Gelombang optimisme crypto tidak padam, hanya berubah ritmenya. Berbagai indikator makro, arus likuiditas global, hingga sikap regulator menunjukkan bahwa bull run belum berakhir, melainkan sedang menunggu momentum tepat untuk kembali bergerak.
Di balik ketidakpastian pasar, pola baru yang lebih kuat dari “siklus 4 tahun” mulai terbentuk. Arah pasar kini lebih ditentukan oleh aliran likuiditas global, bukan lagi kalender halving yang dulu dianggap acuan utama.
Siklus 4 Tahun Kripto Mulai Kehilangan Relevansi
Berdasarkan pandangan Bull Theory yang diunggah di X Jumat (05/12/2025) menyatakan bahwa siklus empat tahunan Bitcoin saat ini sudah mati dan menjadi alasan utama bull run yang terjadi.
Selama satu dekade terakhir, pergerakan besar Bitcoin ternyata tidak muncul karena halving semata lagi melainkan terjadi perubahan drastis pada likuiditas global dan pola ini kembali terulang.
“Sebagian besar pergerakan besar dalam satu dekade terakhir tidak datang dari peristiwa halving, melainkan dari perubahan likuiditas. Dan pola yang sama mulai terbentuk kembali,” jelasnya.

Sinyal terlihat dari pasokan stablecoin. Meski pasar terkoreksi, suplai stablecoin meningkat. Ini menandakan pemain besar belum keluar dari pasar dan hanya menunggu momentum. Dengan kata lain, likuiditas kering sedang menumpuk dan siap mengalir kembali.
Bull Theory juga menyoroti kebijakan Treasury AS sebagai pemicu utama. Program buyback hanya sebagian kecil dari gambaran besar, terutama karena saldo Treasury General Account (TGA) kini mencapai sekitar US$940 miliar, atau US$90 miliar di atas level normal.
“Ketika itu terjadi, kondisi pembiayaan kembali membaik dan juga likuiditas bertambah yang hampir selalu mengalir ke aset berisiko,” tegas Bull Theory.
Di tingkat global, arah pelonggaran makin tegas. Tiongkok menambah likuiditas, Jepang memberi stimulus dan relaksasi pajak crypto, Kanada ikut melunak, dan The Fed menghentikan QT. Ketika kebijakan longgar, aset berisiko biasanya bergerak lebih cepat.
Dari Kebijakan Moneter hingga Pemimpin The Fed
Ada elemen lain yang sering diabaikan, yakni potensi kebijakan seperti SLR exemption. Pada 2020, kebijakan ini membuat bank memiliki ruang lebih besar untuk memperluas neraca dan meningkatkan penyaluran kredit.
“Jika sesuatu yang serupa terjadi kembali, hal itu akan meningkatkan penciptaan kredit dan juga likuiditas di seluruh sistem,” tambahnya.
Lapisan politik turut memainkan peran. Trump beberapa kali menyinggung restrukturisasi pajak, termasuk kemungkinan menghapus income tax serta pembagian “US$2.000 tariff dividend”. Terwujud atau tidak, arahnya jelas: kebijakan yang ramah pasar menjelang mid-cycle 2026.
Novogratz: Ketua The Fed Berikutnya Bisa Jadi Pemicu Rally Bitcoin
Selain itu, peluang hadirnya ketua The Fed yang lebih pro-likuiditas dan ramah crypto dapat memperkuat pemulihan. Hal ini berpotensi mendorong PMI kembali di atas 50, level yang sering memicu musim altcoin.
“Secara historis, setiap kali ISM PMI melonjak di atas level 55, kondisi tersebut hampir selalu memicu altcoin season dan kemungkinan hal itu terjadi pada tahun 2026 sangatlah tinggi,” katanya.
Gabungan sejumlah faktor seperti likuiditas stablecoin, injeksi treasury, QE, berakhirnya QT di AS, pelonggaran pinjaman bank, kebijakan pro-pasar, masuknya pelaku besar ke ekosistem, Clarity Act, hingga kemungkinan The Fed yang lebih ramah crypto.
Menanti Bull Run Panjang Pasar Kripto
Bukti dari perubahan struktur pasar juga disampaikan oleh sejumlah pihak. CEO Bitwise, Hunter Horsley, menegaskan bahwa siklus halving “sudah tidak relevan” dalam kondisi pasar saat ini. Menurutnya, institusi dan peluncuran Bitcoin ETF telah menciptakan dinamika baru.
Horsley menilai bahwa sejak Bitcoin menjadi instrumen investasi arus utama, kripto memasuki fase struktural yang jauh berbeda. Dukungan terhadap pola lama melemah karena pasar kini digerakkan oleh modal besar, sistemik, dan berjangka panjang.
Pandangan serupa datang dari Ki Young Ju, CEO CryptoQuant, yang menyatakan bahwa teori siklus halving sudah tidak berlaku. Struktur pasar telah berubah dan kini dikuasai investor besar dengan strategi institusional, bukan spekulan ritel seperti masa-masa awal.
Kesamaan pandangan analis menunjukkan satu hal: bull run tidak hilang, hanya tertunda oleh proses redistribusi likuiditas. Pasar kini bergerak mengikuti aliran modal besar yang sedang menunggu momen tepat untuk kembali masuk.
Siklus Bitcoin Halving Sudah Tidak Relevan? Begini Kata Ahli
Alih-alih pola lama berupa lonjakan singkat lalu bear market panjang, kondisi saat ini membuka peluang tren naik yang lebih stabil dan bisa berlanjut hingga 2026–2027. Jika likuiditas mengalir serentak, sejarah membuktikan Bitcoin selalu mengikuti arus tersebut, bukan halving.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



