Tekanan di pasar saham Indonesia belum reda. Setelah jatuh brutal pada akhir pekan lalu, IHSG kembali dibuka merah pada Senin (19/10/2026), bahkan langsung meninggalkan level psikologis Rp5.000.
Namun, cerita berbeda datang dari pasar kripto. Bitcoin justru melesat ke sekitar US$82.500 setelah beberapa hari sebelumnya sempat terlempar ke bawah US$80.000 dan memicu kekhawatiran baru.
Harga IHSG Jebol ke Bawah Rp5.000
Pukulan terbesar datang pada Jumat, 16 Oktober 2026. IHSG ditutup anjlok 11,57 persen ke level Rp5.185,11 setelah kehilangan sekitar 678 poin hanya dalam satu hari perdagangan.
Tekanan tersebut sempat memicu trading halt setelah indeks jatuh lebih dari delapan persen. Secara mingguan, IHSG juga merosot 14,91 persen sepanjang periode 12 hingga 16 Oktober.
Memasuki Senin pagi, tekanan belum selesai. IHSG dibuka turun 4,31 persen ke Rp4.961,88, lalu sekitar pukul 09.35 WIB kembali bergerak lebih dalam di area Rp4.900-an.

Tekanan jual menyeret saham perbankan berkapitalisasi besar. Berdasarkan data TradingView, BBCA menjadi salah satu yang terpukul, sementara BBRI, BMRI, dan BBNI juga bergerak merah pada perdagangan pagi.
Pelemahan saham bank besar membuat tekanan IHSG terasa berat. Pasalnya, kelompok perbankan memiliki bobot besar terhadap indeks dan kerap menjadi salah satu penggerak utama pasar saham Indonesia.

Tekanan IHSG bukan baru muncul dalam beberapa hari terakhir. Sejak awal tahun, indeks sudah terkoreksi tajam dari Rp8.748,13 pada 2 Januari menjadi Rp5.185,11 pada 16 Oktober, atau turun sekitar 40,73 persen.
MSCI Masih Jadi Beban Utama IHSG
Tekanan IHSG tidak lepas dari sentimen yang datang dari MSCI. Pada Kamis lalu, penyedia indeks global tersebut membuka konsultasi terkait kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Dalam pengumuman yang dirilis pada Kamis (15/10/2026), pihak MSCI menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari investability, transparansi struktur kepemilikan saham, hingga dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi yang dinilai belum sepenuhnya teratasi.
Sorotan itu memperbesar kekhawatiran pasar karena MSCI menilai reformasi yang sebelumnya diumumkan regulator belum menunjukkan kemajuan yang konsisten. Keputusan akhirnya dijadwalkan paling lambat pada Juni 2027.
“MSCI memperkirakan usulan perubahan klasifikasi akan dilanjutkan, kecuali proses konsultasi menemukan bukti yang jelas mengenai perbaikan dalam tata kelola dan fungsi pasar yang menjadi dasar untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini,” jelas mereka.
Saat IHSG Babak Belur, Bitcoin Justru Terlihat Lebih Rasional
Ketidakpastian ini langsung menekan sentimen investor. Rupiah ikut melemah, sementara pelaku pasar bergerak lebih defensif karena perubahan klasifikasi bisa mempengaruhi posisi saham Indonesia dalam indeks global.
Tekanan itu akhirnya mendorong pemerintah menanggapi kondisi pasar. Dikutip dari ANTARA pada Jumat (16/10/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa reformasi pasar modal perlu menunjukkan hasil yang nyata.
“Ini menjadi catatan bagi kita ke depan bahwa reformasi itu harus dijalankan dan progresnya itu harus kelihatan, terutama progresnya harus kelihatan bagi para investor dalam negeri maupun luar negeri,” kata Airlangga.
Bitcoin Berbalik Naik saat IHSG Tertekan
Saat IHSG tertekan, Bitcoin justru bergerak ke arah sebaliknya. Pada Senin (19/10/2026), harga BTC menguat sekitar 1,4 persen dan kembali mendekati US$83.000 setelah sempat melemah sepanjang pekan lalu.
Pergerakan ini cukup menarik karena beberapa hari sebelumnya Bitcoin sempat jatuh ke bawah US$80.000. Level psikologis tersebut sempat ditembus, tetapi tekanan jual tidak berlangsung lama.
Dalam waktu sekitar dua jam, BTC kembali naik ke area US$82.000. Pantulan cepat ini menunjukkan bahwa pembeli masih cukup agresif masuk ketika harga mendekati US$80.000.

Sentimen dari pasar global ikut membantu pemulihan BTC. Ekonomi Tiongkok tumbuh 4,5 persen pada kuartal ketiga, lebih tinggi dari perkiraan, sementara harga minyak yang melemah ikut meredakan tekanan pada aset berisiko.
Di saat yang sama, S&P 500 dan Nasdaq futures juga ikut menguat. Kombinasi sentimen tersebut memberi ruang bagi Bitcoin untuk melanjutkan pemulihan setelah sempat ditekan cukup dalam.
Alhasil, pergerakan IHSG dan Bitcoin terlihat cukup kontras. Ketika pasar saham Indonesia masih dibayangi sentimen MSCI, BTC justru mulai menjauh dari US$80.000 dan mendekati US$83.000.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


