Pergerakan harga XRP menunjukkan kenaikan terbatas dalam beberapa hari terakhir, namun data on-chain terbaru mengindikasikan bahwa penguatan tersebut belum didukung oleh arus beli yang solid.
Analis on-chain Arab Chain di CryptoQuant mengungkap bahwa meskipun harga sempat pulih ke kisaran US$1,44, struktur likuiditas pasar masih didominasi tekanan jual, sehingga arah tren belum dapat dipastikan.

Berdasarkan data dari Binance, harga XRP memang mencatat pemulihan setelah periode penurunan. Namun, indikator Cumulative Volume Delta (CVD) justru berada di level negatif sekitar -7,18 juta.
Angka ini mencerminkan dominasi order jual dibandingkan beli di pasar derivatif, yang berarti kenaikan harga tidak didorong oleh permintaan kuat, melainkan lebih disebabkan oleh berkurangnya tekanan jual.
“Pergerakan harga saat ini tidak didukung arus beli yang kuat, melainkan lebih dipengaruhi penurunan tekanan jual,” ungkap Arab Chain.
Kondisi tersebut menempatkan XRP dalam fase transisi, di mana terdapat ketidaksesuaian antara pergerakan harga dan aliran likuiditas. Meskipun demikian, data juga menunjukkan adanya perbaikan bertahap.
Indeks korelasi antara harga dan CVD dalam 30 hari terakhir berada di kisaran 0,61, yang menandakan hubungan antara pergerakan harga dan likuiditas mulai kembali selaras dibandingkan periode sebelumnya.
Arus XRP ETF Menguat, Sinyal Awal Perubahan Pasar
Di tengah kondisi likuiditas yang masih lemah, analis lain, Vlad Anderson, mencatat adanya perubahan penting dari sisi permintaan institusional.
Ia menyebut bahwa produk ETF berbasis XRP di pasar spot mencatat arus masuk terbesar dalam sekitar 11 minggu terakhir, dengan nilai mencapai sekitar US$17 juta dalam satu hari dan empat hari berturut-turut mencatat arus positif.

Menurutnya, fenomena ini bukan didorong oleh euforia investor ritel, melainkan alokasi terstruktur dari institusi besar seperti Bitwise, Franklin, dan 21Shares yang mulai menunjukkan permintaan konsisten.
Sejalan dengan itu, harga XRP juga merespons secara bertahap, mencatat kenaikan sekitar 6 persen dalam sepekan dan bertahan di kisaran US$1,40, setara Rp24.188.
Anderson menilai bahwa stabilitas harga di tengah peningkatan arus masuk tersebut merupakan sinyal awal dari perubahan profil likuiditas pasar.
Namun, ia juga menekankan bahwa kondisi ini masih berada pada tahap awal dan belum mencerminkan tren kenaikan penuh. Jika arus masuk berlanjut, maka harga XRP berpotensi naik secara bertahap, tetapi jika mereda, pergerakan kemungkinan tetap terbatas dalam kisaran tertentu.
Sinyal Beli Muncul, XRP Harus Tembus Resistance Kunci
Sementara itu, dari sisi teknikal, analis Ali Martinez mengungkap bahwa indikator SuperTrend pada grafik harian XRP telah berbalik menjadi bullish untuk kali pertama sejak 17 Januari. Perubahan ini mengakhiri periode panjang tekanan jual dan memberikan sinyal awal potensi pembalikan tren.

Namun demikian, Martinez menegaskan bahwa level US$1,55 menjadi titik krusial yang harus ditembus.
Jika harga XRP mampu ditutup di atas level tersebut secara konsisten, maka peluang terjadinya relief rally akan terbuka, dengan target berikutnya berada di sekitar US$1,90. Sebaliknya, kegagalan menembus resistance tersebut berpotensi membuat harga kembali tertahan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


