Harga emas kembali naik dalam beberapa bulan terakhir, dan banyak yang menganggapnya sebagai bukti bahwa emas masih menjadi standar nilai paling kokoh. Tapi di era digital ini, narasi itu mulai goyah. Di balik klaim “kelangkaan” emas, justru Bitcoin-lah yang punya tolak ukur kapitalisasi lebih transparan, terukur, dan benar-benar mencerminkan prinsip kelangkaan yang sesungguhnya.
Kenaikan harga emas lebih banyak digerakkan oleh sentimen pasar dan ketakutan terhadap inflasi global, bukan oleh peningkatan nilai intrinsik. Sementara itu, Bitcoin hadir dengan mekanisme terbuka yang memastikan pasokannya terbatas dan dapat diverifikasi oleh siapa pun.
Nah, menariknya, ketika bicara soal performa, data justru menunjukkan sesuatu yang lebih mencolok. Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin secara konsisten mengungguli emas dalam hal pertumbuhan nilai dan diperkirakan bakal terus memberikan imbal hasil investasi tinggi setidaknya hingga 2030 mendatang.
Perbandingan keduanya bukan lagi soal “mana yang lebih tua dan aman,” tapi soal “mana yang benar-benar mewakili nilai kelangkaan di era modern.” Berikut adalah ulasan lengkapnya:
BACA JUGA: Mengenal Central Bank Digital Currency (CDBC) yang Sering Dikira Sama Seperti Kripto!
Performa Emas vs Saham vs Bitcoin Saat ini
Data World Gold Council berhasil merekam performa harga emas berdasarkan LBMA Gold Price PM dibandingkan pilihan aset lain seperti MSCI US secara Year to Date (YTD), 10 tahun terakhir, dan juga 20 tahun terakhir secara CAGR (Compound Annual Growth Rate).
Pada tahun 2025 ini, performa emas memang jauh lebih unggul dibandingkan aset lain dengan kenaikan mencapai 52,33 persen vs 25,41 persen dibandingkan indeks MSCI US. Namun, di sisi lain, performanya dalam satu dekade terakhir tidak terlalu memuaskan dengan pertumbuhan 13,18 persen vs 14,47 persen dan 11,26 persen vs 11,08 persen dalam dua dekade terakhir.

Di sisi lain, Bitcoin mengalami kenaikan 17,15 persen YTD dan telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa sejak awal peluncurannya.
Laporan 21st Capital mengatakan Bitcoin berhasil tumbuh sebesar 42,5 persen CAGR sejak awal peluncurannya. Pertumbuhan ini juga diprediksi akan berada di angka 30,4 persen CAGR pada tahun 2030, masih jauh lebih tinggi dibandingkan pilihan aset seperti emas dan saham.

Kondisi ini menyiratkan bahwa dalam jangka panjang, potensi return yang ditawarkan emas tidak seberkilau performanya belakangan ini. Meski keberadaannya sering dijadikan simbol kestabilan dan pilihan aset investasi jangka panjang, faktanya kinerja harga emas tidak jauh berbeda dengan indeks pasar saham tradisional dan jauh lebih rendah dibandingkan performa Bitcoin.
Jika kita mempertimbangkan kemudahan akses, penyimpanan, dan penjualan aset, instrumen investasi saham dan Bitcoin juga masih lebih unggul dibandingkan emas.
Ilusi Kelangkaan Emas
Salah satu alasan utama orang masih percaya pada emas adalah narasi kelangkaannya. Emas sering dipandang sebagai aset jangka panjang yang stabil karena dianggap memiliki pasokan terbatas dan nilai yang cenderung naik dari waktu ke waktu. Tapi kalau dilihat lebih dalam, konsep “kelangkaan” emas ini sebenarnya penuh tanda tanya.
Setiap tahun, tambang baru terus dibuka, supply baru masuk ke pasar, dan tak ada yang benar-benar tahu berapa banyak emas yang akan beredar dalam 10 atau 20 tahun ke depan. Bahkan data total emas di dunia bukan angka pasti, hanya perkiraan.
World Gold Council pada 2025 memperkirakan total cadangan emas di atas permukaan bumi mencapai sekitar 216.265 metrik ton, tapi angka ini bisa berbeda hingga 20 persen tergantung sumber datanya.
Akibatnya, kapitalisasi pasar emas pun sulit diukur secara presisi. Jika harga emas saat ini berada di kisaran US$4.154 per ons, maka nilai total pasar emas diperkirakan sekitar US$28,8 triliun.
Tapi dengan margin ketidakpastian tadi, kapitalisasinya bisa saja berada di rentang US$23,1 triliun hingga US$34,6 triliun. Artinya, “nilai global” emas yang sering dianggap konkret sebenarnya dibangun di atas perkiraan, bukan kepastian.
Di sisi lain, Bitcoin menawarkan kontras yang tajam. Total pasokannya sudah dipatok permanen di angka 21 juta keping, tidak lebih. Mekanisme halving setiap empat tahun juga membuat tingkat inflasinya terus menurun dan menciptakan kelangkaan yang bisa diverifikasi secara publik, bukan hanya diyakini.
Dalam konteks kapitalisasi, Bitcoin menunjukkan bahwa transparansi jauh lebih berharga daripada tradisi.
BACA JUGA: 10 Tempat Trading Crypto Tanpa KTP dan Modal Kecil Terbaru!
Melemahnya Permintaan Emas Pada Q1 dan Q2 2025
Masih melansir laman World Gold Council, data 15 tahun terakhir menunjukan sebagian besar supply emas di pasar berasal dari produksi tambang, diikuti dengan emas daur ulang, dan sedikit lindung nilai produsen bersih (net producer hedging).

