Aktivitas investor ritel di pasar Bitcoin dilaporkan jatuh ke level terendah sepanjang sejarah. Penurunan tersebut terlihat dari anjloknya arus masuk atau inflow Bitcoin milik investor kecil ke Binance yang kini hanya berada di kisaran 314 BTC per bulan.
Data itu diungkap analis on-chain Darkfost di CryptoQuant, yang menjelaskan bahwa investor ritel yang dimaksud merupakan pemegang aset dengan kepemilikan di bawah 1 BTC.
Menurut analis tersebut, aktivitas kelompok investor tersebut terus menyusut dari waktu ke waktu, bahkan jauh lebih rendah dibanding beberapa siklus pasar sebelumnya.

Pada fase bearish di siklus ini, rata-rata inflow atau arus masuk ritel masih sempat berada di sekitar 1.800 BTC. Saat puncak pasar pertama pada Maret 2024, angkanya juga masih berada di sekitar 1.200 BTC.
Sebagai perbandingan, inflow ritel ke Binance pernah mencapai sekitar 5.400 BTC pada 2018 dan 2.600 BTC pada 2021. Sementara pada Januari 2024 lalu, arus masuk investor kecil masih berada di sekitar 1.000 BTC sebelum akhirnya merosot lebih dari tiga kali lipat dalam kurun dua tahun terakhir.
“Investor ritel kini menjadi kelompok paling tidak aktif dalam sejarah modern Bitcoin,” ujar Darkfost.
Penurunan aktivitas tersebut dinilai mencerminkan perubahan besar dalam struktur pasar Bitcoin. Sebagian investor kecil disebut kemungkinan sudah meninggalkan pasar aset digital, sementara sebagian lainnya mulai beralih ke instrumen yang dianggap lebih praktis seperti Bitcoin ETF spot dibanding menyimpan BTC langsung di wallet pribadi maupun bursa.
Di tengah melemahnya partisipasi investor ritel, harga Bitcoin sendiri masih berada dalam tekanan. Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di kisaran US$77.075, setara Rp1,35 miliar.
Dalam 24 jam terakhir, aset tersebut tercatat turun sekitar 0,94 persen, sementara dalam tujuh hari terakhir melemah sekitar 6,10 persen. Kapitalisasi pasar BTC saat ini berada di sekitar US$1,54 triliun.
Tekanan Bearish Dinilai Belum Selesai
Sejumlah analis lain juga mulai memperingatkan potensi tekanan bearish lanjutan pada Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan. Analis Aralez menilai siklus bear market Bitcoin sejak 2011 rata-rata berlangsung sekitar 395 hari.

Berdasarkan pola historis tersebut, ia memperkirakan fase bottom utama Bitcoin kemungkinan masih sekitar 220 hari lagi. Dalam proyeksinya, area harga US$45 ribu hingga US$52 ribu disebut berpotensi menjadi zona bottom siklus berikutnya apabila tekanan pasar terus berlanjut.
Pandangan serupa juga datang dari analis teknikal Klarck yang melihat Bitcoin sedang membentuk pola Wyckoff Accumulation. Dalam analisisnya, Bitcoin dinilai kemungkinan baru menyelesaikan fase Automatic Rally setelah sempat mencapai puncak lokal di area US$82.500.

Klarck menjelaskan bahwa fase tersebut secara historis sering diikuti kelanjutan tekanan turun sebelum proses akumulasi besar selesai terbentuk. Ia memproyeksikan roadmap pergerakan Bitcoin dapat dimulai dari penurunan menuju area US$60 ribu, lalu masuk ke fase Secondary Test sebelum rebound kembali ke atas US$75 ribu.
Namun setelah itu, Klarck menilai pasar masih berpotensi mengalami sapuan likuiditas atau liquidity sweep terakhir untuk membentuk bottom makro baru sebelum akhirnya memasuki fase pemulihan perlahan atau Last Point of Support (LPS).
Struktur Pasar Bitcoin Dinilai Berubah
Meski tekanan jangka pendek masih mendominasi, Klarck melihat struktur jangka panjang Bitcoin tetap memiliki peluang pemulihan setelah proses akumulasi selesai. Dalam skenario bullish jangka panjangnya, BTC diperkirakan berpotensi kembali menembus area US$90 ribu apabila breakout besar berhasil terjadi pada tahap akhir pola Wyckoff tersebut.
Perubahan perilaku investor ritel yang kini semakin pasif juga disebut menjadi salah satu tanda bahwa struktur pasar Bitcoin terus berevolusi. Jika sebelumnya pergerakan pasar sangat didominasi trader individu dan spekulasi ritel, kini arus modal institusional serta produk investasi seperti ETF mulai memainkan peran yang jauh lebih besar.
Kondisi itu membuat dinamika pasar Bitcoin dinilai semakin berbeda dibanding siklus-siklus sebelumnya, termasuk dalam pola distribusi likuiditas, pergerakan on-chain, hingga perilaku investor yang kini cenderung lebih banyak menggunakan jalur investasi tradisional dibanding kepemilikan aset kripto secara langsung.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


