Kerja sama Indonesia dan Singapura memasuki babak baru, terutama setelah isu regulasi kripto menjadi pusat perhatian dalam pertemuan Airlangga Hartarto dan Gan Kim Yong di Singapura, Selasa 18 November 2025 kemarin. Meski pertemuan bilateral biasanya membahas topik besar seperti perdagangan dan integrasi ekonomi, kali ini aset digital justru muncul sebagai salah satu isu strategis yang menyatukan kepentingan dua negara.
Kedua menteri menilai adopsi kripto yang tumbuh pesat di Asia Tenggara, khususnya di kalangan generasi muda sudah memasuki fase yang menuntut respons kebijakan lebih modern. Bukan hanya menghadirkan regulasi yang lebih jelas, tetapi juga memastikan pasar kripto ASEAN berjalan dengan standar yang kompatibel antarnegara. Di sinilah Indonesia dan Singapura mulai memainkan peran yang makin penting.
Dari Regulasi Domestik ke Standar Regional

Baik Indonesia maupun Singapura punya pendekatan berbeda dalam mengatur kripto. Indonesia bergerak lewat OJK dengan pendekatan market supervision yang lebih inklusif, sedangkan Singapura sudah lebih dulu menerapkan regulasi ketat berbasis perlindungan konsumen dan standarisasi lisensi.
Dengan latar berbeda itu, kesepakatan untuk memperluas koordinasi lintas otoritas jadi perkembangan signifikan. Bukan sekadar berbagi pandangan, Indonesia menyatakan minat bergabung ke Forum FIT yang jadi wadah internasional untuk harmonisasi kebijakan aset digital dan Singapura langsung mendukung langkah tersebut. Ini memberikan sinyal kuat bahwa regulasi kripto ASEAN perlahan mengarah ke model interoperable seperti Uni Eropa.
Buat pasar, efeknya bisa besar. Integrasi standar bisa mempermudah bursa kripto, penyedia layanan token digital, hingga startup web3 yang ingin beroperasi lintas negara tanpa harus memulai dari nol setiap kali masuk ke pasar baru.
Mengapa 2025 Jadi Titik Penting untuk Kripto di Indonesia?

Posisi Indonesia di pasar kripto global sebenarnya lagi naik. Dengan peringkat ke-7 Global Crypto Adoption Index dan transaksi mencapai Rp409 triliun sepanjang 2025, Indonesia sudah termasuk pasar yang terlalu besar untuk bergerak sendirian.
Di sisi lain, Singapura terus menguat sebagai pusat keuangan digital Asia dengan rencana SGX meluncurkan perpetual futures untuk Bitcoin dan Ethereum. Kombinasi ini menciptakan jalur baru dengan Indonesia sebagai pasar ritel kripto terbesar di kawasan, dan Singapura sebagai pusat institusional yang menyediakan instrumen, infrastruktur, dan regulasi kelas global.
Kerja sama dua model ini membuka ruang untuk integrasi ekosistem aset digital ASEAN yang lebih komprehensif, mulai dari perdagangan hingga inovasi produk turunan kripto.
ASEAN Mulai Bergerak, dan Indonesia–Singapura Jadi Pemicu Utama
Kesepakatan dua negara ini muncul di tengah upaya ASEAN memperkuat ekonomi digital. Pembahasan digital trade principles dan rencana penyusunan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) membuat isu kripto tidak bisa lagi dipisahkan dari arsitektur digital regional. Aset digital baik token kripto maupun instrumen berbasis blockchain berpotensi menjadi salah satu komponen inti perdagangan digital kawasan.
Dengan Indonesia dan Singapura mengambil inisiatif awal, arah kebijakan aset digital ASEAN kemungkinan akan terbentuk lebih cepat dari yang sebelumnya diprediksi. Jika proses scoping DEFA berjalan mulus tahun depan, kripto bisa menjadi salah satu topik yang dibahas pertama, seiring meningkatnya urgensi pengaturan yang konsisten antarnegara.
Kolaborasi Kripto yang Bisa Mengubah Peta Blokchain Asia Tenggara
Jika digarap serius, kerja sama ini bukan hanya soal saling mengawasi pasar kripto masing-masing. Kolaborasi Indonesia–Singapura bisa melahirkan:
- standar lisensi aset digital yang saling terhubung,
- pasar kripto regional yang lebih aman dan mudah diakses,
- jalur investasi institusional yang lebih jelas,
- serta ruang inovasi Web3 yang lebih kompetitif untuk startup ASEAN.
Dengan adopsi yang terus naik dan dinamika industri yang makin cepat, langkah yang diambil kedua negara ini berpotensi menjadi fondasi bagi lahirnya arsitektur aset digital ASEAN generasi baru.
Ke Mana Arah Regulasi Kripto ASEAN Setelah Kolaborasi Ini?
Dengan semakin eratnya kerja sama Indonesia dan Singapura dalam mengatur aset digital, muncul harapan baru untuk lahirnya standar kripto kawasan yang lebih jelas dan terintegrasi. Namun di tengah perkembangan yang cepat dan pasar yang terus bergerak dinamis, mampukah kolaborasi dua negara ini menjadi fondasi yang benar-benar mendorong lahirnya ekosistem kripto ASEAN yang lebih aman, kompetitif, dan siap menghadapi masa depan ekonomi digital?
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



