Industri kecerdasan buatan terus menarik aliran modal dalam jumlah besar. Namun, Arthur Hayes justru menyoroti sisi yang jarang dibahas, yakni tumpukan utang AI yang bisa memicu efek domino hingga ke pasar Bitcoin.
Euforia AI Ternyata Ditopang Gunungan Utang
Dalam esainya bertajuk Safety First yang dipublikasikan pada Selasa (22/09/2026), Hayes menilai perlombaan menuju AGI telah mendorong kebutuhan komputasi dalam skala besar, sekaligus menciptakan ketergantungan terhadap utang.
Menurut Hayes, permintaan dari tiga laboratorium AI besar di Amerika Serikat menopang lebih dari US$1 triliun utang investment grade, ditambah ratusan miliar dolar pinjaman dengan kualitas kredit lebih rendah.
Masalahnya, besarnya pembiayaan ini belum diimbangi dengan keuntungan yang sama. Hayes menilai laboratorium AI masih membutuhkan dukungan perusahaan teknologi besar agar ekspansi komputasi mereka dapat terus berjalan.
“Gabungan laboratorium AI tersebut sama sekali belum menghasilkan keuntungan. Karena itu, mereka masih membutuhkan dukungan perusahaan teknologi yang sudah profitable, seperti Nvidia, Broadcom, Google, dan Microsoft,” tulis Hayes.

Dukungan tersebut menjadi penting karena pembiayaan digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari menyewa kapasitas data center, membeli chip, hingga menyediakan infrastruktur komputasi untuk melatih model AI terbaru.
Ketika Belanja AI Melambat, Masalah Bisa Merembet
Hayes kemudian menyoroti risiko berikutnya. Jika perusahaan AI mulai mengurangi belanja komputasi dan beralih mengejar efisiensi, permintaan terhadap chip serta kapasitas data center berpotensi ikut melemah.
“Dengan kata lain, Safety First secara langsung dapat menekan permintaan terhadap komputasi,” tulis Hayes, menggambarkan perubahan strategi dari ekspansi agresif menuju efisiensi yang lebih besar.
Namun, tekanannya tidak berhenti di sektor teknologi. Menurut Hayes, sebagian pembiayaan AI sudah terhubung dengan private credit dan industri asuransi melalui struktur investasi yang kompleks.
Salah satunya adalah captive insurance, skema yang memungkinkan dana dari bisnis asuransi dialirkan ke berbagai investasi, termasuk private credit dan perusahaan swasta dengan kebutuhan pembiayaan besar.
Hayes turut mengutip estimasi Nick Nemeth yang menaksir aset captive reinsurance mencapai US$1,54 triliun. Skala tersebut membuat risiko penurunan kualitas utang berpotensi merembet lebih luas.
Jika lembaga pemeringkat menurunkan peringkat utang pusat data, perusahaan asuransi dapat dipaksa menambah modal. Masalahnya, aset yang mereka pegang belum tentu mudah dicairkan ketika tekanan datang bersamaan.
“Pasar private credit dan utang AI mulai tertekan akibat besarnya utang yang telah diterbitkan,” tulis Hayes, menyoroti tekanan yang mulai muncul pada pembiayaan sektor tersebut.
Masalah AI Justru Bisa Jadi Bahan Bakar Bitcoin
Dari sinilah Hayes membawa pembahasannya kembali ke Bitcoin. Menurutnya, pemerintah AS pada akhirnya dapat menghadapi dua pilihan, yakni menopang kebutuhan komputasi atau menyelamatkan sektor keuangan yang terdampak.
Jika jalur bailout dipilih, likuiditas baru berpotensi masuk ke sistem. Sementara jika pemerintah menopang permintaan komputasi, pembiayaan tambahan tetap diperlukan agar investasi AI terus berjalan.
Bisnis Tambang Bitcoin Makin Lesu, Penambang Ramai Beralih ke AI?
Bagi Hayes, kedua skenario tersebut memiliki satu benang merah, yakni bertambahnya jumlah dolar dalam sistem keuangan. Kondisi inilah yang kemudian ia kaitkan dengan peluang kenaikan aset kripto.
“Jumlah dolar dalam sistem akan terus bertambah, dan harga Bitcoin serta sejumlah shitcoin pilihan akan ikut naik,” tulis Hayes, merangkum tesis utamanya terhadap pasar kripto.
Dengan kata lain, Hayes tidak melihat masalah AI sebagai katalis positif secara langsung. Justru, respons kebijakan terhadap tekanan utang itulah yang berpotensi menjadi sumber likuiditas baru bagi Bitcoin.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


