Penguatan nilai tukar yuan terhadap dolar AS (AS) mendorong perubahan signifikan pada perilaku investor aset digital di Tiongkok.
Dalam beberapa pekan terakhir, yuan menguat dari sekitar 7,40 per dolar AS menjadi 7,06, membuat pemegang stablecoin berdenominasi dolar, khususnya USDT, mengalami kerugian tidak langsung saat menukarkan kembali aset mereka ke mata uang domestik.
Perhitungan analis menunjukkan potensi penurunan nilai hingga sekitar 4,6 persen bagi investor lokal, sehingga membuat stablecoin dolar kehilangan daya tariknya sebagai penyimpan nilai maupun alat masuk ke pasar kripto.
Penguatan yuan yang terjadi menjelang akhir tahun ini dinilai sebagai salah satu apresiasi tercepat sejak 2020. Situasi tersebut secara langsung mengubah strategi investor Tiongkok, yang selama ini memanfaatkan USDT sebagai lindung nilai sekaligus sarana keluar-masuk pasar aset digital.
Dengan nilai dolar AS yang melemah terhadap yuan, memegang USDT kini justru menurunkan daya beli dalam mata uang lokal. Kondisi tersebut tergambar pada aktivitas perdagangan di sejumlah platform, di mana pair USDT/CNY mulai menunjukkan tekanan penurunan permintaan.
Peringatan Otoritas dan Pergeseran Strategi Investor
Bank sentral Tiongkok kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap stablecoin. Dalam pernyataan terbaru, lembaga tersebut menyebut stablecoin sebagai bentuk mata uang virtual yang tidak memiliki status alat pembayaran sah.
Pernyataan itu disertai penjelasan mengenai risiko penyalahgunaan stablecoin dalam aktivitas pencucian uang, penipuan penggalangan dana, serta transfer modal lintas batas secara ilegal.
Penegasan ini memperdalam kekhawatiran pelaku pasar, terutama ketika perubahan nilai tukar sudah terlebih dahulu membuat kepemilikan USDT menjadi kurang menguntungkan.
Sejumlah analis menilai kombinasi penguatan yuan dan peringatan regulator menciptakan tekanan ganda bagi pemegang stablecoin dolar. Investor yang sebelumnya mencari stabilitas kini mendapati bahwa USDT justru berpotensi menggerus nilai portofolio mereka ketika dikonversi kembali ke yuan.
Pergeseran ini tampak pada meningkatnya aktivitas penjualan USDT melalui kanal over the counter (OTC) yang masih digunakan secara luas oleh warga Tiongkok untuk mengakses aset digital.
Meski perdagangan kripto tetap dilarang di Tiongkok, transaksi OTC dan penggunaan platform luar negeri terus berlangsung, namun kini dengan kecenderungan mengurangi eksposur terhadap stablecoin dolar.
Aset Riil dan Tokenisasi Jadi Pilihan Baru Investor Tiongkok
Di tengah melemahnya minat pada stablecoin dolar, instrumen berbasis aset riil mulai menjadi alternatif bagi investor Tiongkok.
Produk tokenisasi seperti emas digital dan saham AS yang ditokenisasi menunjukkan peningkatan perhatian karena dinilai mampu mempertahankan nilai tanpa bergantung pada fluktuasi dolar terhadap yuan.
Lonjakan minat tersebut mencerminkan strategi diversifikasi baru para investor yang ingin melindungi nilai portofolio dari perubahan tajam nilai tukar.
Penguatan yuan juga menambah dinamika baru dalam lanskap kripto Asia. Selama bertahun-tahun, USDT menjadi stablecoin dominan di Tiongkok karena fungsinya sebagai alat likuiditas dan penyimpan nilai yang stabil.
Namun, dengan performa yuan yang mencatat penguatan terbesar dalam lima tahun terakhir, keuntungan menyimpan USDT tidak lagi sebanding dengan risikonya. Investor kini lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih instrumen yang memberikan keseimbangan antara likuiditas dan perlindungan nilai.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



