Anggaran negara biasanya bicara pendidikan, pangan, infrastruktur, dan perlindungan sosial. Namun, mari sedikit berandai-andai: bagaimana jika lima persen RAPBN 2027 dialokasikan untuk membeli Bitcoin?
Ini bukan usulan kebijakan, melainkan simulasi angka sederhana untuk melihat seberapa besar daya beli suatu negara, sekaligus seberapa besar untung dan rugi jika Bitcoin bergerak liar.
RAPBN 2027 Tembus Rp4.000 Triliun
Angka awal RAPBN 2027 Rp4.097 triliun sempat menarik perhatian karena membawa belanja negara menembus level Rp4.000 triliun. Saat itu, pemerintah mengusulkan total belanja sebesar Rp4.097,2 triliun untuk 2027.
Namun, angka tersebut berubah setelah melalui pembahasan bersama DPR. Pada Selasa (29/09/2026), RUU APBN 2027 akhirnya disetujui menjadi undang-undang dengan total belanja negara sebesar Rp4.106,3 triliun.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bahwa besarnya angka tersebut membawa tanggung jawab besar. APBN diarahkan untuk menjaga momentum pembangunan, sekaligus memastikan pengelolaan anggaran berjalan hati-hati.
“Angka-angka ini bukan sekadar target fiskal. Di baliknya terdapat tanggung jawab pemerintah untuk menjaga momentum pembangunan, sekaligus memastikan setiap rupiah dikelola secara hati-hati dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Indonesia,” tegas Menkeu.

Nah, dari angka fantastis tersebut itulah simulasi ini dimulai. Dengan memakai belanja final Rp4.106,3 triliun, bagaimana jadinya jika lima persen saja secara hipotesis dialokasikan untuk membeli BTC?
Kalau 5 Persen Masuk Bitcoin, Dapat Berapa BTC?
Lima persen dari Rp4.106,3 triliun menghasilkan angka sekitar Rp205,315 triliun. Dengan kurs simulasi Rp17.700 per dolar AS, nilainya setara kurang lebih US$11,60 miliar untuk digunakan membeli BTC.
Selanjutnya, tinggal menentukan harga masuknya. Dengan harga Bitcoin hari ini bergerak di kisaran US$83.000 hingga US$85.000, dana tersebut secara matematis cukup untuk membeli sekitar 136 ribu hingga 140 ribu BTC.
Jika dirinci per titik harga, selisih US$2.000 saja sudah mengubah jumlah kepemilikan beberapa ribu BTC. Gambaran kasarnya terlihat seperti ini dalam simulasi pembelian sekaligus oleh negara:
- BTC US$83.000: sekitar 139.756 BTC
- BTC US$84.000: sekitar 138.092 BTC
- BTC US$85.000: sekitar 136.467 BTC
Dengan kata lain, dengan hanya bermodalkan lima persen dari RAPBN 2027, Indonesia dalam skenario khayalan ini sudah bisa mengantongi Bitcoin dalam jumlah yang sangat besar.
Angka tersebut tentu belum memasukkan slippage, kedalaman likuiditas, biaya eksekusi, maupun dampak pasar. Memborong Bitcoin senilai US$11,6 miliar dalam praktik jelas tidak sesederhana menekan tombol buy.
Indonesia Bisa Jadi Negara Pemegang BTC Terbesar Ketiga?
Jumlah 136 ribu sampai 140 ribu BTC terasa absurd ketika disejajarkan dengan kepemilikan pemerintah lain. Berdasarkan tabel BitcoinTreasuries per Sabtu (03/10/2026), Amerika Serikat tercatat memegang 328.372 BTC.
China berada di posisi kedua dengan 190.000 BTC, kemudian Inggris 61.245 BTC dan Ukraina 46.351 BTC. El Salvador, negara yang dikenal mengadopsi Bitcoin, tercatat memiliki 7.792 BTC.
Artinya, jika seluruh asumsi tadi benar dan kepemilikan negara lain tidak berubah, Indonesia secara matematis langsung menyelip ke posisi ketiga, berada di bawah China tetapi jauh melampaui Inggris.
Jaraknya juga tidak tipis. Dengan sekitar 136 ribu hingga 140 ribu BTC, kepemilikan hipotetis Indonesia akan lebih dari dua kali lipat jumlah Bitcoin milik Inggris dalam tabel tersebut.

Tetapi perbandingannya perlu dibaca dengan hati-hati. Kepemilikan pemerintah tidak selalu berasal dari investasi BTC, karena sebagian Bitcoin negara lain berasal dari penyitaan ataupun mekanisme berbeda.
Kalau Setahun Lagi Bitcoin Tembus US$100.000?
Bagian menarik muncul ketika harga Bitcoin bergerak setelah pembelian. Misalnya, seluruh alokasi masuk saat BTC berada di kisaran US$83.000 hingga US$85.000, lalu setahun kemudian harganya naik ke US$100.000.
Kalau Skenario Manis Terjadi
Dengan asumsi kurs tetap Rp17.700, nilai portofolio akan naik menjadi sekitar Rp241,55 triliun sampai Rp247,37 triliun. Keuntungan belum terealisasi berarti sekitar Rp36,23 triliun hingga Rp42,05 triliun.
Itu berarti kenaikannya berkisar 17,6 persen hingga 20,5 persen, tergantung harga pembelian BTC awal. Secara nominal, keuntungan investasi crypto RI bahkan sudah mencapai puluhan triliun rupiah hanya dalam satu tahun.
Tapi Kalau Bitcoin Malah Jatuh?
Namun, Bitcoin juga punya sisi sebaliknya. Jika harga BTC justru turun ke angka US$60.000, nilai kepemilikan tadi akan menyusut menjadi sekitar Rp144,93 triliun sampai Rp148,42 triliun saja.
Kerugian belum terealisasi pada skenario tersebut mencapai sekitar Rp56,89 triliun hingga Rp60,39 triliun. Jadi, volatilitas Bitcoin dapat mengubah simulasi yang terlihat menggiurkan menjadi kerugian besar.
Wacana Cadangan Bitcoin RI Sebenarnya Pernah Muncul
Skenario ini sebenarnya tidak sepenuhnya khayalan. Pada Mei 2025, OJK pernah merespons usulan pelaku industri agar Danantara mempertimbangkan Bitcoin sebagai bagian dari cadangan strategis negara.
OJK saat itu menyebut gagasan tersebut inovatif, tetapi perlu ditelaah secara hati-hati. Beberapa bulan kemudian, komunitas Bitcoin Indonesia juga sempat diundang ke Kantor Wakil Presiden.
Pertemuan ini memicu spekulasi mengenai rencana cadangan Bitcoin nasional. Namun, Bitcoin Indonesia kemudian menegaskan bahwa tidak ada pembahasan khusus mengenai penggunaan BTC sebagai cadangan nasional saat itu.
Artinya, sampai konteks pemberitaan tersebut, belum ada kebijakan konkret dari pemerintah Indonesia untuk menjadikan Bitcoin sebagai cadangan nasional, apalagi mengalokasikan lima persen APBN untuk membelinya.
Karena itu, hitungan lima persen APBN membeli Bitcoin tetap simulasi. Angkanya memang besar, tetapi sisi untung dan rugi memperlihatkan betapa agresifnya risiko keputusan semacam itu.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


