Jumlah holder yang banyak belum tentu menandakan sebuah altcoin telah terdistribusi secara sehat. Di balik ribuan alamat berbeda, sebagian besar pasokan token bisa saja terkonsentrasi pada sekelompok wallet yang mempunyai hubungan satu sama lain.
Kondisi tersebut tidak selalu terlihat hanya dengan membuka daftar pemegang token terbesar. Satu pihak dapat membagi kepemilikannya ke banyak alamat sehingga masing-masing wallet hanya menguasai sebagian kecil supply atau pasokan. Akibatnya, distribusi token sekilas terlihat lebih merata dibanding kondisi sebenarnya.
Analisis on-chain dapat digunakan untuk menyelidikinya lebih jauh. Salah satu alat yang bisa dimanfaatkan adalah Bubblemaps, yang memvisualisasikan pemegang token sebagai gelembung atau bubble, serta hubungan transaksi antar-wallet.
Ukuran setiap bubble mencerminkan jumlah token yang dikuasai, sementara koneksi antar-bubble menunjukkan adanya riwayat transfer di blockchain.
Daftar Top Holder Saja Belum Cukup
Anggap sebuah altcoin mempunyai lima wallet besar yang masing-masing memegang 3 persen, 2,8 persen, 2,5 persen, 2,2 persen dan 2 persen dari total supply. Jika hanya melihat daftar holder, tidak ada satu wallet pun yang terlihat sangat dominan.
Gambarnya berubah jika kelima wallet tersebut ternyata saling terhubung. Secara gabungan, mereka menguasai 12,5 persen supply.
Kondisi menjadi semakin menarik untuk diselidiki apabila dompet-dompet tersebut menerima dana awal dari alamat yang sama, pernah menerima token dari deployer, atau menunjukkan pola aktivitas yang serupa.
Bubblemaps menampilkan hingga ratusan top holder dalam bentuk bubble dan mengelompokkannya berdasarkan hubungan on-chain. Karena itu, perhatian sebaiknya tidak hanya diberikan kepada bubble terbesar, tetapi juga kelompok bubble yang saling terkoneksi.
Namun, hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan semua wallet dimiliki satu orang. Transfer antar-wallet hanya memberikan petunjuk bahwa terdapat hubungan yang layak diperiksa lebih jauh.
Mulai dari Contract Address, Lalu Cari Cluster Terbesar
Langkah pertama adalah memastikan contract address dari altcoin yang hendak diperiksa. Ini lebih aman dibanding hanya mencari berdasarkan ticker karena nama dan simbol token dapat digunakan oleh lebih dari satu aset.
Setelah token dibuka di Bubblemaps, perhatikan distribusinya secara keseluruhan. Bubble yang besar menunjukkan kepemilikan token yang besar, sedangkan kumpulan bubble yang saling terhubung membentuk cluster.
Pengguna dapat mengeklik sebuah bubble untuk menyoroti cluster terkait dan melihat jejak kelompok tersebut pada peta. Di sinilah investigasi dimulai.
Alih-alih langsung mencurigai pemegang terbesar, periksa apakah beberapa wallet dalam jajaran top holder berada dalam cluster yang sama.
Jika wallet peringkat kedua menguasai 4 persen supply, wallet kelima 3 persen dan wallet kedelapan 2 persen, misalnya, hubungan kuat di antara ketiganya membuat kepemilikan gabungan 9 persen lebih relevan untuk diperhatikan daripada membaca ketiga angka tersebut secara terpisah.
Bubblemaps sendiri menyarankan pengguna memperhatikan persentase yang dikuasai wallet-wallet yang terkoneksi ketika menganalisis distribusi token.
Telusuri dari Mana Wallet Mendapat Dana
Cluster besar belum cukup. Langkah berikutnya adalah mencari alasan mengapa wallet tersebut bisa saling berhubungan.
Salah satu petunjuk yang perlu diperiksa adalah sumber pendanaan. Bayangkan terdapat belasan fresh wallet yang membeli altcoin yang sama. Alamatnya berbeda dan transaksi dilakukan secara terpisah, tetapi seluruh wallet tersebut sebelumnya menerima ETH, SOL atau aset lain yang dibutuhkan untuk biaya transaksi dari sumber yang sama.
Pola seperti itu bisa menunjukkan aktivitas yang terkoordinasi, meski belum membuktikan identitas pelakunya.
Analisis juga dapat diarahkan ke deployer token. Periksa apakah deployer pernah mengirim pasokan token ke wallet-wallet yang kemudian menjadi pemegang besar.
Semakin banyak hubungan yang dapat dibuktikan, misalnya sumber pendanaan sama, transfer dari deployer dan waktu aktivitas berdekatan, semakin kuat alasan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.
Bubblemaps juga memiliki Time Nodes yang dirancang untuk menemukan hubungan yang lebih abstrak ketika sejumlah wallet tidak berinteraksi secara langsung, termasuk ketika pendanaan melewati bursa terpusat atau bridge. Fitur tersebut memanfaatkan kesamaan waktu aktivitas sebagai salah satu cara menemukan kemungkinan koordinasi.
