Harga XRP kembali mengalami tekanan dalam 24 jam terakhir dengan penurunan sebesar 3,14 persen, di tengah kondisi pasar yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Meski demikian, sejumlah data on-chain dan analisis pasar menunjukkan adanya indikasi awal fase akumulasi, terutama dari sisi berkurangnya pasokan di bursa dan melemahnya tekanan jual dari pelaku besar.
Pada saat artikel ini disusun, harga XRP bergerak di tengah volume perdagangan spot sebesar sekitar US$644,40 juta dalam 24 jam terakhir, dengan kapitalisasi pasar mencapai US$82,34 miliar. Performa harga XRP ini terjadi ketika aktivitas spekulatif di pasar derivatif masih tergolong terbatas, meskipun likuiditas tetap terjaga.
Analis Amr Taha di CryptoQuant mengungkapkan bahwa tren penarikan XRP dari bursa, khususnya Binance, masih terus berlanjut.

Data menunjukkan bahwa nilai cumulative netflow XRP di Binance turun dari sekitar -US$10,4 miliar pada pertengahan Agustus 2025 menjadi -US$11,23 miliar saat ini. Kondisi ini mencerminkan bahwa semakin banyak XRP yang keluar dari bursa, yang umumnya diartikan sebagai berkurangnya tekanan jual di pasar.
“Lebih banyak XRP telah keluar dari Binance, tetapi trader dengan leverage tinggi masih belum kembali,” ungkap Amr Taha.
Data menunjukkan bahwa pasokan XRP di bursa terus menipis, sementara trader derivatif masih enggan membangun eksposur leverage yang agresif.
Selain itu, Amr Taha menegaskan bahwa meskipun aktivitas spekulatif masih ada, tingkat keyakinan pasar belum mencapai level yang biasanya mendorong pergerakan besar.

Open interest XRP di Binance tercatat hanya sedikit di atas US$200 juta sejak pertengahan Februari 2026, menunjukkan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya mengambil posisi berisiko tinggi.
Sinyal Akumulasi Saat Mayoritas Investor Merugi
Dari sisi on-chain, kondisi pasar XRP saat ini menunjukkan gambaran yang kontras. Di satu sisi, hanya sekitar 43,4 persen dari total pasokan XRP yang berada dalam kondisi cuan, level terendah dalam 21 bulan terakhir.
Data ini mencerminkan bahwa mayoritas investor masih berada dalam posisi rugi, yang secara historis sering terjadi pada fase akhir tekanan pasar.
Pada saat yang sama, arus dana keluar dari produk XRP ETF spot juga tercatat mencapai sekitar US$31 juta sepanjang Maret 2026, dan masih berlanjut hingga awal April. Hal ini mengindikasikan bahwa minat institusional terhadap harga XRP dalam jangka pendek masih relatif lemah.

Namun, sinyal yang lebih konstruktif muncul dari pergerakan whale. Data menunjukkan bahwa aliran XRP dari wallet besar ke bursa mengalami penurunan pesar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan jual dari pemegang besar mulai berkurang, yang dapat membuka ruang bagi stabilisasi harga XRP dalam waktu dekat.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan fase “shakeout,” di mana investor lemah keluar dari pasar, sementara pelaku besar mulai mengakumulasi aset secara bertahap. Jika pola ini berlanjut, maka harga XRP berpotensi memasuki fase re-akumulasi sebelum pergerakan berikutnya terbentuk.
Dari Konsolidasi ke Potensi Lonjakan Besar XRP
Dari sisi teknikal, analis GainMuse menilai bahwa harga XRP saat ini sedang membentuk struktur broadening wedge setelah periode konsolidasi panjang. Pola ini umumnya menjadi dasar bagi pergerakan besar berikutnya, terutama jika didukung oleh peningkatan permintaan di area support.

Saat ini, harga XRP tengah bergerak menuju zona support penting di kisaran US$1,30 hingga US$1,31. Area ini dinilai sebagai zona permintaan tinggi yang berpotensi menjadi titik masuk bagi pembeli. Selama level tersebut mampu bertahan, peluang pantulan tetap terbuka.
Dalam skenario pemulihan, harga XRP diperkirakan akan kembali menguji level US$1,36 sebagai konfirmasi awal pembalikan arah. Jika berhasil, maka potensi kenaikan dapat berlanjut menuju kisaran US$1,41 hingga US$1,42, yang merupakan area likuiditas sekaligus batas atas struktur teknikal saat ini.
Sementara itu, analis Javon Marks memberikan pandangan jangka panjang yang lebih optimistis.

Ia menyebut bahwa harga XRP memiliki potensi kenaikan kuat hingga mendekati US$17, berdasarkan pola pennant breakout besar yang terbentuk pada akhir 2024. Proyeksi tersebut mengindikasikan kemungkinan kenaikan lebih dari 1.000 persen jika pola historis kembali terulang.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



