Harga XRP kembali menjadi perhatian pasar setelah analis teknikal Cryptollica mengidentifikasi kemunculan sinyal yang disebut sangat jarang terjadi dalam sejarah aset tersebut.
Berdasarkan grafik bulanan yang dibagikannya, indikator Relative Strength Index (RSI) XRP telah memasuki area yang disebut sebagai deep reset zone atau zona oversold ekstrem, kondisi yang menurutnya hanya muncul empat kali dalam 13 tahun terakhir.

Temuan tersebut muncul di tengah fase koreksi yang masih menekan harga XRP sepanjang beberapa bulan terakhir.
Cryptollica menilai kemunculan sinyal ini patut diperhatikan karena tiga kejadian sebelumnya terjadi pada periode yang berdekatan dengan fase reset siklus pasar utama, ketika sentimen investor berada pada titik terendah sebelum pasar mulai membentuk tren baru.
RSI Bulanan XRP Kembali Sentuh Zona Langka
Dalam analisis yang dibagikannya, Cryptollica menyoroti bahwa RSI bulanan XRP kini berada di salah satu level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Ia mencatat kondisi serupa hanya pernah terjadi tiga kali sebelumnya, yakni pada fase-fase yang berdekatan dengan pembentukan dasar pasar dalam siklus sebelumnya.
Selain indikator RSI, struktur jangka panjang harga XRP juga masih bergerak di dalam ascending channel yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Secara historis, setiap kali RSI bulanan memasuki area oversold ekstrem, XRP pada akhirnya mampu membangun fondasi baru sebelum memulai siklus berikutnya.
Kemunculan sinyal keempat ini terjadi setelah harga XRP mengalami koreksi tajam dari puncak lokal yang terbentuk pada 2025. Menurut pengamatan Cryptollica, pola tersebut memiliki kemiripan dengan fase reset yang pernah muncul pada tahun 2017, 2020 dan 2022.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa sinyal tersebut bukan jaminan kenaikan harga dalam waktu dekat. Analisis tersebut lebih menekankan pada fakta bahwa kondisi oversold bulanan yang sangat dalam merupakan peristiwa yang relatif langka dalam sejarah perdagangan XRP dan layak dipantau oleh pelaku pasar.
Harga XRP Terancam Turun Lagi Sebelum Memulai Rebound Besar
Sementara itu, analis teknikal GainMuse melihat harga XRP masih berada dalam tekanan setelah bergerak lebih dalam ke dalam pola descending wedge. Berdasarkan grafik yang dibagikannya, XRP diperdagangkan di sekitar US$1,27 setelah kehilangan area tengah pola tersebut dan bergerak menuju batas bawahnya.

GainMuse memperkirakan harga XRP masih berpotensi mengalami satu kali liquidity sweep tambahan ke bawah sebelum upaya pemulihan yang lebih kuat dapat terjadi. Area US$1,22 hingga US$1,20 kini menjadi zona support utama yang sedang diperhatikan pasar.
Apabila pembeli mulai merespons dari area tersebut, peluang rebound menuju resistance di kisaran US$1,32 hingga US$1,33 dapat kembali terbuka. Ia menilai struktur teknikal saat ini masih tergolong lemah, meskipun sejumlah data fundamental dari ekosistem XRP Ledger menunjukkan perkembangan yang positif.
Data Messari yang dirujuk GainMuse menunjukkan jumlah transaksi harian di XRP Ledger meningkat 35,3 persen selama kuartal pertama tahun ini.
Selain itu, kapitalisasi pasar tokenisasi aset dunia nyata (RWA) di jaringan tersebut juga melonjak 124,1 persen menjadi sekitar US$2,25 miliar. Ripple juga tercatat hadir dalam ajang Money20/20 Europe yang berlangsung pada 2 hingga 4 Juni, menandakan aktivitas perusahaan di sektor pembayaran institusional masih terus berlanjut.
Mastercard Perluas Peran XRPL dalam Settlement Global
Di tengah pergerakan harga XRP yang masih berusaha mempertahankan level teknikal penting, perkembangan dari sisi adopsi teknologi juga terus berlangsung. Mastercard telah mengumumkan perluasan sistem settlement berbasis stablecoin yang kini mencakup RLUSD, stablecoin yang diterbitkan oleh Ripple.
Melalui pengembangan tersebut, XRP Ledger menjadi salah satu blockchain yang terintegrasi ke dalam infrastruktur settlement on-chain Mastercard bersama sejumlah jaringan blockchain lainnya. Sistem ini memungkinkan penyelesaian transaksi berlangsung lebih fleksibel, termasuk pada akhir pekan dan hari libur.
Langkah tersebut merupakan kelanjutan dari kolaborasi yang sebelumnya diumumkan Ripple, Mastercard, Gemini dan WebBank pada akhir 2025. Saat itu, RLUSD mulai diuji untuk mendukung settlement transaksi kartu kredit Gemini yang diterbitkan oleh WebBank melalui XRP Ledger.
Bagi Ripple, perluasan dukungan ini memberikan eksposur yang lebih besar bagi RLUSD sekaligus memperkuat posisi XRP Ledger sebagai salah satu infrastruktur blockchain yang digunakan dalam skenario pembayaran institusional.
Meski Mastercard menggunakan RLUSD sebagai instrumen settlement, aktivitas di jaringan tersebut tetap memanfaatkan XRP sebagai aset native untuk membayar biaya transaksi dan mendukung operasional blockchain.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


