Hyperliquid Bersiap Hadapi Ancaman Quantum, HYPE Kini Punya Benteng Baru

Ancaman komputer kuantum terhadap kriptografi aset digital mulai mendorong lahirnya lapisan keamanan baru.

qLABS pada Selasa (22/9/2026) mengumumkan qVAULT kini beroperasi di HyperEVM, menghadirkan perlindungan post-quantum untuk token HYPE dan qONE tanpa perlu mengubah mekanisme dasar jaringan Hyperliquid.

Berbeda dari migrasi kriptografi pada level blockchain, qVAULT bekerja sebagai smart contract non-kustodial. Aset yang ditempatkan di dalam vault membutuhkan lapisan otorisasi tambahan berbasis kriptografi post-quantum sebelum dapat ditarik.

Artinya, perlindungan tersebut tidak menjadikan seluruh jaringan Hyperliquid kebal terhadap serangan komputer kuantum. Ia hanya menambahkan pengamanan pada aset yang disimpan di dalam smart contract qVAULT.

“qVAULT.xyz tidak pernah menyimpan dana pengguna, tidak ada perubahan pada blockchain yang mendasarinya, dan perlindungan bersifat opsional (memerlukan aktivasi),” jelas qLABS dalam pengumumannya.

Falcon Jadi Benteng Tambahan untuk HYPE

Untuk lapisan autentikasi tersebut, qVAULT menggunakan Falcon, algoritma digital signature berbasis lattice yang dipilih National Institute of Standards and Technology (NIST) untuk proses standardisasi post-quantum.

NIST sendiri masih mengembangkan Falcon menuju FN-DSA atau FIPS 206. Dalam riset NIST yang diterbitkan Mei 2026, lembaga tersebut menilai Falcon menawarkan performa dan ukuran kunci yang menarik, tetapi implementasinya memiliki tantangan tersendiri akibat penggunaan floating-point maupun fixed-point arithmetic.

Pada qVAULT, signature Falcon diverifikasi langsung oleh smart contract. Menurut qLABS, pendekatan tersebut diterapkan setelah proses review untuk menghindari desain yang hanya mengandalkan compressed dari Falcon proof dan Groth16 verifier.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Dengan desain itu, penguasaan private key wallet biasa saja seharusnya belum cukup untuk menarik aset dari vault karena penyerang masih harus melewati autentikasi post-quantum tambahan.

BACA JUGA:  Harga XRP Terkunci 7 Bulan, Kini Sinyal Ledakan Besar Mulai Terlihat

Riset Google Perlihatkan Ancaman Kuantum Kian Serius

Urgensi perlindungan semacam ini mendapat konteks tambahan dari penelitian Google Quantum AI.

Dalam paper tentang kerentanan cryptocurrency terhadap komputer kuantum, peneliti Google bersama sejumlah akademisi menghitung bahwa Elliptic Curve Discrete Logarithm Problem 256-bit pada kurva secp256k1 secara teoritis dapat ditembus menggunakan sekitar 1.200 logical qubits dan 90 juta Toffoli gates, atau alternatif sekitar 1.450 logical qubits dengan 70 juta gates.

Pada arsitektur superconducting dengan asumsi tertentu, rangkaian itu diperkirakan dapat dijalankan dalam hitungan menit menggunakan kurang dari 500.000 physical qubits.

Namun, angka tersebut bukan berarti ancaman tersebut sudah dapat dieksekusi menggunakan komputer kuantum saat ini. Penelitian itu menghitung kebutuhan sumber daya untuk cryptographically relevant komputer kuantum di masa depan, sementara perangkat yang mampu menjalankan serangan tersebut belum tersedia.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Mulai Bergerak Sesuai Skenario, Level Ini Jadi Babak Penentunya

Ethereum Pun Mulai Mengejar Target 2029

Ancaman kuantum bukan hanya menjadi perhatian perusahaan keamanan khusus. Ethereum Foundation juga telah memasukkan post-quantum cryptography ke dalam agenda jangka panjangnya.

Melalui roadmap keamanan Ethereum, jaringan ini menargetkan infrastruktur inti post-quantum sekitar 2029. Sistem yang perlu diperbarui bukan hanya signature akun ECDSA, tetapi juga BLS signatures pada consensus layer serta sejumlah komponen kriptografi lain.

Dalam pembaruan prioritas September, Ethereum Foundation bahkan menetapkan target agar L1 menjadi quantum-resistant pada execution, consensus dan data layer pada Desember 2029, sembari menegaskan bahwa waktu kedatangan komputer kuantum yang benar-benar mampu membobol sistem kriptografi masih sulit dipastikan.

Perbedaannya, Ethereum mengejar perubahan pada level protokol, sementara qVAULT mencoba menawarkan perlindungan lebih cepat di application layer.

Audit qVAULT Masih Punya Catatan

qLABS menyebut smart contract qVAULT telah ditinjau Fairyproof, sedangkan implementasi Falcon di-review oleh TechSlayers. Namun, dokumentasi publik yang tersedia saat ini memberikan sejumlah batasan yang perlu diperhatikan.

BACA JUGA:  PENGU Masuk Robinhood Chain, Apakah Reli Besar Akan Dimulai?

Laporan Fairyproof yang ditautkan oleh qLABS sebenarnya berjudul QONE Token Issuance dan dilakukan pada Februari 2026.

Cakupan audit tersebut secara eksplisit tidak mencakup file Falcon512Authorizer.sol dan falcon_512_test.sol. Fairyproof juga menemukan satu isu ber-level rendah terkait risiko transfer terkunci jika authorizer salah dikonfigurasi, dengan status acknowledged.

Sementara itu, qLABS menyatakan review TechSlayers tidak menemukan masalah keamanan pada implementasi Falcon terbaru, tetapi laporan konsolidasinya belum tersedia publik pada saat artikel ini disusun.

Dengan demikian, peluncuran qVAULT menjadi salah satu eksperimen menarik dalam membawa post-quantum security langsung ke aset kripto tanpa menunggu seluruh blockchain bermigrasi.

Namun, perlindungan tersebut tetap terbatas pada aset di dalam vault dan bukan jaminan bahwa infrastruktur Hyperliquid secara keseluruhan telah menjadi quantum-resistant.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait