Iran mulai membuka akses terbatas di selat Hormuz untuk kapal yang membawa barang-barang penting menuju pelabuhannya, setelah sebelumnya menutup jalur tersebut di tengah eskalasi konflik dengan AS dan Israel.
Kebijakan itu menjadi sinyal pelonggaran pertama, meski otoritas Iran tetap menerapkan kontrol ketat terhadap setiap kapal yang melintas di jalur strategis tersebut.
Berdasarkan laporan Reuters pada Sabtu (4/4/2026), kapal yang mengangkut kebutuhan esensial kini diperbolehkan masuk melalui selat Hormuz, namun dengan syarat wajib berkoordinasi terlebih dahulu dengan otoritas terkait.
Selain itu, kapal juga harus mengikuti prosedur keamanan yang ketat sebelum mendapatkan izin melintas. Kebijakan ini berlaku terutama bagi kapal yang menuju pelabuhan Iran, termasuk yang berada di kawasan sekitar Teluk Oman.
Langkah ini diambil setelah sebelumnya Iran membatasi akses di selat Hormuz secara signifikan sebagai respons atas meningkatnya ketegangan militer di kawasan. Jalur tersebut dikenal sebagai salah satu titik paling vital dalam perdagangan energi global, dengan sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati perairan tersebut.
Akses Selat Hormuz Dibuka Terbatas, Risiko Masih Tinggi
Meski ada pelonggaran, kondisi di selat Hormuz belum sepenuhnya normal. Otoritas Iran hanya memberikan akses kepada kapal tertentu yang dianggap memenuhi kriteria keamanan. Kapal lain masih menghadapi risiko tinggi, termasuk kemungkinan inspeksi atau ancaman serangan di tengah situasi geopolitik yang memanas.
Sejumlah laporan juga menunjukkan bahwa ketegangan masih berlangsung di lapangan. Bahkan, di hari yang sama dengan pengumuman pelonggaran, Iran dilaporkan menyerang kapal yang memiliki keterkaitan dengan Israel di kawasan tersebut.
Situasi ini menegaskan bahwa pembukaan akses yang dilakukan Iran lebih bersifat terbatas dan tidak mencerminkan normalisasi penuh jalur pelayaran.
Secara tidak langsung, kebijakan ini menciptakan kondisi “semi-terbuka” di selat Hormuz, di mana jalur untuk kebutuhan vital tetap berjalan, tetapi kontrol ketat masih diberlakukan. Hal ini membuat aktivitas pelayaran internasional belum sepenuhnya pulih, dengan banyak operator kapal masih berhati-hati dalam melintasi kawasan tersebut.
Tekanan Global dan Dampak Energi Meningkat
Di tengah situasi ini, tekanan internasional terhadap Iran juga meningkat. Belum lama ini, Presiden AS Donald Trump telah memberikan ultimatum agar Iran membuka kembali selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Ia memperingatkan adanya konsekuensi besar jika Iran tidak mematuhi, seiring meningkatnya ketegangan militer di kawasan.
Dalam perkembangan tersebut, lalu lintas kapal di jalur ini dilaporkan turun drastis hingga sekitar 90 persen akibat ancaman serangan dan pembatasan yang diberlakukan Iran, yang sekaligus meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Dampak gangguan di selat Hormuz juga telah dirasakan di pasar energi global. Berdasarkan laporan Reuters pada Rabu (1/4/2026), Badan Energi Internasional (IEA) telah memperingatkan bahwa gangguan pasokan minyak akibat konflik Iran dan pembatasan di jalur ini akan semakin terasa sepanjang April.
Lebih dari 12 juta barel minyak dilaporkan telah hilang dari pasar, dengan dampak yang diperkirakan meningkat hingga dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya.
Dengan kondisi tersebut, pelonggaran terbatas yang dilakukan Iran belum cukup untuk meredakan kekhawatiran global. Selama akses di selat Hormuz masih dikendalikan secara ketat dan ketegangan geopolitik belum mereda, jalur ini diperkirakan akan tetap menjadi titik krusial yang memengaruhi stabilitas energi dan keamanan kawasan secara luas.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



