Stablecoin dirancang untuk mempertahankan nilai terhadap aset acuan, seperti dolar AS. Namun, label “stable” bukan berarti nilainya tidak bisa menyimpang dari patokan.
Depeg stablecoin terjadi ketika harga token bergerak menjauh dari nilai yang seharusnya dipertahankan, misalnya stablecoin berbasis dolar yang turun cukup jauh dari US$1.
Masalahnya, menunggu harga jatuh baru kemudian bereaksi bisa terlambat. Risiko depeg stablecoin sebenarnya dapat dianalisis dari beberapa indikator lain, mulai dari kualitas cadangan, mekanisme redemption, perubahan supply hingga kondisi likuiditas di pasar.
Riset The Fed juga menunjukkan bahwa pergerakan harga di pasar sekunder saja tidak selalu memberikan gambaran lengkap mengenai tekanan pada stablecoin. Aktivitas antara pasar primer dan sekunder turut berperan ketika stablecoin menghadapi kondisi krisis.
Depeg Stablecoin Tidak Selalu Dimulai dari Harga
Langkah pertama adalah memahami mekanisme yang mempertahankan peg. Stablecoin berbasis fiat, kripto sebagai jaminan dan model sintetis memiliki sumber risiko berbeda sehingga tidak bisa dinilai dengan cara yang sama.
Untuk stablecoin seperti USDC, perhatian utama dapat diarahkan pada aset cadangan dan kemampuan redemption. Circle, misalnya, menyatakan dalam halaman transparansi USDC bahwa token tersebut ditopang oleh kas dan aset setara kas yang sangat likuid, dengan mayoritas reserve berada dalam Circle Reserve Fund.
Sementara itu, stablecoin yang dijamin aset kripto menghadapi risiko tambahan berupa penurunan nilai collateral. Dokumentasi Liquity menjelaskan bahwa BOLD bergantung pada efektivitas likuidasi pinjaman yang menjadi undercollateralized. Artinya, investor perlu memahami apa yang sebenarnya menopang US$1 tersebut sebelum menilai risiko depeg.
Karena itu, pertanyaan pertama seharusnya bukan hanya “berapa harganya sekarang?,” melainkan apa yang menjamin nilainya dan bagaimana sistem mengembalikan harga ke peg jika terjadi tekanan?
Periksa Cadangan dan Kemampuan Redemption
Untuk stablecoin yang didukung aset, perhatikan nilai serta komposisi cadangannya. Secara sederhana, investor ingin melihat apakah aset yang menopang stablecoin setidaknya sebanding dengan kewajiban token yang beredar.
Namun, jumlah cadangan atau reserve saja belum cukup. Likuiditas aset cadangan juga penting. Aset yang nilainya tinggi tetapi sulit dijual dengan cepat dapat menjadi masalah jika banyak pemegang meminta redemption secara bersamaan.
BIS Innovation Hub melalui Project Pyxtrial secara khusus meneliti cara memantau neraca stablecoin asset-backed untuk mengetahui apakah aset yang menjadi backing melebihi liabilitasnya. BIS juga menyoroti tantangan karena informasi reserve yang dipublikasikan issuer memiliki format, frekuensi dan tingkat granularitas yang berbeda.
Setelah reserve, cek mekanisme redemption. Kemampuan menukar stablecoin kembali ke aset acuannya merupakan salah satu bagian penting dari mekanisme arbitrase yang menjaga peg.
Jika stablecoin diperdagangkan sedikit di bawah US$1 tetapi dapat di-redeem seharga US$1, pelaku pasar memiliki insentif membeli token tersebut dan menukarkannya kembali.
Sebaliknya, gangguan redemption dapat memperlemah mekanisme yang biasanya menarik harga kembali menuju peg. Hubungan antara redemption, pasar primer dan harga sekunder ini juga terlihat dalam analisis The Fed terhadap pasar stablecoin.
