Fenomena airdrop kembali ramai dibicarakan setelah seorang pemburu airdrop asal Indonesia membagikan pengalamannya. Ia sempat meraup jutaan hingga puluhan juta rupiah dari proyek kripto gratisan, hingga akhirnya memutuskan mundur dari pekerjaan tetapnya.
Keputusan itu diambil karena yakin program airdrop kripto bisa menjadi sumber penghasilan utama. Namun, di balik cerita cuan tersebut, tersimpan pelajaran penting tentang risiko dan ekspektasi yang tak selalu berjalan sesuai rencana.
Dari Lunar Crush hingga JP Ribuan Dolar
Cerita ini bermula dari cuitan seorang airdrop hunter bernama Sayz. Lewat tweet yang diunggah pada Rabu (18/02/2026), ia mengaku mulai terjun ke dunia airdrop sejak 2021. Proyek pertamanya adalah “Lunar Crush”, dengan hadiah bernilai jutaan rupiah.
“Jujur ane awal terjun di dunia airdrop itu pada tahun 2021 & garapan pertama ane dulu namanya ‘lunar crush’ dan pada saat itu JP 2jt+ tapi ga dilanjutin karena ada beberapa hambatan yang gabisa ane ceritain,” tulisnya.

Setelah vakum, Sayz kembali mencoba peruntungan pada 2024. Ia mengeksplorasi berbagai peluang airdrop kripto menjelang akhir tahun dan hasilnya cukup mengejutkan. Pada 2025, ia mengaku berhasil mengantongi lebih dari US$5.000 atau setara puluhan juta rupiah.
Momentum itulah yang mengubah arah hidupnya. Dengan keyakinan bahwa airdrop bisa menjadi sumber penghasilan yang lebih besar dibandingkan pekerjaan kantoran, ia mengambil keputusan besar: resign dari pekerjaan di dunia nyata dan fokus airdrop crypto.
Realita Airdrop Tak Seindah Ekspektasi
Namun, keputusan ini ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Pemburu airdrop asal Indonesia itu mengakui ekspektasinya terlalu tinggi. Ia sempat mengira pendapatan dari airdrop kripto akan terus stabil, bahkan meningkat dari waktu ke waktu. Kenyataannya, tidak demikian.
“Resign dari kerjaan di real life dan fokus dengan airdrop yang bisa mendapatkan pendapatan lebih dari sini. Itu dulu ane mikirnya begitu, tapi harapan yang ane mau ga sesuai kenyataan. Jangan salah langkah kaya ane ya,” tulisnya, disertai nada bercanda.
Ia kemudian memberikan pesan kepada komunitas. Menurutnya, airdrop crypto sebaiknya diposisikan sebagai passive income, bukan penghasilan utama. Fluktuasi pasar, ketidakpastian distribusi token, hingga potensi proyek gagal menjadi risiko yang nyata.
Airdrop Fantastis, Tapi Tak Selalu Konsisten
Sejarah memang mencatat sejumlah airdrop dengan hadiah fantastis. Uniswap (UNI) pernah membagikan token dengan nilai puluhan juta rupiah. Hal serupa juga terjadi pada Arbitrum (ARB) dan Ethereum Name Service (ENS) yang membuat hunter meraih keuntungan besar.
Namun, tidak semua proyek yang berakhir manis. Banyak airdrop bernilai kecil, tertunda distribusinya, atau bahkan tidak pernah terealisasi. Ketidakpastian ini menjadi risiko yang tak bisa diabaikan.
Di sisi lain, jumlah pemburu airdrop yang terus bertambah membuat persaingan semakin ketat. Syarat partisipasi pun kian kompleks, mulai dari aktivitas on-chain tertentu hingga kebutuhan modal awal yang tidak sedikit.
Kisah Sayz menjadi pengingat bahwa euforia kripto perlu diimbangi manajemen risiko yang matang. Peluang besar memang ada, tetapi menjadikannya satu-satunya sumber penghasilan tanpa perhitungan yang rasional bisa berujung pada penyesalan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



