Nilai tukar rupiah kembali jadi sorotan. Bukan hanya karena tekanan ekonomi, tapi juga karena komentar pedas dari influencer kripto yang memicu perdebatan panas di media sosial. Narasi “jadi jutawan dengan US$120” pun langsung viral dan menuai berbagai reaksi.
Hanya dengan US$120 Bisa Jadi “Jutawan” di Indonesia
Perbincangan bermula dari unggahan influencer kripto ternama, Ash Crypto, yang memiliki 2,1 juta pengikut di X. Dalam cuitannya pada Selasa (12/05/2026), ia melontarkan pernyataan bernada sindiran terhadap nilai tukar rupiah.
“Rupiah Indonesia hampir mendekati nol terhadap USD. Kamu bisa jadi multi-jutawan di Indonesia hanya dengan memiliki US$120,” tulisnya.
Narasi pernyataan tersebut memang sederhana, tetapi provokatif. Seolah-olah rupiah telah kehilangan nilainya hingga mendekati nol terhadap dolar AS. Tak butuh waktu lama, unggahan ini pun langsung menuai kritik dari warganet.

Salah satu balasan yang cukup menarik datang dari pengguna lain yang mencoba meluruskan konteks. Ia menegaskan bahwa kurs rupiah sebenarnya berada di Rp17.500 per USD, bukan “mendekati nol”, dan narasi tersebut lebih mencerminkan kuatnya dominasi dolar AS.
“US$57 bisa memberi kalian sekitar Rp1 juta…yang cukup untuk membeli makanan lokal, membayar sewa, atau bahkan menyewa motor di banyak tempat di Jakarta. Ini sebenarnya adalah pembicaraan tentang dominasi dolar AS (USD),” tegasnya.
Komentar tersebut menggeser arah diskusi. Bukan lagi soal “kelemahan rupiah semata”, tetapi juga soal dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global. Dengan kata lain, angka besar dalam rupiah tidak otomatis berarti daya beli rendah.
Rupiah Melemah, Tapi Bukan “Hampir Nol”
Di tengah riuhnya komentar dari influencer tersebut, data justru menunjukkan gambaran yang kompleks. Rupiah sempat melemah dan menyentuh Rp17.555 per dolar AS pada Selasa lalu. Namun, tekanan itu tidak berlangsung lama dan masih berada dalam dinamika yang wajar.
Hari ini, nilai tukar rupiah kembali bergerak di kisaran Rp17.450 hingga Rp17.500 per dolar AS. Artinya, fluktuasi tetap terjadi, tetapi masih berada dalam rentang yang relatif familiar dalam beberapa tahun terakhir.

Tekanan terhadap rupiah sendiri bukan tanpa sebab. Dari sisi global, konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat mendorong lonjakan harga minyak, yang dalam beberapa waktu terakhir sempat menyentuh kisaran US$108 per barel.
Kenaikan harga energi ini berdampak langsung pada negara pengimpor seperti Indonesia. Saat harga minyak naik, kebutuhan dolar untuk impor ikut meningkat. Permintaan dolar AS pun melonjak, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, faktor domestik juga turut memperbesar tekanan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkap bahwa musim Haji dan periode pembayaran dividen menjadi pendorong tambahan meningkatnya permintaan dolar AS.
Antara Persepsi dan Realita Ekonomi
Pada akhirnya, narasi di media sosial sering kali tajam, tetapi tidak selalu mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Rupiah memang sedang tertekan, namun menyebutnya “hampir nol” jelas berlebihan.
Perbandingan nilai mata uang Indonesia tanpa melihat daya beli hanya akan menyesatkan. Angka besar tidak selalu berarti kekayaan nyata, dan konteks ekonomi tetap menjadi faktor utama.
Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, memahami data secara utuh menjadi kunci. Persepsi bisa berubah cepat, tetapi realitas ekonomi tetap berbicara lebih jelas.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


