Institusi Besar Kena Badai Pasar Kripto, Tapi Ada yang Masih Cuan Loh

Penurunan tajam di pasar kripto dalam beberapa hari terakhir memunculkan kontras yang mencolok di antara portofolio institusi besar.

Data on-chain dari Lookonchain mencatat perbedaan signifikan dalam posisi untung dan rugi (PnL) para pemegang aset digital berskala besar. Situasi ini sekaligus menjawab pertanyaan “siapa yang selamat dan siapa yang terpukul” akibat pelemahan pasar kripto yang kian dalam.

Data tersebut mengungkap bahwa salah satu institusi dengan kepemilikan Bitcoin terbesar, Strategy, masih mencatatkan keuntungan miliaran dolar AS meski pasar kripto berada dalam tekanan.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Dalam laporan terbarunya, institusi ini memegang sekitar 649.870 BTC dengan harga rata-rata pembelian US$74.433 per BTC. Meski harga Bitcoin sempat turun dari level puncaknya, posisi tersebut masih menunjukkan keuntungan sekitar US$6,15 miliar, atau sekitar 12,72 persen.

Data ini menegaskan bahwa pembelian yang dilakukan pada fase bullish sebelumnya memberi bantalan yang cukup kuat untuk menahan volatilitas ekstrem.

BACA JUGA:  Korban Dugaan Penipuan Timothy Ronald Jalani BAP, Fakta Baru Terungkap

Sebaliknya, sejumlah institusi lain harus menanggung kerugian besar akibat koreksi pasar kripto. Salah satu pemegang terbesar Ethereum melaporkan kerugian paling dalam.

Menurut Lookonchain, Bitmine mengakumulasi 3,56 juta ETH dengan harga rata-rata US$4.010 per ETH, namun koreksi harga ETH menyeret posisi portofolionya ke kerugian sekitar US$4,52 miliar, setara dengan 31,67 persen.

Pelemahan aset ini mencerminkan tekanan kuat yang menghantam altcoin ketika sentimen pasar kripto bergeser ke zona risk-off.

Portofolio Altcoin Tertekan Lebih Dalam

Selain Ethereum, pemegang besar Solana juga mencatat penurunan tajam. Data on-chain menunjukkan bahwa Forward Industries memegang sekitar 6,83 juta SOL dengan harga rata-rata US$232,08.

Koreksi Solana membuat posisi tersebut turun hingga US$711 juta, atau sekitar 44,85 persen. Penurunan ini menyoroti tingginya volatilitas di pasar kripto, terutama pada aset berkapitalisasi besar namun memiliki riwayat pergerakan harga yang agresif.

BACA JUGA:  Bitcoin Merah? Robert Kiyosaki Bilang Ini Justru Fase Penting

Kapan situasi ini terjadi? Menurut laporan Lookonchain, data divergence PnL tersebut dihimpun sepanjang pekan ini, tepat ketika pasar kripto mengalami fase penurunan dengan volume tinggi dan aksi jual yang meluas.

Aktivitas pemantauan dilakukan melalui jaringan blockchain yang mencatat seluruh transaksi dan pergerakan wallet institusional secara global.

Sementara itu, volatilitas ekstrem pada pasar kripto, ditambah aksi pengambilan untung dan tekanan makroekonomi, menyebabkan aset dengan cost basis tinggi langsung terdampak oleh koreksi besar.

Ketimpangan Kinerja Menguat Saat Koreksi Pasar Kripto Kian Dalam

Fenomena kontras antara institusi yang masih untung dan yang mengalami kerugian besar menyoroti ketimpangan dalam strategi akumulasi aset.

Institusi dengan portofolio Bitcoin yang memiliki harga dasar lebih rendah terbukti lebih tahan terhadap penurunan pasar kripto, sementara pembeli altcoin pada harga tinggi lebih rentan terpukul.

BACA JUGA:  Jeffrey Epstein: Analogi Kripto Mirip Ciuman Rahasia di Pesta Topeng

Data ini menunjukkan bagaimana strategi masuk pasar, waktu pembelian, dan jenis aset sangat menentukan daya tahan portofolio ketika pasar kripto memasuki fase tekanan tinggi.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia