Investor Menepi, Transaksi Kripto Indonesia Anjlok 31 Persen saat Geopolitik Memanas

Nilai transaksi aset kripto di Indonesia tercatat turun tajam pada kuartal pertama tahun 2026 di tengah meningkatnya tensi geopolitik global yang mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Berdasarkan laporan Warta Ekonomi pada Sabtu (25/4/2026), total transaksi kripto nasional hanya mencapai Rp75,8 triliun, turun 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level Rp109,5 triliun.

Penurunan ini terjadi ketika pasar keuangan global menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik yang semakin meluas, terutama di kawasan Timur Tengah, yang memicu perubahan pola alokasi aset investor.

Dalam situasi penuh ketidakpastian, investor cenderung memindahkan dana dari aset berisiko tinggi seperti kripto ke instrumen yang dinilai lebih aman seperti emas dan obligasi pemerintah.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Direktur Ekonomi Digital di Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai tekanan terhadap pasar kripto saat ini tidak bisa dipisahkan dari eskalasi konflik global yang memengaruhi sentimen investor secara luas.

“Dalam kondisi geopolitik yang memanas seperti saat ini, investor akan memilih instrumen investasi yang lebih aman. Instrumen investasi dengan harga yang volatil seperti kripto, menjadi tidak menarik. Akhirnya transaksi kripto di global dan di Indonesia juga mengalami penurunan jadi memang kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari konflik global,” ujar Nailul Huda.

BACA JUGA:  Selat Hormuz Makin Panas, PBB Bersiap Ambil Keputusan Penting

Sepanjang tiga bulan pertama 2026, tren pelemahan transaksi terlihat berlangsung konsisten. Pada Januari, nilai transaksi kripto di Indonesia tercatat sebesar Rp29,24 triliun, kemudian turun menjadi Rp24,33 triliun pada Februari, dan kembali melemah ke Rp22,2 triliun pada Maret.

Pola penurunan berturut-turut ini menunjukkan minat investor ritel masih tertahan, sementara sebagian besar pelaku pasar memilih mengambil posisi menunggu.

Koreksi Global Menekan Pasar Kripto Lebih Dalam

Pelemahan pasar domestik sejalan dengan kondisi global yang juga tengah mengalami koreksi besar. Kapitalisasi pasar kripto dunia tercatat turun sekitar 20,4 persen hingga akhir Maret 2026 dan berada di level US$2,4 triliun.

Koreksi tersebut dipicu oleh arus keluar modal dari aset digital akibat meningkatnya preferensi investor terhadap aset lindung nilai.

Di pasar global, Bitcoin masih menjadi acuan utama pergerakan pasar. Namun sejak mencapai puncak harga pada Oktober 2025, Bitcoin telah terkoreksi sekitar 38 persen. Tekanan serupa juga terjadi pada aset digital utama lainnya, termasuk Ethereum yang turun sekitar 47 persen.

BACA JUGA:  Sandiaga Uno: Jangan Terjebak Ilusi Cepat Kaya dari Kripto

Sementara itu, altcoin mengalami koreksi lebih dalam. XRP tercatat melemah sekitar 46 persen, sedangkan Solana turun hingga 55 persen dari level tertingginya. Koreksi yang lebih besar pada altcoin menunjukkan investor cenderung lebih cepat melepas aset dengan volatilitas tinggi saat ketidakpastian global meningkat.

Investor Tunggu Arah Baru Pasar

Di dalam negeri, perlambatan aktivitas perdagangan juga tercermin dari penurunan volume transaksi di sejumlah bursa aset digital. Kondisi ini memperlihatkan perubahan perilaku investor yang lebih defensif dan cenderung menghindari risiko tinggi.

Pelaku pasar saat ini masih menunggu perkembangan konflik global serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dunia. Ketidakpastian terkait distribusi energi, inflasi, hingga arah kebijakan moneter global menjadi faktor yang ikut membentuk sentimen di pasar kripto.

Meski demikian, sejumlah pengamat melihat pelemahan ini masih berada dalam pola siklus pasar yang umum terjadi di industri aset digital. Setelah fase pertumbuhan besar pada 2024, pasar kini memasuki fase konsolidasi yang dinilai sebagai bagian dari penyesuaian alami sebelum potensi pemulihan berikutnya.

BACA JUGA:  Andai Selat Malaka Ikuti Tarif Kripto ala Hormuz, Segini Pendapatan RI

Secara keseluruhan, penurunan transaksi kripto di Indonesia pada awal tahun ini menunjukkan bahwa gejolak geopolitik global kini berdampak langsung pada pasar domestik.

Saat ketidakpastian meningkat, investor cenderung mengurangi aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman, sehingga menekan volume perdagangan sekaligus memperdalam koreksi pasar kripto secara global.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait