Keputusan pemerintah memblokir Polymarket memicu perdebatan panas. Di satu sisi, platform ini dikenal sebagai pasar prediksi berbasis blockchain. Namun di sisi lain, otoritas melihatnya sebagai bentuk baru dari praktik judi online yang terselubung.
Komdigi Sebut Polymarket Masuk Kategori Judi Online
Melansir laporan Tirto pada Sabtu (23/5/2026), Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) resmi memblokir situs Polymarket. Platform ini dinilai memfasilitasi aktivitas perjudian berbasis digital.
Polymarket sendiri memungkinkan pengguna bertaruh uang atas hasil suatu peristiwa. Meski dikemas dalam bentuk “prediction market”, praktik ini tetap dianggap mengandung unsur spekulasi berbasis taruhan.
Menurut otoritas, istilah dan teknologi yang digunakan tidak mengubah inti aktivitas tersebut. Selama ada taruhan atas hasil yang belum pasti, maka tetap masuk kategori judol.
Prabowo Lengser Sebelum 2027? Taruhan di Polymarket Bikin Heboh!
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital, Alexander Sabar, pun menegaskan bahwa bentuk kemasan tidak mengubah substansi aktivitasnya.
“Pemerintah tidak akan memberikan ruang bagi bentuk judi online di Indonesia. Aktivitas seperti Polymarket mengandung unsur taruhan uang dan spekulasi atas suatu peristiwa yang hasilnya belum pasti, sehingga bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia,” kata Alex.
Kemkomdigi juga mengimbau masyarakat untuk tidak terlibat dalam aktivitas spekulatif berbasis taruhan digital. Langkah ini diambil untuk menekan potensi kerugian finansial dan menjaga ruang digital tetap sehat.
Selain memblokir situs, pemerintah menelusuri akun media sosial terkait Polymarket agar pembatasan berlaku menyeluruh. Langkah ini disebut sejalan dengan praktik global terhadap platform yang dinilai menyerupai judi online.
Polymarket Disorot Usai Muncul Taruhan Prabowo
Pemblokiran Polymarket tidak lepas dari munculnya market bertajuk “Prabowo Subianto out as President of Indonesia by…?” yang memicu perhatian publik. Konten ini membuka ruang spekulasi terkait masa jabatan presiden.
Market tersebut memungkinkan pengguna memasang taruhan atas kemungkinan Presiden Prabowo Subianto berhenti dari jabatannya dalam periode tertentu. Hasilnya akan “Yes” jika terjadi dan “No” jika tidak.
Hingga Minggu (24/05/2026), volume taruhan tercatat sekitar US$41.000 atau hampir Rp700 juta. Angka ini naik signifikan dari beberapa hari sebelumnya yang berada di kisaran Rp500 juta.

Lonjakan ini mencerminkan tingginya minat terhadap isu politik domestik. Namun bagi regulator, kondisi tersebut justru menegaskan risiko dari aktivitas spekulatif di prediction market yang menyerupai judi online.
Selain itu, mekanisme penentuan hasil mengandalkan informasi pemerintah atau konsensus laporan media. Hal ini membuat batas antara analisis, spekulasi, dan taruhan menjadi semakin tipis dan tidak jelas.
Kasus Polymarket menjadi contoh nyata benturan antara teknologi dan regulasi. Di satu sisi, platform pasar prediksi berbasis blockchain menawarkan transparansi dan akses global. Namun di sisi lain, ketika ada unsur taruhan uang, regulasi tetap menjadi batas tegas.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


