Lonjakan harga kartu Pokémon dalam beberapa waktu terakhir kembali memicu perdebatan lama: apakah Trading Card Game (TCG) hanya sekadar “hype” seperti NFT, atau justru memiliki fundamental yang berbeda?
Dalam sesi livestream bertajuk “Bahas Bubble TCG” pada Selasa (24/03/2026), Windah Basudara ikut angkat suara, membedah fenomena ini dari sudut pandang kolektor sekaligus pelaku langsung di ekosistemnya.
TCG Pokémon Melejit, Tapi Tidak Sama dengan NFT
Dalam pembukaannya di livestream, Windah Basudara langsung menyoroti kondisi pasar kartu Pokémon yang memanas, terutama pada koleksi vintage yang kini melambung jauh lebih tinggi dibanding kartu biasa.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa kenaikan tersebut tidak sepenuhnya sehat. Bahkan, ia secara terbuka mengakui adanya potensi bubble yang bisa terjadi dalam waktu dekat.
“Gua yakin ini akan turun suatu saat nanti, guys… TCG bakal bubble,” ungkapnya.
Meski begitu, ia menolak keras anggapan bahwa TCG akan bernasib sama seperti NFT yang mengalami kejatuhan besar. Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa keduanya memiliki perbedaan yang sangat fundamental.
“NFT itu collapse, sedangkan TCG itu hanya koreksi. Beda banget, guys,” tambahnya.
Investasi vs Spekulasi: Ini Pengertian dan Perbedaan Keduanya!
Pernyataan ini menjadi garis tegas: menurutnya, penurunan di TCG lebih bersifat siklus atau koreksi pasar, bukan kehancuran total seperti yang terjadi pada banyak proyek NFT.
Perbedaan TCG dan NFT Menurut Windah Basudara
Lebih jauh, Windah menjelaskan alasan mengapa TCG tidak bisa disamakan dengan koleksi digital. Ia menekankan bahwa TCG memiliki fungsi yang jelas, yakni sebagai permainan sekaligus koleksi fisik, ditopang oleh franchise yang telah bertahan lama.
“TCG seperti Pokémon itu ada fungsi awalnya buat bermain, terus ada fisiknya. Ini franchise 30 tahun, teman-teman… TCG punya community yang kuat dan dev terus update dan enggak ninggalin project-nya,” pungkasnya.
Berbeda dengan NFT yang berbasis karya digital dan bergantung pada komunitas jangka pendek, kartu Pokémon berasal dari ekosistem yang telah teruji waktu. Hal ini membuatnya memiliki fondasi yang lebih kuat.
“NFT itu mostly art-art-nya… dibikin sama artis tertentu… yang enggak nyampe 10 tahun aja enggak nyampe mungkin,” tuturnya.
Namun, di sisi lain, tidak semua pihak sepakat dengan sudut pandang tersebut. Salah satu komentar datang dari Skyholic, yang melihat fenomena brewek (membuka pack kartu) dari perspektif berbeda.
Ia menilai bahwa mekanisme pada TCG Pokémon memiliki kemiripan dengan sistem gacha atau bahkan perjudian dalam bentuk yang lebih “legal”.
“Loe orang sadar gak sih brewek pokemon cards sama aja kayak loe main slot… hoki-hokian. Keluar duit kecil untuk dapet duit gede,” tulis Skyholic di X, Minggu (22/03/2026).
Pandangan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa di balik fundamental kuat TCG, tetap ada elemen spekulatif yang dapat mendorong perilaku berisiko, terutama bagi mereka yang mengejar keuntungan instan.
Tetap Berisiko, Masyarakat Diminta Lebih Bijak
Meski membela perbedaan fundamental antara TCG dan NFT, Windah Basudara tidak menutup mata terhadap risiko yang ada. Ia justru menegaskan bahwa hype berlebihan tetap berpotensi memicu koreksi tajam.
“Karena kenaikannya udah enggak sehat… akan ada penurunan yang gila juga. Buat teman-teman yang beli… ini udah di pucuk sih, guys. Hati-hati,” tuturnya.
Alih-alih menjadikan kartu TCG Pokémon sebagai instrumen investasi, ia menekankan pentingnya kembali ke esensi awal sebagai hobi dan koleksi, bukan semata-mata mengejar keuntungan.
Perdebatan antara TCG, NFT, hingga unsur spekulatif seperti gacha menunjukkan satu hal: persepsi terhadap nilai sebuah aset bisa sangat berbeda, tergantung sudut pandang masing-masing.
Namun, di tengah perbedaan tersebut, satu pesan yang jelas, baik dari pendukung maupun kritikus, adalah pentingnya memahami risiko sebelum ikut terjun ke dalam tren yang sedang memanas.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



