INDODAX bersiap menghentikan perdagangan 27 aset kripto pada Kamis mendatang (15/10/2026) pukul 14.00 WIB. Sejumlah token yang masuk dalam daftar tersebut adalah ZetaChain (ZETA), Loopring (LRC) dan Balancer (BAL), sementara pengguna diberi waktu tambahan untuk menarik aset mereka dari platform.
Berdasarkan pengumuman resmi INDODAX yang diterbitkan pada Kamis (8/10/2026), keputusan tersebut diambil setelah perusahaan melakukan evaluasi rutin terhadap performa dan kelayakan proyek kripto yang tersedia di platform.
Langkah ini menjadi gelombang delisting ketiga yang diumumkan INDODAX sejak awal September, sehingga menambah daftar aset yang akan kehilangan akses perdagangan di salah satu bursa kripto Indonesia tersebut.
Secara keseluruhan, 27 aset yang akan dihapus meliputi BAL, COLLAT, DUPE, LADYS, PERP, POLY, RFC, DLC, VOXEL, YFII, MOONPIG, DOGE2, MSHD, VBG, VRA, CHT, KRD, STRM, SLP, D, BONE, AURA, HONEY, LRC, ZETA, SHRED dan H2O.
Meski telah mengumumkan daftar lengkapnya, INDODAX belum memerinci alasan spesifik yang membuat masing-masing aset tersebut tidak lagi dipertahankan untuk perdagangan.
Dengan demikian, belum dapat dipastikan apakah keputusan INDODAX delisting kali ini terutama dipengaruhi likuiditas perdagangan, perkembangan proyek, masalah teknis, ataupun pertimbangan lainnya pada setiap token.
INDODAX Delisting 27 Kripto, Bagaimana Nasib Saldo Pengguna?
Penghentian perdagangan dan deposit akan mulai berlaku pada 15 Oktober 2026 pukul 14.00 WIB. Setelah waktu tersebut, pengguna tidak lagi dapat memperdagangkan 27 aset dalam daftar melalui pasar INDODAX.
Sementara itu, seluruh open order yang belum tereksekusi ketika perdagangan dihentikan akan dibatalkan secara otomatis oleh sistem. Pengguna juga dapat membatalkan pesanan mereka secara mandiri sebelum batas waktu tersebut.
Untuk penarikan aset atau withdrawal, INDODAX memberikan masa tambahan selama sekitar satu bulan, yakni hingga 15 November 2026, pukul 14.00 WIB.
Namun, ketersediaan penarikan tetap bergantung pada kondisi jaringan blockchain dan dukungan dari pengembang proyek terkait. Gangguan jaringan maupun penghentian dukungan teknis dapat menyebabkan proses pemindahan aset terkendala.
Dalam penjelasan mengenai alasan delisting aset kripto, INDODAX menyebut sejumlah faktor yang dapat mendasari keputusan penghapusan aset, mulai dari rendahnya likuiditas, persoalan keamanan jaringan, permintaan pengembang, hingga kepatuhan terhadap regulasi.
Meski begitu, penjelasan tersebut merupakan kebijakan umum perusahaan dan bukan konfirmasi alasan delisting terhadap masing-masing dari 27 token yang baru diumumkan.
INDODAX juga menegaskan bahwa aset yang belum ditarik setelah masa penarikan berakhir akan dikelola berdasarkan syarat dan ketentuan umum perusahaan.
Selain itu, bursa tersebut tidak akan bertanggung jawab maupun memfasilitasi proses migrasi, pertukaran token, atau perubahan identitas proyek yang dilakukan pengembang setelah tanggal delisting.
Bagi pengguna yang masih menyimpan aset terdampak, panduan resmi INDODAX mengenai penarikan token delisting menyarankan pemindahan ke dompet pribadi atau platform lain yang masih mendukung aset bersangkutan.
Pengguna perlu memastikan alamat dompet tujuan dan jaringan yang digunakan sesuai dengan token yang akan dipindahkan agar tidak menimbulkan kendala tambahan dalam proses transaksi.
Adapun dalam penjelasan terpisah mengenai saldo aset yang tidak lagi muncul di Wallet, INDODAX menyatakan bahwa hilangnya tampilan aset dari halaman dompet tidak otomatis menghapus saldo yang masih tercatat.
