Harga XRP kembali menjadi sorotan setelah analis Mikkybull menilai aset kripto tersebut sedang berada di level teknikal penting yang dalam siklus sebelumnya kerap menjadi titik awal rebound besar.
Dalam analisis terbarunya, Mikkybull menyebut XRP kini menguji area krusial berupa garis bawah dari multi-year ascending parallel channel, sebuah struktur teknikal jangka panjang yang pernah memicu reli tajam pada periode sebelumnya.

Menurut Mikkybull, level ini tidak bisa diabaikan karena sempat menjadi area pantulan besar dalam sejarah pergerakan XRP. Terakhir kali XRP menguji ulang area serupa pada November 2024, harga mencatat reli sekitar 580 persen dalam dua bulan.
Bahkan, saat XRP menyentuh trendline tersebut pada 2017, reli setelahnya disebut mencapai 65.900 persen.
Dengan pola yang dinilai berpotensi kembali berulang, Mikkybull memetakan potensi target harga XRP menuju US$12 apabila skenario pemulihan kembali berjalan. Namun, proyeksi tersebut tetap bergantung pada kemampuan harga mempertahankan area teknikal saat ini dan membangun struktur rebound yang lebih kuat.
Saat artikel ini disusun, harga XRP diperdagangkan di kisaran US$1,42, setara Rp24.694. Dalam 24 jam terakhir, XRP naik 2,57 persen, sementara volume perdagangan hariannya mencapai US$1,65 miliar, turun 19,65 persen. Data ini menunjukkan adanya pemulihan harga jangka pendek, meski aktivitas transaksi belum sepenuhnya menguat.
Sinyal Beli XRP Muncul, Trader Mulai Pantau Rebound
Selain Mikkybull, analis Ali Martinez juga melihat adanya sinyal pembalikan pada grafik jangka pendek XRP. Ia mencatat bahwa indikator TD Sequential saat ini memunculkan sinyal beli pada time frame 4 jam.

Ali menilai sinyal tersebut penting karena indikator yang sama beberapa kali berhasil membaca perubahan tren besar XRP dalam waktu dekat. Ia mencontohkan, pada 6 Mei, TD Sequential sempat memberikan sinyal jual ketika XRP berada di puncak lokal US$1,46. Setelah itu, harga terkoreksi sekitar 5,5 persen dalam 48 jam berikutnya.
Kini, menurut Ali, indikator tersebut telah berbalik menjadi sinyal beli. Ia menilai kondisi itu mengindikasikan tekanan jual lokal mulai mereda dan XRP berpeluang mencoba rebound.
Target terdekat yang ia pantau berada di area resistance US$1,45, sebelum membuka peluang lanjutan menuju US$1,80 jika tekanan supply di atas berhasil ditembus.
Meski demikian, Ali masih menunggu penutupan candle 4 jam untuk mengonfirmasi kekuatan pantulan tersebut. Dengan kata lain, sinyal beli sudah muncul, tetapi validasi teknikal tetap diperlukan agar pergerakan harga XRP tidak hanya menjadi pantulan singkat.
Data Binance Tunjukkan Struktur Belum Sepenuhnya Kuat
Dari sisi on-chain, analis Amr Taha di CryptoQuant menyoroti pelemahan pada indikator XRP Binance Whale vs Retail Spread 30D MA. Dalam analisisnya, ia menyebut pembacaan indikator tersebut turun ke 88,8 persen, salah satu level terlemah sejak 2024.

Meski masih positif, angka itu menunjukkan outflow XRP berukuran besar dari whale masih mendominasi dibandingkan transaksi ritel di Binance. Namun, poin utamanya bukan dominasi ritel, melainkan turunnya spread dari level tinggi sebelumnya yang berada di atas 94 persen.
“Whale masih mengendalikan mayoritas outflow XRP di Binance, tetapi struktur pasar tidak lagi sekuat periode ketika whale-retail spread berada di atas 94 persen,” ujar Amr Taha.
Pada fase sebelumnya, pembacaan di dekat atau di atas 94 persen bertepatan dengan periode ketika harga XRP menunjukkan perilaku kenaikan yang lebih kuat. Karena itu, penurunan ke 88,8 persen mengindikasikan struktur outflow saat ini mulai menjauh dari kondisi pasar yang sebelumnya lebih mendukung reli.
Dengan kondisi tersebut, data on-chain memberi gambaran bahwa meski whale masih dominan, momentum pasar belum sepenuhnya kembali ke fase kuat seperti sebelumnya. Hal ini menjadi faktor penting untuk menilai apakah pantulan harga XRP saat ini memiliki daya lanjut atau hanya bergerak dalam pemulihan terbatas.
Level Harga XRP Ini Disebut Masih Berbahaya untuk Buyer
Di sisi lain, analis GainMuse memberi pandangan lebih hati-hati. Ia menilai XRP masih menguji area yang berisiko bagi posisi long yang terlambat. Menurutnya, harga sempat menembus support US$1,36 dan kini bergerak di dalam pola bearish wedge.

GainMuse menyebut penurunan dari US$1,44 terjadi cukup tajam, sementara pola wedge saat ini belum menunjukkan pemulihan yang meyakinkan. Struktur tersebut dinilai lebih menyerupai jeda sebelum kelanjutan tekanan turun dibandingkan awal pemulihan yang solid.
Menurutnya, sisi kenaikan baru mulai menarik jika XRP mampu merebut kembali level US$1,40 dengan kuat. Area itu menjadi titik resistance penting. Jika harga mampu menutup candle secara bersih di atas level tersebut, struktur teknikal dapat mulai berubah. Namun selama masih berada di bawah US$1,40, bias pasar dinilai tetap bearish.
GainMuse juga memperingatkan bahwa jika level US$1,36 kembali ditembus dengan volume besar, support berikutnya belum terlihat jelas. Kondisi ini dapat menjadi jebakan bagi pembeli yang masuk terlalu cepat tanpa mengetahui area dasar harga yang lebih valid.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


