Inilah Tips bagi GenZ Sebelum Masuk Crypto

Pendiri komunitas edukasi kripto Cryptoiz, Agus Artemis, menekankan pentingnya kesiapan mental, finansial dan literasi keuangan bagi generasi Z (GenZ) sebelum terjun ke dunia investasi dan trading aset kripto. Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara dengan Vinsensius Sitepu, Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id melalui Zoom, Sabtu (17/1/2026).

Agus menilai, banyak GenZ di Indonesia masuk ke instrumen berisiko tinggi seperti kripto tanpa fondasi pengelolaan keuangan yang matang. Kondisi ini, menurutnya, membuat mereka rentan mengambil keputusan emosional dan mengalami kerugian besar.

“Yang awal harus dipastikan sebelum terjun ke dunia kripto, investasi, atau instrumen keuangan apa pun adalah kehidupannya sudah selesai. Dalam arti sudah bisa mengelola keuangan untuk kehidupan sehari-hari,” ujar Agus.

Pendiri komunitas edukasi kripto Cryptoiz, Agus Artemis
Agus Artemis, pendiri komunitas edukasi kripto Cryptoiz. Foto: GridOto.

Ia menegaskan bahwa kripto bukan sarana instan untuk memperbaiki kondisi hidup. Instrumen dengan volatilitas tinggi tersebut hanya cocok bagi individu yang sudah stabil secara finansial dan memahami risiko.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Agus juga menyoroti ramainya kasus yang melibatkan figur edukator kripto seperti Timothy Ronald. Menurutnya, polemik tersebut seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat, bukan sekadar memperdebatkan sosok tertentu.

“Ini bukan cuma soal Timothy. Ini membuka masalah yang jauh lebih besar, yaitu minimnya literasi keuangan dan pemahaman risiko di Indonesia,” ujar Agus.

Heboh Kasus Timothy Ronald, Ranto Sibarani Curiga Ada Upaya Pemerasan Crazy Rich

Literasi Keuangan dan Disiplin Jadi Fondasi Utama

Dalam wawancara tersebut, Agus menekankan bahwa disiplin dan pengendalian emosi merupakan kunci utama dalam investasi dan trading. Ia menjelaskan bahwa besarnya nominal modal sangat memengaruhi kondisi psikologis seseorang saat menghadapi kerugian.

BACA JUGA:  Pengusaha Kost Diajak Melek Kripto, Diversifikasi Cuan di Era Digital

“Misalkan kita trading modal Rp100.000 minus 10 persen, itu cuma rugi Rp10.000 dan mungkin masih bisa berpikir jernih. Tapi kalau sudah main Rp10 juta, minus 10 persen itu Rp1 juta. Secara psikologi, dampaknya beda,” ujarnya.

Menurut Agus, pasar keuangan tidak memberi toleransi kepada individu yang tidak mampu mengelola emosi dan keuangannya. Oleh karena itu, ia menyarankan GenZ untuk memulai dari nominal kecil yang tidak menimbulkan tekanan psikologis berlebihan.

“Kalau sudah deg-degan saat trading, berarti ada yang salah. Nominalnya harus diturunin,” ujarnya.

Agus juga mengingatkan bahwa kerugian adalah bagian normal dari investasi dan trading. Tidak ada pelaku pasar yang selalu untung. Yang membedakan antara mereka yang bertahan dan yang tumbang adalah kesiapan mental serta pemahaman risiko.

“Rugi itu pasti ada. Tidak ada yang namanya untung terus,” tegasnya.

Selain disiplin, Agus menilai literasi keuangan masih menjadi kelemahan besar masyarakat Indonesia. Ia menyoroti minimnya pendidikan formal mengenai uang, investasi dan manajemen risiko.

“Sejarah uang saja banyak orang Indonesia tidak paham. Apalagi soal investasi,” tambahnya.

Gema Sentil GenZ soal Efek Domino Kasus Timothy-Kalimasada

Kondisi ini, menurut Agus, membuat masyarakat mudah tergiur oleh narasi keuntungan cepat dan gaya hidup mewah yang sering ditampilkan di media sosial.

