Pasar Bitcoin disebut tengah mengalami perubahan struktur besar setelah aktivitas investor ritel di jaringan blockchain turun ke titik terendah sepanjang sejarah. Di tengah melemahnya partisipasi investor ritel, akumulasi justru semakin didominasi oleh institusi besar dan aliran modal dari produk Bitcoin ETF spot.
Analis on-chain dari XWIN Japan di CryptoQuant mengungkapkan bahwa perubahan tersebut bukan sekadar penurunan minat pasar biasa, melainkan transformasi mendasar terhadap cara investor memperoleh eksposur ke Bitcoin.
Berdasarkan data yang ia bagikan, arus masuk BTC ke Binance dari wallet dengan kepemilikan di bawah 1 BTC kini hanya berada di kisaran rata-rata 314 BTC per bulan.

Angka tersebut turun drastis dibanding puncak inflow investor ritel yang pernah mencapai sekitar 5.400 BTC pada 2018, sekitar 2.600 BTC pada 2021, dan sekitar 1.200 BTC ketika Bitcoin membentuk local top pada Maret 2024. Penurunan ini membuat banyak pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah investor ritel benar-benar meninggalkan Bitcoin.
Namun menurut XWIN Japan, perubahan yang terjadi lebih berkaitan dengan perpindahan jalur investasi dibanding hilangnya minat masyarakat terhadap aset kripto terbesar di dunia itu.
“Perubahan terbesar bukan berarti investor ritel berhenti membeli Bitcoin, tetapi cara mereka mendapatkan eksposur terhadap BTC kini berubah secara fundamental,” ujar XWIN Japan.
Dalam beberapa siklus sebelumnya, investor ritel umumnya membeli Bitcoin langsung melalui bursa seperti Binance atau Coinbase. Namun sejak hadirnya Bitcoin ETF spot di AS, sebagian besar modal kini mengalir melalui produk investasi institusional yang ditawarkan perusahaan besar seperti BlackRock dan Fidelity Investments.
ETF dan Institusi Mulai Mendominasi Pasar Bitcoin
Perubahan struktur pasar tersebut juga terlihat dari data kepemilikan Bitcoin dalam satu tahun terakhir. Saat bear market 2022 hingga 2023 berlangsung, investor ritel tercatat aktif melakukan akumulasi, sementara investor besar justru mengurangi eksposur mereka. Namun sejak 2024, tren itu berbalik tajam.
Investor institusi dan whale kini disebut semakin agresif mengakumulasi Bitcoin, sedangkan aktivitas investor ritel terus melemah. Kondisi itu membuat Bitcoin dinilai semakin bergerak seperti aset makro global yang dipengaruhi arus likuiditas, suku bunga, posisi derivatif, hingga aliran dana ETF.
Data dari Santiment bahkan menunjukkan Bitcoin ETF telah mencatat net outflow sebesar US$648,6 juta pada Senin lalu, menjadi arus keluar dana terbesar sejak 29 Januari. Meski demikian, Santiment menilai peristiwa outflow besar justru kerap menjadi sinyal berlawanan bagi pasar kripto.

Santiment menyoroti bahwa reli terbesar Bitcoin dalam setahun terakhir beberapa kali muncul tidak lama setelah investor panik dan menarik dana dari ETF. Sebaliknya, lonjakan inflow besar sering muncul ketika investor ritel mulai euforia dan mengejar kenaikan harga, yang justru berujung pada pembentukan puncak pasar jangka pendek.
Ancaman Koreksi Masih Jadi Sorotan
Di sisi lain, sejumlah analis teknikal mulai memperingatkan potensi koreksi lebih dalam apabila kondisi pasar global terus memburuk. Analis Ted menilai siklus sebelumnya menunjukkan Bitcoin sempat membentuk bottom sekitar 10 persen di bawah garis EMA300 pada Maret 2020 dan sekitar 15 persen di bawah level tersebut pada November 2022.

Dengan pola historis serupa, Ted memperkirakan Bitcoin berpotensi membentuk area bottom baru di kisaran US$52 ribu hingga US$55 ribu pada 2026 apabila tekanan bearish kembali meningkat.
Pandangan serupa juga datang dari analis Chiefy yang menyebut Bitcoin kini mulai memasuki Pivot Zone yang sama seperti saat keruntuhan pasar 2022 terjadi. Menurutnya, banyak pelaku pasar saat itu menganggap penurunan besar hanya sebagai “koreksi sehat” sebelum akhirnya pasar mengalami pelemahan lebih dalam.

Meski demikian, perubahan dominasi dari investor ritel menuju institusi tetap dianggap menjadi salah satu perubahan terbesar dalam sejarah Bitcoin.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa arah pergerakan pasar kini semakin ditentukan oleh aliran modal institusional dan sentimen makro global dibanding spekulasi investor kecil seperti pada siklus-siklus sebelumnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


