Ini Penyebab Terjadi Gerakan Buang Dolar AS

Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) untuk Rusia mengatakan bahwa keputusan Barat untuk mengisolasi beberapa negara dari sistem pembayaran global memaksa banyak negara mencari mata uang pengganti dan memicu gerakan buang dolar AS.

Aleksei Mozhin mengatakan bahwa dunia telah menyaksikan bagaimana AS dan sekutunya menggunakan sanksi ekonomi dan keuangan untuk menghukum Rusia atas perang di Ukraina, menurut laporan terbaru dari Sputnik, dikutip dari Dailyhodl.

Penyebab dari Gerakan Buang Dolar AS

Menurut pejabat IMF tersebut, penggunaan sanksi dolar Amerika Serikat sebagai alat pemaksa dan mencegah perekonomian internasional negara lain akan menciptakan ekonomi global yang lebih terpecah.

“Penggunaan terang-terangan oleh Barat sebagai senjata dalam perdagangan internasional, keuangan, serta dolar dan euro itu sendiri, membuat fragmentasi ekonomi dunia tidak hanya tak terhindarkan, tetapi juga tidak dapat dibalikkan,” ujar Mohzin.

Pada Maret 2022, Amerika Serikat memberlakukan sanksi berupa pembekuan dolar Amerika Serikat sekitar US$300 miliar cadangan Rusia.

Sanksi tersebut juga memutus akses bank-bank Rusia dari SWIFT, sistem pembayaran lintas batas yang didominasi oleh dolar dan euro.

Sanksi ekonomi ini muncul ketika Rusia memiliki konflik militer dengan Ukraina. Hal ini mengundang kritik dari banyak pihak dan dengan cepat AS memberikan sanksi ekonomi tersebut.

Mozhin mengatakan bahwa mempersenjatakan dolar sedang mendorong sejumlah negara untuk menghindari mata uang Amerika dan melakukan gerakan buang dolar AS ketika akan menyelesaikan perdagangan internasional.

“Orang Amerika sendiri telah menciptakan situasi di mana pencarian alternatif terhadap dolar tidak dapat dihindari,” ujar Mohzin.

“Dan sekarang kita melihat bagaimana hal itu terjadi… Kita melihat bahwa Iran, Brasil, dan Arab Saudi sudah beralih untuk melakukan perdagangan dalam yuan tidak hanya dengan Tiongkok, tetapi juga dengan negara-negara pihak ketiga,” tambahnya.

Pada bulan Mei, muncul laporan bahwa Tiongkok telah menandatangani kesepakatan dengan puluhan negara untuk menyelesaikan perdagangan global senilai US$582,3 miliar dalam yuan sebagai gerakan buang dolar AS.

Awal bulan ini, Andrey Kostin, CEO bank terbesar kedua di Rusia, mengatakan bahwa yuan bisa menggantikan dolar karena Tiongkok tampaknya sedang menghapus pembatasan ketat pada mata uangnya. [az]

Terkini

Warta Korporat

Terkait