Jahat! Dana Pensiun Lansia Rp14 Miliar Ludes akibat Crypto Scam

Kasus penipuan kripto kembali memakan korban. Seorang lansia di Hong Kong kehilangan tabungan pensiunnya hingga miliaran rupiah setelah terjebak dalam skema crypto scam yang terstruktur.

Modus “Crypto Expert” yang Menyasar Lansia

Dikutip dari unggahan CyberDefender di Facebook pada Jumat (20/03/2026), polisi Hong Kong mengungkap bahwa korban berusia 66 tahun ini ditipu sebanyak tiga kali dalam kurun enam bulan.

Modus yang digunakan pelaku adalah mengaku sebagai “ahli investasi mata uang kripto” yang menjanjikan keuntungan stabil jika korban mengikuti arahan mereka.

Awalnya, korban dihubungi secara acak pada September 2025 melalui WhatsApp. Tanpa curiga, ia mentransfer sekitar HK$1,4 juta atau setara Rp3 miliar serta mengirim kripto ke wallet milik pelaku. Tak lama kemudian, sosok “ahli” tersebut menghilang tanpa jejak.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Merasa mengalami kerugian besar, korban kemudian mencoba mencari bantuan secara mandiri. Namun, alih-alih menemukan solusi, ia justru kembali terjebak dalam skema penipuan lanjutan yang lebih kompleks.

Waspada! Kasus Penipuan Kripto Merajalela, Lansia Paling Terdampak

Kasus ini menunjukkan bahwa pelaku tidak hanya menipu sekali, tetapi juga “mendaur ulang” korban dengan skenario crypto scam baru yang terlihat meyakinkan.

BACA JUGA:  Dipilih Stellar, Token Zebec Langsung Melejit dan Jadi Sorotan

Terjebak Tiga Kali, Skema Penipuan Kripto Kian Kompleks

Setelah penipuan pertama, korban menemukan sosok lain yang mengklaim bisa membantu memulihkan dana yang hilang. Namun, syaratnya adalah membayar deposit keamanan sebesar HK$600.000 atau Rp1,4 miliar. Lagi-lagi, setelah dana dikirim, pelaku menghilang tanpa jejak.

Puncaknya terjadi pada Januari, ketika scammer ketiga menghubungi korban dan menawarkan untuk mengembalikan seluruh kerugian sebelumnya. Kali ini, korban diminta membeli kripto dengan nilai yang jauh lebih besar. Namun, ia kembali terjebak dalam skema yang sama.

Crypto expert lain menghubungi korban dan mengklaim dapat memulihkan kerugian dari dua penipuan sebelumnya. Syaratnya, korban harus membeli kripto HK$4,6 juta dan mengirimkannya ke dompet pelaku. Setelah mengikuti instruksi, ‘expert’ itu kembali menghilang,” seperti tercantum dalam postingan tersebut.

Dalam kurun waktu sekitar enam bulan, rangkaian penipuan kripto tersebut membuat korban kehilangan total sekitar HK$6,6 juta atau setara dengan Rp14 miliar, menguras habis tabungan pensiun miliknya.

BACA JUGA:  Co-Founder Indodax: Waspada Dampak Ekonomi Akibat Perang Iran–AS

Lansia Jadi Target Empuk Crypto Scam

Lansia memang kerap menjadi target utama dalam berbagai skema penipuan kripto. Minimnya pemahaman teknologi, ditambah tingginya kepercayaan terhadap sosok yang mengaku “ahli,” membuat kelompok ini menjadi lebih rentan.

Dikutip dari laporan sebelumnya, Federal Trade Commission (FTC) mencatat bahwa korban berusia di atas 60 tahun mengalami lonjakan dalam kerugian investasi kripto palsu. Modus yang digunakan pun beragam, mulai dari iklan hingga pesan langsung seperti WhatsApp.

Data dari FBI turut memperkuat tren tersebut. Tercatat sekitar 16.000 laporan berasal dari korban lansia, dengan total kerugian mencapai US$1,6 miliar. Angka ini menempatkan kelompok tersebut sebagai korban terbesar dalam kasus penipuan kripto.

Tergiur Profit Instan, Puluhan Korban Investasi Kripto Bodong Lapor Polisi

Kasus crypto scam di Hong Kong menjadi pengingat keras bahwa janji keuntungan instan dan klaim “pasti untung” adalah sinyal bahaya. Dalam dunia kripto, kehati-hatian kini bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan.

BACA JUGA:  Konflik Memanas, Kripto Jadi Pelarian Baru Warga Iran?

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait