Ini Penyebab Harga Bitcoin dan Ethereum Rontok Hari Ini

Harga Bitcoin dan Ethereum mengalami penurunan tajam pada Jumat (23/10/2026), di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, kekhawatiran terhadap inflasi AS, serta tekanan jual pada saham teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).

Berdasarkan data CoinMarketCap untuk Bitcoin yang diakses pada Jumat pagi, harga Bitcoin (BTC) berada di sekitar US$81.221, turun 3,6 persen dalam 24 jam terakhir. Kripto terbesar tersebut bahkan sempat menyentuh US$80.841 sebelum kembali bergerak di atas US$81.000.

Sementara itu, harga Ethereum (ETH) berada di sekitar US$2.392, melemah 3,31 persen dalam periode yang sama. ETH juga sempat menyentuh level terendah harian US$2.358, menandakan tekanan jual tidak hanya terjadi pada Bitcoin.

Pelemahan kedua aset tersebut berlangsung bersamaan dengan penyusutan kapitalisasi pasar kripto global. Data CoinMarketCap menunjukkan total kapitalisasi pasar berada di kisaran US$2,72 triliun, turun sekitar 3,36 persen dalam 24 jam.

Analis kripto Ash Crypto mengaitkan aksi jual tersebut dengan sejumlah risiko makroekonomi yang berpotensi memengaruhi keputusan investor menjelang agenda penting di AS.

Menurutnya, kekhawatiran terhadap kemungkinan eskalasi konflik dengan Iran, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta pelemahan saham AI menjadi faktor yang dapat mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Panel Perdagangan Kripto BTC dan ETH

Ketegangan AS-Iran dan Kekhawatiran Inflasi Tekan Pasar Kripto

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah perkembangan hubungan AS dan Iran menjelang pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan melalui unggahan resmi di Truth Social pada 8 Oktober bahwa Washington tidak akan melancarkan serangan baru terhadap Iran sebelum pemilu berlangsung.

Meski demikian, pernyataan tersebut tidak menjamin bahwa ketegangan kedua negara akan mereda setelah pemilu. Kemungkinan operasi militer lanjutan masih menjadi sumber ketidakpastian, walaupun belum ada keputusan resmi yang memastikan serangan akan dilakukan.

BACA JUGA:  The Fed Soroti AI Agent yang Bisa Bayar Sendiri, Stablecoin Ikut Masuk Peta

Ketegangan itu turut terlihat dari kebijakan ekonomi Washington. Pada Rabu (21/10/2026), Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap jaringan perusahaan dan kapal yang diduga membantu pengiriman komoditas Iran melalui Operation Economic Outcast.

Bagi pasar keuangan, potensi eskalasi konflik di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, termasuk kemungkinan kenaikan harga minyak.

Jika harga minyak kembali meningkat, tekanan inflasi AS berisiko bertahan lebih lama. Kondisi ini dapat membatasi ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter, sehingga menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko seperti saham dan kripto.

Kekhawatiran tersebut memiliki dasar dari perkembangan inflasi terbaru. Berdasarkan laporan Bureau of Labor Statistics (BLS) yang diterbitkan pada 14 Oktober, indeks harga konsumen (CPI) AS meningkat 3,7 persen secara tahunan pada September, dibandingkan 3,4 persen pada Agustus.

Secara bulanan, inflasi naik 0,6 persen, dengan harga bensin melonjak 9,1 persen dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan indeks tersebut.

Tekanan inflasi ini menjadi perhatian karena The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 16 September, menjadi kisaran 3,75–4,00 persen.

Selanjutnya, berdasarkan kalender resmi The Fed, pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026.

Pertemuan tersebut menjadi agenda penting bagi investor karena keputusan dan pernyataan The Fed akan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga berikutnya.

Dalam situasi seperti ini, investor dapat memilih mengurangi posisi pada aset berisiko sebelum memperoleh kepastian mengenai prospek kebijakan moneter. Namun, belum dapat dipastikan bahwa kekhawatiran suku bunga merupakan satu-satunya penyebab harga Bitcoin dan Ethereum mengalami penurunan.