GenZ Perlu Memahami Uang Sebelum Masuk ke Kripto

Agus menekankan bahwa sebelum berbicara tentang koin, grafik, atau strategi trading, generasi muda perlu memahami konsep dasar tentang uang.

BACA JUGA:  Kenapa Proses Hukum Timothy Ronald Terasa Lambat?

“GenZ harus mempelajari dulu apa itu uang. Sejarah uang, cara uang bekerja. Biar kita bisa menghargai uang dan tidak dikendalikan oleh uang,” ujarnya.

Menurut Agus, pemahaman ini penting agar seseorang tidak mudah terjebak dalam keputusan emosional saat menghadapi peluang atau kerugian di pasar kripto. Ia menilai banyak orang terjun ke kripto tanpa benar-benar memahami nilai uang yang mereka pertaruhkan.

Dalam konteks kasus yang melibatkan Timothy Ronald, Agus juga menyoroti bagaimana sebagian orang mengandalkan rekomendasi pihak lain tanpa benar-benar memahami manajemen risiko. Ia menegaskan bahwa keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

“Apapun insight yang kita dapatkan, keputusan tetap ada di pribadi. Kerugian itu hasil dari keputusan pribadi,” ujarnya.

Namun, Agus membedakan antara risiko kerugian trading dan kualitas layanan edukasi. Menurutnya, jika seseorang membayar mahal untuk jasa pendidikan kripto, maka wajar jika ada ekspektasi pendampingan yang memadai, terutama terkait manajemen risiko dan pengelolaan psikologi.

“Manajemen risiko itu basic. Jangan taruh telur di satu keranjang. Harusnya modal dibagi, bukan all in di satu koin,” ungkap Agus.

Ia menilai bahwa keputusan menempatkan dana besar pada satu aset kripto menunjukkan lemahnya penerapan prinsip diversifikasi, yang seharusnya sudah menjadi materi dasar dalam edukasi investasi.

Mental dan Mindset Tidak Bisa Dibeli

Agus juga mengingatkan bahwa kesiapan mental tidak bisa diperoleh hanya dengan mengikuti kelas berbayar atau bergabung dalam komunitas eksklusif. Menurutnya, mental dan mindset terbentuk melalui proses, bukan melalui biaya yang dikeluarkan.

BACA JUGA:  Analisis Kripto Hari Ini: SOL, BTC, CHZ, ICP, PIPPIN di Titik Penentuan

“Mental dan mindset itu tidak bisa dibeli. Kamu mau masuk grup berbayar Rp10 juta juga tidak akan bisa membeli mentality. Itu harus dilalui,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pengalaman menghadapi untung dan rugi secara bertahap adalah cara utama membangun ketahanan psikologis. Oleh karena itu, GenZ disarankan untuk tidak langsung terjun dengan modal besar atau ekspektasi keuntungan tinggi.

Agus menilai, banyak anak muda yang masuk ke kripto dengan motivasi FOMO atau ingin cepat kaya, tanpa memahami bahwa pasar justru akan “menghukum” sikap seperti itu.

Market itu akan menghukum orang-orang yang tidak mampu mengelola emosionalnya dan tidak mampu mengelola keuangannya,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan bahwa kripto seharusnya menjadi tahap lanjutan dalam perjalanan finansial seseorang, bukan langkah awal.

“Kalau di kehidupan sehari-hari saja belum benar mengelola keuangan, jangan harap bisa sukses di trading dan investasi,” ujar Agus.

Melalui wawancara ini, Agus berharap generasi muda Indonesia dapat lebih bijak sebelum masuk ke dunia investasi dan trading kripto. Menurutnya, fondasi pengelolaan keuangan, pemahaman tentang uang, disiplin dan kontrol emosi harus dibangun lebih dulu agar tidak terjebak dalam euforia pasar atau janji keuntungan instan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait