Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan tekanan dalam beberapa hari terakhir, seiring munculnya sinyal teknikal yang mengindikasikan potensi penurunan lanjutan. Pada perdagangan terbaru, Bitcoin berada di level US$90.084, dengan kenaikan 1,28 persen dalam 24 jam, namun masih terkoreksi 6,90 persen dalam sepekan.
Di sisi pasar derivatif, Open Interest tercatat turun 0,06 persen menjadi US$60,51 miliar, menandakan berkurangnya minat spekulatif. Sejumlah analis menilai kondisi ini menjadi peringatan penting bagi holder Bitcoin untuk lebih waspada terhadap risiko pasar dalam waktu dekat.
Sinyal USDT Dominance Tekan Pergerakan Bitcoin
Analis kripto Trader Cash menyoroti pergerakan USDT Dominance (USDT.D) sebagai indikator utama untuk membaca arah Bitcoin. Menurutnya, ketika dominasi USDT naik, hal tersebut biasanya mencerminkan meningkatnya minat investor untuk menyimpan dana dalam bentuk stablecoin, yang sering kali diikuti oleh tekanan pada harga BTC.

Saat ini, USDT.D terlihat mencoba menembus kembali garis tren naik. Trader Cash memetakan dua skenario. Pertama, jika USDT.D tertolak dari trendline, Bitcoin berpotensi mengalami penurunan lanjutan atau “fakeout” sebelum kembali menguat, dengan kemungkinan menguji ulang area US$94.300.
Namun, skenario kedua dinilai lebih berisiko, yakni jika USDT.D berhasil merebut kembali trendline dan naik menuju 6,741 persen, bahkan dalam kondisi ekstrem bisa melonjak ke 7,533 persen.
“Jika USDT.D berhasil menguasai kembali trendline dan bergerak ke level yang lebih tinggi, itu bisa mendorong Bitcoin turun lebih dalam, bahkan ke kisaran US$78.000 hingga US$64.000,” ujar Trader Cash.
Ia menegaskan bahwa pergerakan USDT.D saat ini menjadi acuan penting bagi holder Bitcoin untuk memantau arah pasar berikutnya.
Tekanan Geopolitik Picu Aksi Jual Aset Berisiko
Di sisi makro, analis Linda menilai Bitcoin gagal berfungsi sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait Greenland serta ancaman perang dagang baru dari AS. Dalam kondisi tersebut, investor justru beralih dari aset berisiko, termasuk kripto.
Bitcoin sempat turun ke area US$88.000, atau sekitar 10 persen dari puncaknya. Ethereum (ETH) bahkan terkoreksi lebih dalam, sekitar 15 persen, dan diperkirakan masih berpotensi melemah ke kisaran US$2.900–US$2.800.
Dampak dari sentimen negatif ini juga terlihat pada pasar derivatif, dengan likuidasi posisi long kripto mencapai sekitar US$600 juta.
Secara teknikal, Linda menilai Bitcoin telah menembus garis support naik jangka pendek, yang meningkatkan risiko penurunan lanjutan. Dalam kondisi ketidakpastian global, kripto masih diperlakukan sebagai aset berisiko tinggi, bukan sebagai instrumen perlindungan nilai.
Pola Double Top Jadi Peringatan Tambahan
Sinyal kehati-hatian juga datang dari analis Lofty, yang menyoroti kemiripan pola harga Bitcoin saat ini dengan Double Top pada 2021. Pola tersebut sebelumnya diikuti oleh penurunan tajam harga BTC.

Menurut Lofty, kenaikan Bitcoin hingga sekitar US$97.000 baru-baru ini merupakan bagian dari skenario bull trap, di mana harga terlihat menguat sebelum akhirnya berbalik turun. Jika pola siklus empat tahunan masih berlaku, ia memproyeksikan Bitcoin berpotensi turun hingga US$35.000 pada Februari mendatang.
Secara keseluruhan, kombinasi sinyal dari USDT Dominance, tekanan geopolitik global, serta kemiripan pola teknikal dengan siklus sebelumnya menunjukkan bahwa risiko koreksi masih membayangi pasar.
Meskipun Bitcoin masih bertahan di atas level psikologis US$90.000, arah pergerakan selanjutnya sangat bergantung pada reaksi pasar terhadap indikator-indikator kunci tersebut.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



