Institusi Mulai Beli Bitcoin? Pola Bullish Klasik Muncul Lagi

Aktivitas institusional di pasar Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan setelah analis on-chain ShayanMarkets di CryptoQuant mendeteksi pola yang disebut sebagai struktur dasar klasik yang biasanya muncul menjelang fase kenaikan besar (bullish expansion).

Fenomena ini muncul tepat setelah penurunan tajam harga BTC di awal November 2025, di mana pasar tampak mulai menunjukkan tanda-tanda keseimbangan baru antara tekanan jual ritel dan akumulasi dari investor besar.

Menurut Shayan, metrik Bitcoin Spot Average Order Size mencatat lonjakan pesanan berukuran besar (whale orders) diikuti dengan peningkatan volume transaksi ritel berukuran kecil.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Pola ini sering kali mencerminkan fenomena retail capitulation, yakni saat investor kecil menyerah dan menjual kepemilikannya karena tekanan psikologis, sementara institusi memanfaatkan momentum tersebut untuk mulai beli Bitcoin dengan harga diskon.

“Struktur yang sama kini muncul kembali, di mana pesanan besar mulai aktif di sekitar level US$100.000, menandakan kembalinya minat beli dari pelaku pasar institusional,” ujar ShayanMarkets.

BACA JUGA:  10 Fakta Bitcoin Ferry Irwandi yang Mencapai 400 Keping!

Tanda-Tanda Kapitulasi Ritel dan Akumulasi Institusional

Pergerakan data ini tidak berdiri sendiri. Sejalan dengan pengamatan ShayanMarkets, analis Moreno di CryptoQuant juga melaporkan bahwa hampir sepertiga dari seluruh BTC yang beredar kini dipegang dalam kondisi boncos atau merugi.

Tepatnya, sekitar 28 persen pasokan Bitcoin saat ini berada di bawah harga beli para pemegangnya.

Kondisi tersebut, meski tampak mengkhawatirkan, secara historis justru sering menandai terbentuknya titik dasar (local bottom) dalam siklus bullish.

“Ambang batas kerugian semacam ini biasanya bertepatan dengan titik stres likuiditas, di mana penjual telah kelelahan,” ungkap Moreno.

Dengan kata lain, pasar sedang memasuki fase jenuh jual atau oversold di mana tekanan dari investor jangka pendek mulai mereda, membuka peluang bagi akumulasi baru.

Secara psikologis, semakin lama harga Bitcoin tertekan, semakin besar tekanan emosional yang dirasakan pelaku pasar.

Dalam kondisi seperti ini, investor jangka panjang cenderung mengambil keuntungan sebagian untuk melindungi hasil, sementara investor baru mungkin menjual pada titik impas ketika harga mulai pulih sedikit. Akibatnya, pasar bisa memasuki fase “keseimbangan rapuh” antara ketakutan dan kesabaran.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Hari Ini 27 Maret 2026, Rp 1,165 Miliar per BTC

Potensi Rebound dari Level Kritis

Di sisi teknikal, analis kripto Ali Martinez juga menyoroti potensi pergerakan Bitcoin dari level support penting di kisaran US$101.000.

Menurut analisis Martinez, jika harga mampu bertahan dan memantul dari level tersebut, Bitcoin berpotensi melakukan rebound menuju US$106.500 atau bahkan menembus hingga US$112.000.

beli bitcoin btc

Kombinasi antara tekanan jual ritel yang mulai menurun dan munculnya pesanan besar dari institusi memperkuat dugaan bahwa pasar sedang membentuk fase dasar yang baru.

Banyak analis menilai situasi ini menyerupai pola klasik sebelum reli besar pada siklus sebelumnya, ketika investor kecil kehilangan kepercayaan sementara investor besar mulai beli Bitcoin secara agresif.

Jika pola historis ini berulang, maka kondisi saat ini dapat menjadi titik balik penting menuju gelombang akumulasi institusional berikutnya.

Meski demikian, ShayanMarkets mengingatkan bahwa konfirmasi penuh masih dibutuhkan untuk memastikan bahwa tekanan jual benar-benar berakhir. Namun, sinyal yang muncul di sekitar level US$100.000 tampaknya menunjukkan satu hal, yakni pelaku besar mulai bergerak diam-diam.

BACA JUGA:  Ngeri! Trader Indonesia Rugi Rp1,26 Miliar Gara-gara Altcoin Ini

Dengan sekitar sepertiga dari pasokan Bitcoin kini berada dalam kondisi rugi dan aktivitas whale yang kembali meningkat, pasar tampak berada di persimpangan penting. Apabila tekanan jual terus berkurang dan ketakutan mencapai puncaknya, fase ini bisa menjadi fondasi bagi siklus kenaikan berikutnya.

Namun, jika sentimen gagal pulih dan para pemegang terus mengurangi risiko, struktur permintaan dapat melemah, menandakan berakhirnya momentum lama.

Hingga kini, pertanyaan terbesar di kalangan pelaku pasar tetap sama, siapa yang masih cukup yakin untuk bertahan, dan siapa yang diam-diam mulai kembali membeli Bitcoin di saat banyak orang memilih menjauh. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait