Hong Kong membidik posisi sebagai pusat keuangan terbesar kedua di dunia melalui pengembangan tokenisasi aset dunia nyata (RWA).
Berdasarkan laporan PANews, target tersebut disampaikan CEO HashKey Group, Xiao Feng, dalam Cryptofi Forum di Hong Kong pada Kamis (12/2/2026).
Ia menilai transformasi aset tradisional menjadi token berbasis blockchain dapat memperkuat daya saing Hong Kong di tengah persaingan global dengan pusat keuangan seperti London.
Menurut Xiao Feng, Hong Kong memiliki kombinasi unik antara sistem hukum yang matang, infrastruktur pasar modal yang lengkap, dan kesiapan teknologi untuk mengembangkan tokenisasi aset dalam skala institusional.
“Hong Kong memiliki fondasi institusional yang kuat untuk mengintegrasikan keuangan tradisional dengan teknologi blockchain,” ujar Xiao Feng.
Ia menekankan bahwa model ini bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan strategi jangka panjang untuk memperluas peran Hong Kong dalam arsitektur keuangan global.
Strategi Hong Kong dalam Tokenisasi RWA
Langkah yang ditempuh kawasan tersebut berfokus pada integrasi penuh rantai nilai pasar keuangan, mulai dari kustodian, penerbitan, penjamin emisi, hingga perdagangan aset dalam satu ekosistem yang terkoordinasi.
Tokenisasi RWA memungkinkan aset seperti obligasi, dana pasar uang, hingga instrumen pasar modal lainnya direpresentasikan dalam bentuk token digital di jaringan blockchain.
Saat ini, implementasi RWA di Hong Kong masih banyak berlangsung dalam skema over-the-counter (OTC) antar institusi.
Model tersebut dinilai lebih sesuai untuk tahap awal karena melibatkan investor profesional dengan volume besar dan kebutuhan likuiditas terukur. Namun, ke depan, skema ini berpotensi berkembang menuju integrasi yang lebih luas dengan ekosistem keuangan berbasis blockchain.
Melalui pendekatan tersebut, Hong Kong berupaya meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas akses investasi melalui kepemilikan fraksional, serta mempercepat proses penyelesaian perdagangan yang selama ini memerlukan waktu lebih panjang dalam sistem tradisional.
Tokenisasi RWA juga dipandang sebagai jembatan antara keuangan tradisional dan infrastruktur digital.
Dukungan Ekosistem dan Sinyal Institusional
Ambisi Hong Kong untuk memperkuat posisinya di sektor aset digital juga mendapat sorotan dari pelaku industri global.
Co-CEO Binance, Richard Teng, dalam pernyataan terbarunya menyampaikan bahwa Hong Kong memiliki potensi besar menjadi pusat kripto global karena didukung infrastruktur keuangan mapan, talenta profesional, serta kapasitas institusional yang kuat.
Ia menilai kombinasi faktor tersebut membuat Hong Kong berada dalam posisi strategis untuk menarik perusahaan dan investor kripto internasional.
Selain itu, Richard Teng juga menyoroti tren akumulasi oleh investor institusional. Pada Januari 2026, institusi keuangan dilaporkan menambah sekitar 43.000 BTC ke dalam portofolio mereka. Aksi tersebut dipandang sebagai sinyal kepercayaan pelaku besar terhadap aset digital utama di tengah kondisi pasar yang volatil.
Di sisi lain, Binance memperluas integrasi antara keuangan tradisional dan kripto melalui kemitraan dengan Franklin Templeton. Kerja sama tersebut memungkinkan dana pasar uang yang telah ditokenisasi digunakan sebagai jaminan atau kolateral dalam aktivitas perdagangan di platform Binance.
Skema ini memberikan fleksibilitas bagi investor institusional untuk mengoptimalkan modal tanpa harus sepenuhnya mencairkan aset tradisional mereka.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



