Hyundai Group kembali menjadi sorotan setelah kantor pusatnya di Seoul menerima ancaman bom melalui email. Pelaku menuntut tebusan dalam bentuk Bitcoin dan mengancam akan meledakkan sejumlah gedung jika permintaan tersebut tidak dipenuhi.
Hyundai Jadi Target Ancaman Bom Bermodus Bitcoin
Menurut laporan Sisa Journal yang dipublikasikan pada Jumat (19/12/2025), Kepolisian Korea Selatan mengonfirmasi adanya laporan terkait email ancaman yang diterima Hyundai Group. Ketegangan pun sempat menyelimuti kantor pusat perusahaan di Seoul.
Dalam pesan tersebut, pelaku secara terang-terangan meminta tebusan sebesar 13 Bitcoin dan mengancam akan segera meledakkan bom yang sudah dipasang jika permintaannya tidak dipenuhi.
“Jika Anda tidak memberikan saya 13 Bitcoin, saya akan meledakkan gedung Hyundai Group pukul 11.30 pagi, lalu membawa bom ke Yangjae-dong dan juga meledakkannya,” tulis pelaku.
Ancaman ini menyasar dua lokasi, yakni gedung Hyundai Group di Yeonji-dong, Jongno-gu, serta menara Hyundai Motor Group di Yangjae-dong, Seocho-gu, Seoul. Tebusan 13 Bitcoin yang diminta setara sekitar US$1,1 juta atau KRW 16,4 miliar.
Merespons laporan itu, polisi mengerahkan pasukan khusus dan melakukan penyisiran menyeluruh. Hingga pemeriksaan selesai, tidak ditemukan bahan peledak, dan aktivitas di kedua lokasi berangsur kembali normal.
Teror Beruntun, Perusahaan Besar Korea Ikut Diteror
Kasus yang menimpa Hyundai bukanlah peristiwa pertama. Dalam beberapa waktu terakhir, gelombang ancaman bom dilaporkan meningkat dan menyasar perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan, terutama kelompok usaha chaebol.
Sebelumnya, Samsung menerima ancaman serupa. Pelaku bahkan menyebut Ketua Eksekutif Samsung, Lee Jae-yong. Ancaman tersebut muncul di papan layanan pelanggan Kakao dengan klaim akan meledakkan kantor pusat Samsung.
“Saya akan meledakkan kantor pusat Samsung Electronics di Yeongtong-gu, Suwon, dan menembak Ketua Lee Jae-yong dengan senjata rakitan,” tulis pelaku dalam pesannya.
Ancaman lain juga muncul melalui formulir pendaftaran daring milik KT. Pesan mengklaim telah dipasang bom rakitan di gedung KT Bundang di Jeongja-dong, Seongnam, sehingga memicu pemeriksaan ketat terhadap sejumlah fasilitas vital.
Tak hanya itu, Kakao, Naver, serta kantor Kakao di Jeju dan Pangyo juga dilaporkan menerima pesan ancaman serupa. Meski aparat memastikan tidak ada bahan peledak yang ditemukan, rasa cemas di kalangan karyawan dan warga sekitar tetap tak terhindarkan.
Saat Kripto Disalahgunakan untuk Aksi Teror
Fenomena ancaman bom dengan tuntutan tebusan kripto seperti Bitcoin ternyata tidak hanya terjadi di Korea Selatan. Kasus serupa juga pernah muncul di Indonesia dan menimbulkan keresahan.
Dikutip dari laporan detik pada Oktober lalu, pelaku terdeteksi menggunakan nomor telepon asal Nigeria. Ancaman tersebut dikirim secara acak dan menyasar institusi pendidikan asing.
Pelaku mengirim pesan ancaman ke tiga sekolah asing, masing-masing satu di Jakarta Utara dan dua di Tangerang Selatan. Dalam pesannya, ia menuntut tebusan sebesar US$30.000 dalam bentuk Bitcoin.
“Pesan ini untuk semua orang. Kami telah memasang bom di sekolah kalian. Bom akan meledak dalam 45 menit jika kalian tidak mengirim US$30.000 ke alamat Bitcoin kami,” tulis pelaku dalam pesan singkat tersebut.
Meski ancaman itu berakhir tanpa ledakan, kasus semacam ini memicu kekhawatiran. Otoritas di berbagai negara kini menekankan pentingnya kewaspadaan serta kerja sama lintas negara untuk menekan penyalahgunaan aset kripto sebagai alat pemerasan dan teror.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



