diuji justru lebih mendasar, yakni apakah arsitektur baru Ethereum cukup stabil untuk membawa layer-1 menuju kapasitas yang jauh lebih besar. Jika Sepolia berhasil melewati tahap tersebut, Uptober ETH tidak hanya mempunyai narasi musiman pasar, tetapi juga tonggak teknis yang semakin mendekati implementasi nyata.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


