Harga XRP kembali berada di area krusial setelah menyentuh garis tren turun yang sebelumnya memicu koreksi sekitar 6,4 persen.
Berdasarkan analisis teknikal Token Talk, level tersebut kini menjadi penentu arah pergerakan berikutnya, apakah XRP mampu menembus hambatan dan melanjutkan kenaikan atau justru kembali mengalami penolakan yang berujung pada pelemahan harga.
Pada time frame satu jam yang dibagikan analis, harga XRP terlihat mendekati resistance dinamis yang telah beberapa kali membatasi penguatan sejak pertengahan Juli.
Jika pola yang sama kembali terjadi, potensi penurunan diperkirakan dapat mencapai sekitar 6,42 persen, mendekati skenario koreksi yang pernah terjadi sebelumnya.
Dua Skenario untuk Pergerakan Harga XRP
Menurut Token Talk, area resistance yang berada di kisaran US$1,06 hingga US$1,07 merupakan level paling penting yang harus diperhatikan pelaku pasar. Garis tren turun tersebut sebelumnya berhasil menahan laju kenaikan XRP dan diikuti penurunan harga sekitar 6,4 persen.

Apabila harga XRP kembali gagal menembus resistance tersebut, skenario koreksi serupa dinilai berpeluang terulang. Berdasarkan proyeksi pada grafik, pelemahan sekitar 6,42 persen berpotensi membawa XRP menuju area US$0,99 hingga US$1, yang menjadi target penurunan berikutnya apabila tekanan jual meningkat.
Sebaliknya, jika XRP mampu menembus dan bertahan di atas garis tren tersebut dengan dukungan volume transaksi yang kuat, peluang pembatalan skenario bearish akan semakin besar. Dalam kondisi itu, resistance yang sebelumnya menjadi penghalang berpotensi berubah menjadi area support baru bagi pergerakan harga.
Data Derivatif Tunjukkan Aktivitas Leverage XRP Mulai Mereda
Di sisi lain, analis Amr Taha di CryptoQuant menyoroti bahwa pasar derivatif XRP saat ini beroperasi dengan tingkat leverage yang jauh lebih rendah dibandingkan fase ekspansi besar sepanjang 2025.
Berdasarkan data per 31 Juli, open interest kontrak perpetual berbasis stablecoin di Binance turun menjadi sekitar US$186 juta, level terendah sejak April 2025.

Sementara itu, Bybit mencatat open interest terbesar di antara tiga bursa utama dengan nilai sekitar US$229 juta, atau sekitar US$43 juta lebih tinggi dibandingkan Binance.
Adapun OKX membukukan open interest sekitar US$49 juta. Secara keseluruhan, Bybit dan Binance menguasai hampir 89 persen total open interest gabungan dari ketiga bursa tersebut, menunjukkan aktivitas leverage XRP masih terkonsentrasi di dua platform tersebut.
Meski demikian, Taha menilai penurunan open interest tidak dapat dijadikan indikator tunggal untuk memprediksi arah harga XRP berikutnya. Menurutnya, kondisi tersebut hanya menunjukkan bahwa basis posisi ber-leverage kini lebih ringan dibandingkan tahun lalu.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat, investor tetap perlu memperhatikan indikator lain seperti funding rate, volume perdagangan, likuidasi, serta permintaan di pasar spot.
Dengan demikian, harga XRP kini berada di persimpangan penting. Dari sisi teknikal, kegagalan menembus resistance berpotensi memicu koreksi lanjutan.
Sementara dari sisi derivatif, berkurangnya leverage mencerminkan pasar yang lebih berhati-hati, meski belum cukup untuk memastikan apakah XRP akan melanjutkan kenaikan atau kembali bergerak melemah.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


