Harga XRP menunjukkan kenaikan tipis dalam 24 jam terakhir di tengah melemahnya aktivitas pasar dan partisipasi trader.
Berdasarkan data terbaru dari analis on-chain Arab Chain di CryptoQuant, volume perdagangan XRP di Binance justru turun ke level terendah sejak 2025, mencerminkan momentum pasar yang masih terbatas.
Pada saat artikel ini disusun, harga XRP diperdagangkan di kisaran US$1,35, setara Rp23.130, dengan kenaikan harian sebesar 0,55 persen.
Namun, di saat yang sama, volume perdagangan 24 jam tercatat turun 22,27 persen menjadi sekitar US$1,96 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga XRP terjadi di tengah likuiditas yang menurun.
Arab Chain menyatakan bahwa kondisi ini menandakan pasar sedang kehilangan tenaga dalam jangka pendek.
“Volume Z-Score XRP di Binance telah turun ke level terendah sejak 2025, menunjukkan melemahnya aktivitas perdagangan dan minat trader jangka pendek,” ujarnya.

Penurunan ini tercermin dari indikator Volume Z-Score (30 hari), yang kini berada di bawah -1. Artinya, volume perdagangan XRP saat ini berada di bawah rata-rata historisnya dalam 30 hari terakhir.
Dalam praktiknya, kondisi ini sering dikaitkan dengan fase pasar yang cenderung menunggu arah, di mana pelaku pasar menahan diri sebelum mengambil posisi baru.
Aktivitas Derivatif XRP Turun, Partisipasi Trader Melemah
Selain data spot, tekanan juga terlihat pada pasar derivatif. Berdasarkan data dari CoinGlass, volume derivatif XRP tercatat turun 21,21 persen menjadi US$2,16 miliar. Sementara itu, open interest justru naik tipis 1,15 persen ke level US$2,45 miliar.

Kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran perilaku pasar, di mana posisi terbuka masih bertahan, tetapi aktivitas perdagangan secara keseluruhan menurun. Dalam konteks ini, harga XRP cenderung bergerak tanpa dorongan kuat dari sisi volume, sehingga potensi pergerakan besar masih tertahan.
Analis Vlad Anderson menilai bahwa XRP saat ini berada dalam fase pasar yang cenderung tenang, namun berisiko disalahartikan oleh banyak trader. Ia menjelaskan bahwa aliran on-chain relatif datar, dengan keseimbangan antara akumulasi dan distribusi yang sedikit condong ke sisi penjual.

Menurutnya, kondisi ini lebih berbahaya dibanding penurunan tajam karena tekanan jual terjadi secara perlahan dan konsisten, sehingga mengikis momentum pasar. Ia juga menyoroti bahwa partisipasi trader menurun, terlihat dari open interest yang mulai melemah, funding rate yang sedikit negatif, serta penggunaan leverage yang menurun.
Lebih lanjut, Anderson menambahkan bahwa XRP saat ini belum memasuki fase akumulasi, tetapi juga belum menunjukkan tanda breakdown. Ia menyebut kondisi ini sebagai “liquidity pause,” di mana pasar sedang menunggu pemicu baru sebelum menentukan arah tren berikutnya.
Struktur Harga Masih Tertahan, Pasar Tunggu Pemicu
Di sisi lain, analis Jens mengungkapkan bahwa harga XRP saat ini bergerak dalam fase konsolidasi pada time frame 4 jam, setelah mengalami penurunan sebelumnya. Harga berada di tengah range, sekitar US$1,35, yang umumnya dianggap sebagai zona netral atau “no-trade zone.”

Ia mencatat adanya zona demand kuat di kisaran US$1,28 hingga US$1,32, yang beberapa kali berhasil menahan penurunan harga XRP. Di sisi lain, resistance utama berada di area US$1,42 hingga US$1,45, yang sebelumnya telah memicu penolakan harga.
Selama harga XRP belum mampu menembus dan bertahan di atas area resistance tersebut, potensi kenaikan dinilai masih terbatas. Sebaliknya, jika terjadi penolakan kembali, harga berpeluang turun menuju area demand yang lebih rendah.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