Kendati demikian, keberhasilan penarikan tetap bergantung pada ketersediaan jaringan dan fitur penarikan. Pengguna yang mengalami kendala diarahkan untuk menghubungi layanan pelanggan.
Tiga Gelombang Delisting, Ada Perkembangan Penting di BAL, LRC dan ZETA
Keputusan terbaru tersebut bukan satu-satunya penghapusan aset yang diumumkan INDODAX dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam pengumuman 3 September 2026, INDODAX sebelumnya menetapkan delisting terhadap 22 aset kripto, termasuk DEFI, LOOKS, DENT, REN, CEL dan SFI, dengan penghentian perdagangan pada 10 September.
Selanjutnya, melalui pengumuman 18 September, perusahaan kembali memasukkan 11 aset ke daftar delisting, antara lain STORJ, COTI, MBOX, PRCL, CLV, SYN dan SIREN. Perdagangannya dijadwalkan berhenti pada 24 September.
Jika digabungkan dengan 27 aset yang diumumkan pada 8 Oktober, terdapat 60 aset kripto yang masuk dalam tiga gelombang pengumuman delisting INDODAX selama sekitar lima pekan.
Namun, jumlah tersebut tidak berarti seluruh 60 aset masih berstatus delisting. Salah satu token dari gelombang pertama, Saffron.Finance (SFI), justru mendapatkan kesempatan untuk kembali diperdagangkan.
Melalui pengumuman relisting pada Selasa (6/10/2026), INDODAX menetapkan pembukaan kembali deposit SFI pada 7 Oktober, disusul perdagangan pair SFI/IDR pada 8 Oktober 2026.
Perkembangan lain juga muncul dari sejumlah proyek kripto yang masuk dalam daftar delisting terbaru.
Salah satunya adalah Balancer. Berdasarkan pembaruan forum tata kelola Balancer pada 29 September, komunitas telah menyetujui proposal BIP-928 untuk menghentikan operasional protokol secara bertahap dan mendistribusikan aset cadangan.
Proposal tersebut menetapkan sejumlah tahapan penting, termasuk transisi menuju fase khusus penarikan bagi kumpulan likuiditas tertentu mulai 30 Oktober, serta dimulainya distribusi cadangan pada akhir Mei 2027.
Di sisi lain, Loopring juga menghadapi perkembangan penting pada layanan perdagangan asetnya.
Bursa kripto Luno, melalui pemberitahuan penghentian dukungan aset di sejumlah negara, menetapkan penutupan perdagangan LRC pada 8 Oktober 2026 untuk pengguna di Indonesia, Malaysia, Nigeria dan Afrika Selatan.
Luno mengaitkan keputusan tersebut dengan penghentian permanen infrastruktur jaringan dasar Loopring, yang menurut penilaiannya menyebabkan LRC tidak lagi memenuhi standar pencatatan aset di platform tersebut.
Sementara itu, ZetaChain tengah mempersiapkan perubahan besar melalui rencana migrasi token ZETA menuju jaringan Solana.
Berdasarkan pengumuman resmi ZetaChain pada 18 September, pemegang ZETA telah menyetujui proposal migrasi tersebut dengan dukungan 99,4 persen suara pada 20 September.
Rencana migrasi mencakup konversi token dengan rasio 1:1, tanpa perubahan total pasokan. Namun, mekanisme pelaksanaan, waktu pengambilan snapshot dan jadwal migrasi masih memerlukan proposal lanjutan serta koordinasi dengan bursa.
Perkembangan ini menjadi relevan bagi pemegang ZETA di INDODAX, mengingat bursa tersebut telah menyatakan tidak akan memfasilitasi migrasi token yang dilakukan pengembang setelah jadwal delisting berlaku.
Meski demikian, belum ada konfirmasi bahwa penghentian operasional Balancer, keputusan Luno terhadap LRC, ataupun rencana migrasi ZETA merupakan penyebab langsung keputusan delisting tersebut.
Dengan jadwal penghentian perdagangan pada 15 Oktober dan batas penarikan 15 November 2026, pengguna yang memiliki salah satu dari 27 aset tersebut memiliki waktu terbatas untuk menentukan langkah terkait kepemilikan token mereka.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


