IIN, Blockchain Buatan JPMorgan Gandeng Bank dan Fintech Startup

Bank akan memanfaatkan sistem blockchain bernama Interbank Information Network (IIN) untuk mengatasi transfer uang lintas negara. IIN diklaim sebagai sistem yang lebih efisien bagi bank untuk mengatasi permasalahan lama terkait proses pembayaran yang lambat.

IIN merupakan proyek yang dipimpin JPMorgan Chase, agensi keuangan terbesar di Amerika Serikat. Sistem ini bisa memperpendek waktu proses pembayaran antar bank di negara berbeda yang awalnya memakan waktu dua hari menjadi sekejap saja.

“Tentu saja dari sudut pandang ukuran ekosistem dan produksi dengan memiliki [begitu banyak] bank [berpartisipasi] dalam proyek ini, di mana beberapa di antaranya adalah bank terbesar di dunia, maka ini adalah hal yang besar,” kata David Treat, Kepala Terapan Blockchain Accenture, seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Dia melanjutkan bahwa hingga akhir 2017, proyek ini masih bersifat eksperimental dan prototipe. Produksi masih dalam skala kecil.

“Apa yang telah kami lihat tahun ini adalah perpindahan ke tahap produksi dan terapan nyata,” imbuhnya.

Dia mengatakan bahwa IIN saat ini mungkin masih menjadi satu-satunya sistem di kelasnya. Namun dia yakin status itu tak akan disandang IIN dalam waktu terlalu lama. Dia mengklaim bahwa sistem ini membawa “nilai asli” yang akan memberikan kepercayaan diri bagi para pemimpin di industri perbankan.

Di sisi lain, Umar Farooq, Kepala Blockchain di JPMorgan meyakini bahwa sistem ini dan mungkin produk sejenisnya, yang akan dikembangkan di masa depan, tak jauh-jauh dari narasi tentang penghematan biaya bagi bank.

“Blockchain benar-benar teknologi yang hebat, namun saya tidak yakin bahwa perkiraan awal yang semua orang miliki tentang mengurangi sejumlah besar biaya merupakan titik di mana Anda akan melihat banyak produk baru dikembangkan,” kata Umar Farooq.

“Ini akan jauh lebih banyak tentang melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan tanpa teknologi blockchain, menciptakan produk baru. Jika Anda melihatnya murni sebagai mekanisme penghematan biaya, maka dia membatasi potensi teknologi,” lanjutnya.

Alih-alih berkutat dengan isu penghematan biaya, JPMorgan akan mengembangkan IIN untuk membantu bank menangkis persaingan dengan start up teknologi keuangan (fintech), yang telah menawarkan solusi yang lebih murah dan lebih cepat berbanding teknologi perbankan tradisional.

Kemampuan IIN untuk melakukan itu dan apakah dia memiliki dampak nyata di pasar masih harus di lihat ke depan. Namun, JPMorgan memperkirakan bahwa IIN akan menangani lebih dari 300 ribu transaksi dalam sehari. Jumlah ini sangat kecil jika dibandingkan dengan pembayaran lintas batas 14,5 juta yang diproses melalui sistem SWIFT setiap hari.

Kendati demikian, jumlah transaksi tumbuh berlipat-lipat ketika bank-bank baru bergabung dengan IIN. Jaringannya berkembang pesat, dan sekarang memiliki lebih dari 100 anggota.

Dinamika antara IIN dan startup teknologi keuangan juga menjadi lebih menarik, karena selama bertahun-tahun, bank-bank bersikeras bahwa startup teknologi keuangan merupakan teman, bukan musuh.

“Jika fintech mengambil sikap agresif terhadap bank, bukan kemitraan dua arah, tentu saja akan ada persaingan besar dan jalan yang sangat sulit. Ada lebih banyak keutungan jika bekerjasama, kata Farooq.

Farooq mengatakan bahwa sementara ini perusahaan fintech belum “terlibat langsung” di IIN. Namun pihaknya secara aktif berpartisipasi dengan fintech di semua bagian bank.

Kesimpulannya, ketidakefisienan dalam sistem pembayaran bank disebut merupakan salah satu masalah yang sulit dihadapi fintech pihak ketiga, karena solusinya memerlukan pengetahuan yang mendalam tentang masalah-masalah itu. Namun, sebagian besar orang di luar fintech tidak akan memiliki pengetahuan itu. [vins]

Terkini

Warta Korporat

Terkait