Pantau Supply, Mint-Burn dan Likuiditas DEX
Tanda risiko depeg stablecoin berikutnya dapat dicari dari perubahan supply. Aktivitas mint dan burn memberikan petunjuk mengenai issuance serta redemption yang terjadi di pasar primer.
Burn besar tidak otomatis berarti sebuah stablecoin sedang bermasalah. Namun, jika supply menyusut cepat bersamaan dengan tekanan harga, peningkatan redemption, atau munculnya masalah pada backing, sinyal tersebut layak diperhatikan lebih serius.
Pembaca dapat menggunakan dashboard seperti DefiLlama Stablecoins untuk membandingkan circulating supply, inflow dan persentase penyimpangan peg berbagai stablecoin. Data ini sebaiknya dipakai sebagai alat pemantauan, bukan indikator tunggal untuk menyimpulkan stablecoin akan runtuh.
Likuiditas DEX juga dapat memberi konteks tambahan. Dalam pool berisi dua stablecoin, tekanan jual yang besar terhadap salah satunya dapat membuat komposisi pool menjadi semakin tidak seimbang.
Mekanisme tersebut terlihat jelas dalam dokumentasi Curve mengenai PegKeeper crvUSD. Curve menjelaskan bahwa keseimbangan token di liquidity pool menjadi bagian dari mekanisme yang digunakan untuk membantu mengarahkan crvUSD kembali menuju peg.
Karena itu, kombinasi harga mulai menjauh dari US$1, pool semakin timpang, supply turun dan redemption meningkat jauh lebih informatif daripada hanya melihat satu candle harga.
Cari Risiko yang Berasal dari Stablecoin atau Aset Lain
Risiko depeg stablecoin juga dapat berasal dari keterkaitan dengan aset lain. Sebuah stablecoin bisa bergantung pada stablecoin lain sebagai collateral, menggunakan aset kripto volatil, atau bergantung pada strategi derivatif tertentu.
Contohnya, USDe memiliki struktur berbeda dari stablecoin berbasis simpanan dolar tradisional. Ethena menyediakan indikator seperti backing ratio, mint/redeem availability, proof of reserves dan custodian attestations untuk membantu pengguna melihat kondisi backing USDe.
Artinya, sebelum menyimpan dana dalam stablecoin, cari tahu bukan hanya siapa penerbitnya, tetapi juga aset apa yang menjadi backing, di mana aset tersebut disimpan, bagaimana mekanisme likuidasinya, dan apa yang terjadi jika collateral kehilangan nilai.
Kasus USDC Tunjukkan Mengapa Backing Sangat Penting
Peristiwa USDC pada Maret 2023 memberikan contoh nyata bagaimana risiko backing dapat berkembang menjadi depeg.
The Fed mencatat Circle mengungkap bahwa sekitar US$3,3 miliar cadangan USDC berada di Silicon Valley Bank (SVB) ketika bank tersebut gagal. Pengungkapan itu memicu redemption besar dan USDC sempat turun hingga sekitar US$0,87 sebelum akhirnya kembali menuju peg.
Circle kemudian menyatakan dana US$3,3 miliar tersebut setara sekitar 8 persen dari total reserve saat itu dan akan tersedia setelah regulator AS menjamin deposan SVB.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa mendeteksi depeg stablecoin tidak cukup dengan menatap harga. Investor perlu membaca rangkaian indikator secara bersama-sama, yakni kualitas backing, akses terhadap reserve, kelancaran redemption, perubahan supply, kondisi likuiditas, dan keterkaitan dengan aset lain.
Tidak ada satu indikator yang dapat memastikan stablecoin akan kehilangan peg. Namun, semakin banyak tanda tekanan muncul secara bersamaan, semakin kuat alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih dalam sebelum menempatkan dana dalam jumlah besar.
Dengan pendekatan tersebut, pembaca tidak hanya mengetahui stablecoin sudah depeg setelah harga jatuh, tetapi dapat mengenali sumber risikonya lebih awal. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