Sementara di sisi demand, sektor perhiasan mendominasi di angka 49,3 persen diikuti oleh investasi 29,4 persen, bank sentral 13,3 persen, dan sektor teknologi sebesar 8 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa orientasi pembeli emas di pasar lebih banyak bertujuan untuk menjadikannya perhiasan alih-alih sebagai instrumen investasi.
Selain itu, data juga menunjukkan penurunan permintaan emas secara YoY di hampir semua sektor kecuali sektor investasi.

Sektor investment mengalami kenaikan hampir +169 persen di Q1 dan +78 persen di Q2 dibanding kuartal yang sama pada tahun sebelumnya. Sementara itu, sektor jewellery fabrication justru melemah cukup dalam, turun sekitar -21 persen di Q1 dan -14 persen di Q2.
Di sisi lain, central banks juga mencatat penurunan signifikan di atas -20 persen pada dua kuartal pertama dan sektor technology relatif stabil tanpa perubahan besar dengan angka pertumbuhan +0.22 persen pada Q1 dan -2.04 persen pada Q2 dibandingkan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya.
Tren ini menunjukkan bahwa kontributor-kontributor terbesar dalam pasar emas sedang menahan pembelian emas, kemungkinan karena harganya yang sudah relatif tinggi. Sementara itu, para investor masih terjebak dalam euforia untuk terus membeli emas dengan harga di atas langit.
BACA JUGA: Apa Itu Market Cap Crypto? Pahami Ini Sebelum Investasi!
Prediksi Harga Bitcoin Berdasarkan Model Stock to Flow

Pada 2019, pengguna internet anonim bernama “PlanB” memperkenalkan model Stock-to-Flow (S2F) sebagai alat prediksi harga bitcoin di masa depan. Model ini bekerja dengan membandingkan jumlah total Bitcoin yang sudah beredar (stock) dengan jumlah Bitcoin baru yang ditambang tiap tahun (flow).
Menurut model ini, Bitcoin diprediksi akan berada di kisaran harga US$365.000 pada awal tahun 2026, US$375.000 pada awal tahun 2027, dan akan mencapai harga US$1.000.000 pada tahun 2028.
Kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini masih sekitar sepersepuluh dari emas. Sekalipun hanya menutup celah terhadap emas, apalagi melampauinya, ada alasan untuk mengharapkan pertumbuhan yang pesat. Pasar emas yang sudah matang dapat menghasilkan CAGR di atas 10 persen, sementara Bitcoin berpotensi tumbuh beberapa kali lebih cepat pada tahap perkembangannya saat ini.
Namun, penting dicatat bahwa meski model ini pernah akurat memprediksi siklus harga sebelumnya, ia bukan alat pasti. Faktor eksternal seperti kondisi makroekonomi, regulasi, dan adopsi institusional bisa membuat harga menyimpang dari prediksi model.
Sebagai catatan, sejak halving terakhir pada 2024, model variance S2F terus menurun hingga saat ini berada di zona negatif. Kondisi ini menyiratkan bahwa saat ini harga bitcoin yang sebenarnya berada di bawah prediksi harga model S2F.
Jadi, Mana yang Lebih Bernilai di Era Digital?
Emas lahir dari bumi, tapi nilainya bertumpu pada kepercayaan manusia terhadap kelangkaan yang tak pernah bisa benar-benar dibuktikan. Bitcoin lahir dari baris kode, tapi nilainya dibangun dari sesuatu yang jauh lebih pasti: algoritma, transparansi, dan jumlah pasokan yang sudah ditetapkan selamanya.
Di dunia yang semakin digital, emas mungkin masih mempertahankan kilaunya, tapi Bitcoin mulai bersinar lebih terang. Bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai evolusi dari cara kita memandang nilai dan kepercayaan. Sekarang, pilihan ada di tanganmu, tetap bertahan pada aset tradisional yang dibentuk oleh keyakinan masa lalu, atau melangkah menuju aset digital yang ditopang oleh kejelasan sistem?
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