Tetapi sekali lagi, korelasi tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai petunjuk investigasi, bukan identifikasi pasti pemilik wallet.
Jangan Salah Mengira Bursa sebagai Insider
Kesalahan besar dapat terjadi apabila semua wallet besar langsung dianggap sebagai whale atau insider.
Alamat milik bursa, liquidity pool, bridge, staking contract, vesting contract maupun layanan kustodian dapat memegang token dalam jumlah besar atas nama banyak pengguna. Karena itu, sebuah wallet yang menguasai 15 persen supply tidak otomatis berarti satu investor memegang 15 persen token beredar.
Label alamat perlu diperiksa terlebih dahulu. Setelah menemukan wallet yang mencurigakan di Bubblemaps, alamat tersebut juga dapat dibuka menggunakan blockchain explorer yang sesuai.
Untuk token di Ethereum, misalnya, Etherscan menampilkan jumlah holder, total transfer, token holdings dan berbagai riwayat transaksi yang dapat digunakan untuk melanjutkan penelusuran. Dokumentasi Etherscan juga menyediakan data mengenai top token holders.
Tujuannya adalah mencari konfirmasi tambahan. Dari mana token datang? Apakah wallet menerima langsung dari deployer? Apakah aset kemudian dikirim menuju bursa? Apakah transaksi dengan anggota cluster lain hanya terjadi sekali atau berulang kali?
Semakin banyak lapisan yang diperiksa, semakin kecil risiko salah membaca visualisasi.
Putar Waktu untuk Melihat Distribusi Sejak Peluncuran
Analisis menjadi lebih menarik apabila kondisi saat ini dibandingkan dengan masa lalu. Bubblemaps V2 memiliki fitur Time Travel yang memungkinkan pengguna melihat distribusi token pada titik tertentu dalam sejarahnya, mulai dari periode peluncuran hingga kondisi terbaru.
Fitur ini dapat dipakai untuk menjawab pertanyaan penting, apakah token sejak awal sudah terkonsentrasi? Apakah wallet besar kemudian memecah kepemilikannya ke puluhan alamat? Apakah distribusi justru semakin sehat setelah token diperdagangkan lebih luas?
Sebagai contoh hipotetis, saat peluncuran satu cluster menguasai 35 persen supply. Beberapa bulan kemudian peta menunjukkan cluster tersebut tinggal 8 persen. Itu belum tentu berarti 27 persen sisanya telah berpindah ke investor independen.
Gunakan Time Travel untuk melihat proses perpindahannya. Jika token hanya berpindah dari beberapa wallet lama menuju puluhan wallet baru yang masih mempunyai hubungan on-chain, desentralisasi supply yang terlihat di permukaan perlu diperiksa lagi.
Kasus LIBRA Tunjukkan Pentingnya Telusuri Hubungan Wallet
Kegunaan metode tersebut terlihat pada kasus token LIBRA pada Februari 2025.
Chainalysis mengidentifikasi delapan wallet yang menerima token secara langsung dari creator LIBRA dan menarik sekitar US$99 juta aset dari liquidity pool token tersebut.
Chainalysis saat itu tidak dapat memastikan identitas pemilik kedelapan wallet, tetapi menilai perilaku on-chain menunjukkan alamat-alamat itu berkaitan erat dengan pihak pembuat LIBRA karena pendanaannya berasal langsung dari creator.
Tentu saja, hubungan pendanaan dan perjalanan aset di antara wallet dapat memberikan gambaran yang jauh lebih lengkap.
Hal yang sama berlaku ketika menganalisis altcoin lain. Banyaknya holder hanyalah satu data. Yang lebih penting adalah mengetahui apakah holder-holder terbesar benar-benar independen satu sama lain.
Karena itu, sebelum menyimpulkan sebuah altcoin dikuasai insider, pembaca dapat menjalankan beberapa pemeriksaan secara berurutan, yakni lihat konsentrasi top holder, cari cluster, telusuri sumber dana, periksa hubungan dengan deployer, identifikasi alamat bursa atau kontrak, kemudian bandingkan distribusi historisnya.
Jika beberapa wallet mempunyai hubungan yang kuat, hasil analisis yang paling aman bukan langsung menyebut semuanya sebagai “wallet insider.” Kesimpulan yang lebih tepat adalah bahwa terdapat cluster terhubung yang menguasai sebagian supply dan layak diselidiki lebih jauh.
Perbedaan istilah itu penting. Blockchain dapat menunjukkan apa yang dilakukan sebuah alamat dan bagaimana dana berpindah, tetapi tidak selalu dapat membuktikan siapa manusia atau organisasi yang berada di belakang wallet tersebut.
Pada akhirnya, tujuan analisis distribusi bukan sekadar menemukan bubble terbesar. Tujuannya adalah mengetahui apakah kepemilikan sebuah altcoin benar-benar tersebar, atau hanya terlihat tersebar karena satu kelompok supply telah dipecah ke banyak wallet berbeda. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


