Komputer kuantum belum menjadi ancaman langsung hari ini, tetapi Google Quantum AI menilai ada tiga jenis ancaman komputer kuantum terhadap aset kripto yang perlu dipahami sejak sekarang. Berikut adalah penjelasan lengkapnya!
BACA JUGA: Riset Google Quantum AI: 2,3 Juta Bitcoin Terancam Dibobol di Masa Depan!
Apa Itu Jenis Ancaman Komputer Kuantum terhadap Aset Kripto?
Jenis ancaman komputer kuantum terhadap aset kripto adalah cara komputer kuantum mengeksploitasi kelemahan kriptografi dalam blockchain. Fokus utamanya bukan menambang Bitcoin lebih cepat, melainkan membobol hubungan matematis antara public key dan private key.
Selama ini, komputer klasik tidak realistis untuk menebak private key dari public key. Namun, komputer kuantum berskala besar dapat mengubah asumsi tersebut.
Google Quantum AI membagi ancamannya menjadi tiga kategori berdasarkan target, waktu eksekusi, dan apakah komputer kuantum perlu digunakan setiap kali menyerang atau cukup sekali untuk menciptakan celah permanen.
1. Serangan saat Transaksi Sedang Berjalan (On-Spend Attacks)

On-Spend Attacks adalah serangan yang menargetkan transaksi ketika sedang dikirim, tetapi belum masuk ke blockchain. Contohnya, saat kamu mengirim Bitcoin, transaksi biasanya masuk ke public mempool sebelum dipilih miner dan dimasukkan ke block.
Pada tahap ini, public key dapat terekspos. Jika penyerang memiliki komputer kuantum yang sangat cepat, ia bisa mengambil public key tersebut, menghitung private key, lalu membuat transaksi palsu untuk mengalihkan aset ke wallet miliknya.
Ancaman ini sangat bergantung pada kecepatan. Bitcoin memiliki rata-rata block time sekitar 10 menit.
Google Quantum AI memperkirakan bahwa arsitektur kuantum cepat seperti superconducting, silicon, atau photonic quantum computer berpotensi mendekati jendela waktu tersebut di masa depan. Karena itu, On-Spend Attacks juga disebut short-range attack atau just-in-time attack.
2. Serangan terhadap Aset yang Diam (At-Rest Attacks)

At-Rest Attacks menargetkan public key yang sudah terekspos dalam waktu lama, baik di blockchain maupun di luar blockchain. Ini bisa terjadi pada wallet lama, alamat yang digunakan berulang kali, atau aset dormant yang tidak pernah dipindahkan.
Jenis ancaman komputer kuantum terhadap aset kripto ini berbahaya karena penyerang tidak perlu berpacu dengan waktu konfirmasi block. Jika public key sudah terbuka selama berhari-hari, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun, penyerang punya lebih banyak waktu untuk menghitung private key.
Dalam konteks Bitcoin, salah satu contoh penting adalah Pay-to-Public-Key atau P2PK, format lama yang menyimpan public key langsung di blockchain.
Google Quantum AI menyoroti bahwa lebih dari 1,7 juta BTC terkunci dalam script P2PK, termasuk koin era awal Bitcoin. Jika berbagai script rentan ikut dihitung, jumlah dormant bitcoin yang rentan terhadap komputer kuantum dapat mencapai sekitar 2,3 juta BTC.
Masalahnya, aset dormant sulit dimigrasikan. Jika private key hilang, pemilik meninggal, atau wallet sudah tidak aktif, aset tersebut tidak bisa begitu saja dipindahkan ke standar kriptografi baru.
At-Rest Attacks juga relevan untuk Ethereum. Karena Ethereum memakai model akun, public key dapat terekspos setelah akun melakukan transaksi. Risiko makin luas karena ada smart contract, admin key, bridge, oracle, stablecoin, tokenisasi aset dunia nyata, dan validator Proof-of-Stake. Jadi, ancamannya bukan hanya wallet individu, tetapi juga infrastruktur keuangan on-chain.
BACA JUGA: 9 Jenis Scam Crypto Paling Umum dan Cara Menghindarinya!
3. Serangan Sekali untuk Backdoor Berulang (On-Setup Attacks)

On-Setup Attacks adalah jenis ancaman komputer kuantum terhadap aset kripto yang menargetkan parameter publik tetap dalam suatu protokol kriptografi. Ini biasanya terkait dengan sistem seperti zero-knowledge proof, commitment scheme, trusted setup, atau data availability.
Dalam beberapa protokol, ada parameter kriptografi yang dibuat pada tahap awal. Jika komputer kuantum dapat mengekstrak rahasia tersembunyi dari parameter tersebut, penyerang bisa memperoleh semacam backdoor.
Setelah itu, komputer kuantum tidak selalu perlu digunakan lagi. Celah tersebut dapat dipakai berulang kali dengan komputer klasik.
Google Quantum AI mencontohkan risiko pada konsep “toxic waste” dalam trusted setup. Jika rahasia ini berhasil dipulihkan, penyerang dapat memalsukan bukti, merusak integritas data, atau membuka peluang penciptaan aset palsu pada sistem tertentu.
Bitcoin relatif aman dari On-Setup Attacks karena desain dasarnya tidak bergantung pada setup seperti ini. Namun, beberapa solusi scaling, mekanisme Data Availability Sampling di Ethereum, dan protokol privasi tertentu bisa memiliki risiko lebih besar.
Apakah Kripto Siap Menghadapi Komputer Kuantum?
Tiga jenis ancaman komputer kuantum terhadap aset kripto, yaitu On-Spend Attacks, At-Rest Attacks, dan On-Setup Attacks, menunjukkan bahwa risiko kuantum tidak datang dalam satu bentuk saja. Ada yang menargetkan transaksi aktif, aset yang diam, hingga fondasi kriptografi suatu protokol.
Kabar baiknya, solusi seperti post-quantum cryptography sudah mulai dikembangkan. Tantangannya adalah edukasi, koordinasi, dan kemauan komunitas untuk bergerak sebelum ancaman itu benar-benar tiba.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


