IBIT Jadi Pegangan Favorit Harvard, Gerakan Besar yang Tak Disangka

Harvard University telah meningkatkan kepemilikannya secara signifikan pada iShares Bitcoin Trust (IBIT) dalam laporan 13F terbaru milik Harvard Management Company (HMC) untuk kuartal ketiga 2025.

Berdasarkan pengungkapan tersebut, IBIT kini menjadi posisi tunggal terbesar dalam portofolio investasi yang wajib dilaporkan, sehingga menandai langkah yang jarang dilakukan oleh dana abadi universitas besar di AS.

Kenaikan alokasi ini menarik perhatian publik karena Harvard sebelumnya tidak dikenal sebagai institusi yang agresif terhadap aset berbasis kripto.

Analis ETF Bloomberg Eric Balchunas menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk validasi kuat bagi Bitcoin ETF, dengan menyatakan bahwa sangat jarang endowment seperti Harvard atau Yale membeli ETF jenis ini.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Data menunjukkan bahwa Harvard memegang sekitar 6,81 juta saham IBIT per akhir kuartal ketiga 2025. Jumlah itu bernilai kurang lebih US$442,8 juta dan mencerminkan kenaikan lebih dari 250 persen dibandingkan posisi kuartal kedua, yang berada di kisaran 1,9 juta saham.

Laporan tersebut juga mengonfirmasi bahwa IBIT menjadi peningkatan posisi terbesar universitas sepanjang periode Q3.

BACA JUGA:  Harvard Kurangi Bitcoin ETF, Mulai Borong Ethereum ETF

Dengan alokasi sekitar 1 persen dari total dana abadi yang bernilai ratusan miliar dolar AS, Harvard kini masuk dalam jajaran 20 besar pemegang IBIT secara global dan menempati posisi ke-16 berdasarkan ukuran kepemilikan.

Lonjakan Kepemilikan dan Konteks Institusional

Langkah Harvard ini menjadi sorotan karena menunjukkan perubahan pendekatan institusi pendidikan besar terhadap instrumen aset digital yang teregulasi.

Laporan 13F yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) mencatat setiap aset yang wajib dilaporkan sesuai aturan yang berlaku, sehingga memberikan gambaran terbatas tetapi tetap penting mengenai pergeseran strategi portofolio.

Dalam konteks tersebut, keputusan Harvard untuk menempatkan IBIT sebagai posisi terbesarnya merupakan langkah yang tidak lazim. Endowment besar biasanya lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset kripto atau instrumen turunan yang volatil.

Meskipun nilai investasinya relatif kecil dibandingkan total dana abadi, keputusan tersebut dinilai memiliki bobot simbolis yang signifikan. Hal ini terutama karena universitas ternama seperti Harvard sering dianggap sebagai tolok ukur praktik investasi institusional yang konservatif dan berbasis analisis jangka panjang.

BACA JUGA:  Wacana Revisi UU P2SK Bayangi Masa Depan Industri Kripto Indonesia

Dengan masuknya IBIT dalam portofolio terbesar, pasar menilai bahwa eksposur terhadap Bitcoin melalui ETF semakin dapat diterima oleh kalangan institusi arus utama.

Balchunas menilai bahwa langkah ini sangat jarang dilakukan dan mencerminkan tingkat kepercayaan tertentu terhadap mekanisme ETF yang dinilai lebih stabil dan sesuai kerangka regulasi.

Motif Investasi Harvard Masih Tertutup 

Latar belakang dari kenaikan kepemilikan tersebut belum dijelaskan secara terbuka oleh pihak Harvard Management Company.

Tidak ada pernyataan resmi mengenai alasan strategi, toleransi risiko, maupun pandangan mereka terhadap perkembangan pasar aset digital.

Namun, analis memperkirakan bahwa keputusan ini dapat berkaitan dengan upaya diversifikasi portofolio dalam menghadapi dinamika ekonomi global, volatilitas pasar obligasi, serta meningkatnya minat terhadap aset alternatif yang dianggap memiliki potensi lindung nilai di tengah ketidakpastian makro.

Selain itu, penggunaan ETF memberi keuntungan bagi institusi karena tidak memerlukan pengelolaan kunci privat, penyimpanan aset kripto, atau mekanisme keamanan blockchain yang kompleks.

BACA JUGA:  Mengulik Isu Mukhamad Misbakhun Jadi Calon Bos OJK yang Baru

Dengan demikian, ETF menawarkan cara yang lebih mudah bagi investor besar untuk memperoleh paparan terhadap Bitcoin tanpa harus terlibat dalam proses teknis aset digital.

Regulasi yang lebih jelas dan meningkatnya adopsi Bitcoin ETF oleh pasar juga menjadi faktor yang mendorong institusi untuk mempertimbangkan instrumen semacam ini.

Dengan kepemilikannya yang meningkat drastis dan posisinya sebagai pemegang IBIT terbesar ke-16, Harvard kini menjadi salah satu contoh paling menonjol mengenai bagaimana institusi tradisional mulai membuka diri terhadap aset digital dalam format yang teregulasi.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia