Dugaan keterlibatan kelompok hacker Korea Utara (Korut) dalam peretasan Binance senilai US$6,3 miliar semakin menguat setelah investigator blockchain menemukan hubungan baru dengan kasus pencurian aset kripto di Bitget pada September lalu.
Petunjuk tersebut muncul ketika dana hasil kedua serangan terdeteksi mengalir menuju alamat wallet yang sama setelah melewati protokol lintas jaringan THORChain. Temuan ini menambah bukti yang mengarah kepada TraderTraitor, kelompok peretas yang sebelumnya dikaitkan dengan sejumlah pencurian kripto besar.
Investigasi terbaru tersebut diungkap oleh ZachXBT pada Jumat (30/10/2026), bersamaan dengan laporan perusahaan analitik blockchain TRM Labs yang mengatribusikan serangan Binance kepada kelompok hacker Korut dengan tingkat keyakinan tinggi.
Namun demikian, atribusi tersebut masih merupakan penilaian investigator keamanan, bukan konfirmasi resmi mengenai identitas pelaku dari aparat penegak hukum dalam kasus Binance.
Jejak Dana Dua Peretasan Bertemu di Satu Wallet
Melalui unggahannya di media sosial, ZachXBT melaporkan bahwa sebagian dana terkait eksploitasi Binance dan Bitget ditemukan bercampur pada satu alamat setelah dipindahkan melalui THORChain.
Alamat yang diidentifikasi adalah 0x15104a9ce0f08a8f0075a0869ae80e795fe0feb7.
ZachXBT menilai pertemuan aliran dana tersebut mengindikasikan kemungkinan kedua insiden melibatkan pelaku yang sama.
Keterkaitan ini menarik karena Bitget sebelumnya mengalami pencurian aset senilai sekitar US$387 juta pada 24 September 2026, yang telah dihubungkan dengan aktor ancaman Korea Utara.
Berdasarkan investigasi Chainalysis yang diterbitkan pada 1 Oktober, dana hasil peretasan Bitget sempat bergerak melalui berbagai jaringan dan protokol pertukaran.
Chainalysis menemukan bahwa pelaku memanfaatkan fasilitas likuiditas lintas blockchain untuk memindahkan aset, termasuk mengonversi XRP menjadi Bitcoin tanpa harus melalui bursa terpusat (CEX).
Pergerakan tersebut kemudian ditelusuri menggunakan data transaksi lintas jaringan guna mengidentifikasi alamat penerima berikutnya.
Meski begitu, pertemuan dana pada satu wallet tidak otomatis membuktikan siapa operator sebenarnya. Kesimpulan tersebut tetap memerlukan pemeriksaan atas riwayat transaksi, kemungkinan penggunaan perantara, dan bukti pendukung lainnya.
Temuan ZachXBT juga tidak berarti seluruh US$6,3 miliar dari Binance dan US$387 juta dari Bitget telah dipindahkan ke alamat tersebut.
TRM Labs Temukan Pola Serangan yang Mirip TraderTraitor
Petunjuk tambahan datang dari laporan investigasi TRM Labs, yang secara langsung menghubungkan peretasan Binance dengan TraderTraitor.
Perusahaan tersebut menyatakan atribusinya didasarkan pada kombinasi intelijen on-chain dan off-chain, dengan tingkat keyakinan high confidence.
Menurut TRM Labs, persiapan serangan telah berlangsung sedikitnya 36 jam sebelum aset Binance mulai dikuras.
Wallet yang digunakan untuk mengoperasikan serangan menerima tiga penarikan kecil dari Tornado Cash sejak 28 Oktober. Penyerang kemudian menyiapkan kode berbahaya, mengujinya pada sejumlah wallet, dan melakukan simulasi sebelum eksekusi utama.
Di Ethereum, pelaku menggunakan 50 otorisasi EIP-7702 yang telah ditandatangani sebelumnya untuk mengendalikan fungsi salah satu hot wallet Binance.
Sementara itu, sejumlah wallet Binance pada jaringan lain mengirimkan dana melalui transaksi dengan tanda tangan yang valid.
TRM menilai pola tersebut menunjukkan kemungkinan penyerang memperoleh akses terhadap infrastruktur penandatanganan transaksi Binance, bukan hanya mengeksploitasi satu smart contract.
Sejumlah karakteristik serangan juga dinilai menyerupai kasus peretasan Bybit dan Kelp DAO, terutama penggunaan Tornado Cash untuk mendanai wallet operasional serta persiapan transaksi jauh sebelum pencurian.
Meski terdapat kemiripan, TRM mencatat bahwa metode pemindahan dana Binance sejauh ini berbeda dari pola pencucian aset yang dilakukan setelah kasus Bybit.
FBI Pernah Kaitkan TraderTraitor dengan Peretasan Bybit
Nama TraderTraitor bukan pertama kalinya muncul dalam penyelidikan pencurian aset kripto berskala besar.
Pada 26 Februari 2025, FBI secara resmi menyatakan bahwa Korut bertanggung jawab atas pencurian sekitar US$1,5 miliar dari bursa Bybit.
FBI menggunakan sebutan TraderTraitor untuk aktivitas siber Korut yang berkaitan dengan insiden tersebut.
Dalam kasus Bybit, pelaku diketahui memindahkan aset curian melalui ribuan alamat blockchain dan mengonversi sebagian dana menjadi Bitcoin serta aset kripto lainnya untuk mempersulit pelacakan.
Namun, konfirmasi FBI terhadap insiden Bybit tidak dapat langsung dianggap sebagai konfirmasi resmi mengenai pelaku peretasan Binance.
Sementara itu, Binance melalui pernyataan keamanan resminya menyebut hasil investigasi awal mengarah pada kemungkinan kompromi laptop seorang insinyur DevOps.
Akses tersebut diduga memungkinkan penyerang masuk ke salah satu layanan internal dan mengirimkan transaksi penarikan tanpa izin.
Binance menyatakan belum menemukan bukti kebocoran kunci privat wallet dan masih bekerja sama dengan mitra intelijen blockchain serta aparat penegak hukum untuk mengidentifikasi pelaku.
Dengan demikian, dugaan keterlibatan TraderTraitor kini memperoleh dukungan dari dua jalur investigasi, yaitu analisis pola serangan oleh TRM Labs dan pertemuan aliran dana Binance–Bitget yang diungkap ZachXBT.
Keduanya memperkuat arah penyelidikan terhadap kelompok hacker Korut, tetapi identitas serta keterlibatan langsung pelaku masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari hasil investigasi resmi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