BACA JUGA:  Bitcoin Tak Seperti Dulu, Bos Indodax Ungkap Cara Baru Melihat BTC

Saham AI Ikut Rontok, Bitcoin ETF Belum Mampu Menahan Tekanan

Selain faktor geopolitik dan kebijakan moneter, pelemahan saham teknologi AS turut menjadi perhatian dalam penurunan harga Bitcoin dan Ethereum.

Berdasarkan data resmi Nasdaq, indeks Nasdaq Composite ditutup pada level 26.008,86 pada Kamis (22/10/2026), anjlok 2,60 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Penurunan tersebut terjadi ketika investor mulai mempertanyakan keberlanjutan belanja infrastruktur AI yang membutuhkan modal sangat besar, serta seberapa cepat investasi tersebut dapat menghasilkan keuntungan.

Salah satu perkembangan yang menjadi sorotan berasal dari Meta Platforms. Dalam laporan keuangan kuartal III 2026, perusahaan mencatat belanja modal sebesar US$34,91 miliar, termasuk pembayaran pokok sewa pembiayaan.

Meta juga melaporkan arus kas bebas negatif US$2,12 miliar pada kuartal tersebut, meskipun pendapatannya mencapai US$64,60 miliar.

Perusahaan bahkan memperkirakan total belanja modal sepanjang 2026 akan mencapai US$135 miliar hingga US$145 miliar, seiring ekspansi kapasitas teknologi dan pengembangan AI.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan pendanaan sektor teknologi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan adanya gagal bayar utang oleh perusahaan AI.

Dalam pandangan Ash Crypto, tekanan pada saham teknologi berpotensi merembet ke pasar kripto karena kedua kelompok aset sama-sama sensitif terhadap perubahan sentimen risiko investor.

Ketika pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap saham teknologi, Bitcoin dan altcoin juga dapat menghadapi tekanan jual, terutama jika ketidakpastian ekonomi berlangsung bersamaan dengan meningkatnya volatilitas pasar.

Menariknya, pelemahan harga Bitcoin berlangsung meskipun produk investasi berbasis BTC sebelumnya mencatat arus dana masuk yang cukup besar.

Berdasarkan data Farside Investors untuk ETF spot Bitcoin AS, produk tersebut membukukan arus masuk bersih US$526,7 juta pada 19 Oktober, US$23,2 juta pada 20 Oktober, dan US$524,8 juta pada 21 Oktober.

BACA JUGA:  Kripto Hari Ini 11 Oktober 2026: LUMIA, WLD, APE, NEAR, ONDO Mulai Panaskan Mesin Bullish

Dengan demikian, total arus masuk bersih selama tiga sesi perdagangan tersebut mencapai sekitar US$1,07 miliar.

Kondisi berbeda terlihat pada ETF spot Ethereum AS, yang mencatat arus keluar bersih US$103,3 juta pada 19 Oktober dan US$26,1 juta pada 20 Oktober, sebelum membukukan arus masuk US$14,9 juta pada 21 Oktober.

Secara keseluruhan, Ethereum ETF masih mengalami arus keluar bersih sekitar US$114,5 juta sepanjang tiga sesi tersebut.

Perbedaan aliran dana ini memperlihatkan bahwa permintaan institusional melalui Bitcoin ETF sempat lebih kuat dibandingkan Ethereum. Namun, arus masuk tersebut tidak menjamin harga BTC mampu bertahan ketika tekanan jual muncul dari bagian pasar lainnya.

Ash Crypto sendiri menilai koreksi yang terjadi lebih berkaitan dengan ketidakpastian makroekonomi daripada bukti langsung bahwa fundamental industri kripto telah melemah.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan periode pasar bullish 2023–2025, ketika Bitcoin tetap mengalami kenaikan besar meskipun menghadapi berbagai tekanan ekonomi dan geopolitik.

Meski demikian, pandangan bahwa harga kripto akan kembali pulih merupakan proyeksi analis, bukan kepastian.

Untuk saat ini, perkembangan konflik AS-Iran, pertemuan FOMC pada 27–28 Oktober, serta sentimen terhadap saham teknologi menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan karena berpotensi memengaruhi arah harga Bitcoin dan Ethereum dalam jangka pendek.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait